Beranda Mining Geology Survey Minerals Heavy Equipment Surface Mining Kamus Tambang Minescape Surpac Mining Act Mining Live Download

Popular

Latest News

Welcome To Boss Tambang

Beranda » Heavy Equipment » Heavy Equipment

Heavy Equipment (5)

RSS Feed

Results 1 - 5 of 5

1. Perhitungan Produksi
  • Currently 1.20/5
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
1.2/5 (5 votes)
Heavy Equipment/Heavy Equipment
Author:Administrator
Tags: perhitungan produksi, alat berat, heavy equipment, tambang
Produksi pemindahan alat-alat mekanis dapat dihitung dengan beberapa cara yaitu tergantung dari ketelitian yang dikehendaki, yang umum dipergunakan adalah :

1. Perhitungan Langsung (Direct Computation)

Yaitu suatu cara perhitungan dalam memperhatikan tiap-tiap faktor yang mempengaruhi produksi untuk menentukan volume asli (pay load) atau ton yang dihasilkan oleh masing-masing alat yang digunakan. Cara ini ternyata yang paling teliti dari yang lainnya, karena semua kondisi yang mungkin dihadapi sudah diperhitungkan berdasarkan data lapangan yang tersedia.

2. Tabular Method

Adalah suatu cara perhitungan dengan mempergunakan keterangan-keterangan dan data yang berbentuk table-tabel yang khas untuk masing-masing alat dan diambil dari pengalaman-pengalaman sebelumnya yang memiliki sifat pekerjaan yang kira-kira serupa. Kadang-kadang juga dilengkapi dengan data berupa grafik dan diagram yang diperoleh dari hasil percobaan yang dilakukan oleh pabrik pembuat alat-alat tersebut.

Pada cara ini semua pekerjaan sifatnya disama ratakan sehingga variable yang selalu dimiliki oleh tiap proyek yang jarang dapat disamakan dengan keadaan tempat lain yang dianggap serupa. Sebenarnya hal itu tidak benar, oleh sebab itu cara ini menjadi kurang teliti meskipun cara perhitungan lebih sederhana.

3. Slide Rule Method

Adalah cara perhitungan dengan memakai manufacturer earthmoving calculators dan itu tidak lain dari slide rule khusus yang dibuat untuk tiap-tiap alat dengan memasukan semua prinsip perhitungan yang dipergunakan pada cara perhitungan langsung. Perhitungan menjadi sangat sederhana dan cepat tetapi hasilnya kurang teliti dan kadang-kadang terlalu berlebih-lebihan. Bila cara ini dipakai dengan mempergunakan data untuk pekerjaan yang bersangkutan, akan diperoleh ketelitian yang kira-kira sama dengan cara kedua.

4. Perhitungan Perkiraan (Guesstimating)

Kurang lebih sama dengan cara pertama hanya bagian-bagian yang dianggap tidak begitu penting diabaikan atau disederhanakan sehingga perhitungan-perhitungannya menjadi lebih mudah dan singkat. Hal itu pada umumnya dilakukan dengan mengabaikan beberapa perhitungan yang teliti dan sebagai gantinya diambil angka rata-rata berdasarkan pertimbangan yang menghitungnya.

Kalau yang mengambil keputusan itu orang pengalaman pengambilan angka rata-rata tersebut umumnya tidak banyak menyimpang dari kenyataan yang dihadapi. Tetapi kalau tidak, hasilnya akan sangat menyimpang dari yang dihadapi dilapangan. Pada umumnya cara ini akan mempunyai 2 nilai yaitu :

a. Memperlihatkan perhitungan kasar atau perkiraan untuk suatu pekerjaan tertentu.
b. Menghemat waktu untuk menghitungnya

Berdasarkan pertimbangan bahwa perhitungan langsung (direct computation) adalah cara yang terbaik maka sebanyak mungkin akan diambil contoh-contoh perhitungan dengan cara tersebut. Akan tetapi bila keadaan tidak memungkinkan maka cara tersebut akan dilengkapi dengan perhitungan perkiraan (guesstimating).

Sumber : (Pemindahan Tanah Mekanis, Ir Partanto Projosumarto)
 


[Top]

Friday, 01 May 2009 | 3065 hits | Print | PDF |  E-mail | Report
2. Faktor Produksi
  • Currently 1.40/5
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
1.4/5 (5 votes)
Heavy Equipment/Heavy Equipment
Author:Administrator
Tags: Faktor Produksi, Produksi, Alat Berat, heavy equipment, tambang
Kegiatan penambangan selalu berhubungan dengan alat-alat mekanis. Faktor yang mempengaruhi produksi alat-alat mekanis tersebut adalah sebagai berikut :

1. Tahanan Gali (Digging Resistance)

Adalah tahanan yang dialami oleh alat-alat pada waktu melakukan penggalian meliputi :

a. Gesekan antara alat gali dan Tanah
b. Kekerasan tanah/batuan

2. Tahanan Gulir/Gelinding (Rolling Resistance)

Besarnya tahanan gulir dinyatakan dalam “pounds” lbs dari tractive pull yang diperlukan untuk menggerakkan tiap gross ton berat kendaraan beserta isinya pada jalur jalan mendatar dengan kondisi jalan tertentu.

Keadaan bagian kendaraan yang berkaitan dengan permukaan jalur jalan :

a. Kalau memakai ban karet yang akan berpengaruh adalah ukuran ban, tekanan dan keadaan permukaan bannya apakah masih baru atau gundul dan macam kembangan pada ban tersebut.
b. Jika memakai crawler track maka keadaan dan macam track kurang berpengaruh tetapi yang lebih berpengaruh adalah keadaan jalan.


Tabel Angka-Angka Tahanan Gulir Untuk Berbagai Macam Jalan

 Macam JalanCrawler Type (lb/ton)
Ban Karet 
Tek. Ban TinggiTek. Ban Rendah
Rata-Rata
1. Smooth concrete
55
35
45
40
2. Good aspalt
60 – 70
40 – 65 
50 – 60 
45 – 60 
3. Hard earth, smooth, well maintained
60 – 80
40 – 70
50 – 70
45 – 70
4. Dirt road, average construction road, little  maintenance
70 – 100 
90 – 100
80 – 100
85 – 100
5. Dirt road, soft, rutted, poorly maintained
80 – 110 
100 – 140
70 – 100 
85 – 120
6. Earth, muddy, rutted, no maintenance
140 – 180 
180 – 220
150 – 220
165 – 210
7. Loose sand and gravel
160 – 200 
260 – 290
220 – 260 
240 – 275 
8. Earth, very muddy & soft
200 – 240300 – 400
280 – 340 
290 - 370

3. Tahanan Kemiringan (Grade Resistance)

Yaitu besarnya gaya berat yang melawan atau membantu gerak kendaraan karena kemiringan jalur jalan yang dilaluinya. Kalau jalur jalan itu naik disebut kemiringan positif (plus slope) maka tahanan kemiringan (grade resistance) akan melawan gerak kendaraan sehingga memperbesar tractive effort atau rimpull yang diperlukan. Sebaliknya jika jalur jalan itu turun disebut kemiringan negative (minus slope) maka tahanan kemiringannya akan membantu gerak kendaraan artinya mengurangi rimpull yang dibutuhkan.

Tahanan kemiringan itu terutama tergantung dari dua faktor yaitu :

a. Besarnya kemiringan yang biasanya dinyatakan dalam persen (%). Kemiringan 1 % berarti jalur jalan itu naik atau turun 1 meter untuk tiap jarak mendatar sebesar 100 meter ; atau naik turun 1 ft untuk setiap 100 ft jarak mendatar.

b. Berat kendaraan itu sendiri yang dinyatakan dalam “gross ton”.
Besarnya rimpull untuk mengatasi tahanan kemiringan ini harus dijumlahkan secara aljabar dengan rimpull untuk mengatasi tahanan gulir.

Pengaruh Kemiringan Jalan Terhadap Tahanan Kemiringan

Kemiringan (%)
GR (lb/ton)
Kemiringan (%)
GR (lb/ton)
Kemiringan (%)
GR (lb/ton)
1
20,0
9
179,2
20
392,3
2
40,0
10
199,0
25
485,2
3
60,0
11
218,0
30
574,7
4
80,0
12
238,4
35
660,6
5
100,0
13257,8
40
742,8
6
119,8
14
277,4
45
820,8
7
139,8
15
296,6
50
894,4
8
159,2
    

Akan tetapi perlu diingat bahwa alat-alat pemindahan mekanis itu jarang yang dapat mengatasi kemiringan lebih besar dari 15 %. Jadi kalau dipakai tahanan kemiringan 20 lb/ton/%, maka angka-angkanya tidaklah terlalu menyimpang sampai kemiringan 15 %.

Cara menentukan tahanan kemiringan itu dapat dengan memakai teori mekanika (ilmu pesawat) yang sederhana.

 
Cara Menentukan Tahanan Kemiringan


tahanan kemiringan

Dari gambar diatas terlihat bahwa DEF sebangun ABC, maka :

EF
 BC
 P
 BC
  BC
---
=
---
--->
---
=
---
atau P
= W
---
DF
 AC
 W
 AC
  AC

Bila W = 1 ton = 2.000 lbs

 1 m
 AB
100m/100ft
Sedangkan BC =
-----
dan AC =
---------- =
------------------
 1 ft
 Cos α
Cos α

sedangkan 1 % = 1 / 100  dan cos α = 10  

maka persamaan diatas menjadi :

 1
 
P = 2000 lbs -----------------
= 20 lbs
 1000/Cos 10  

Perlu diingat bahwa kemiringan negative itu selalu membantu mengurangi rimpull kendaraan, maka sedapat mungkin harus diusahakan agar pada waktu alat itu mengangkut muatan melalui jalur jalan yang menurun, sedangkan pada waktu kosong menaiki atau mendaki jalur jalan itu.

Sehingga dengan demikian pada waktu berisi muatan dapat bergerak lebih cepat dan membawa muatan lebih banyak karena rimpull yang diperlukan sudah dikurangi dengan kemiringan negative yang membantu. Ini berarti bahwa sedapat mungkin tempat penimbunan atau tempat membuang material harus dipilihkan yang letaknya lebih rendah pada tempat penggaliannya sendiri.


4. Coefficient of Traction/Tractive Coefficient

Merupakan suatu faktor yang menunjukan berapa dari seluruh berat kendaraan itu pada ban atau track yang dapat dipakai untuk menarik atau mendorong. Jadi harus dikali untuk menunjukan rimpull maksimum antara ban atau track dengan permukaan jalur jalan tepat sebelum selip. Jadi CT itu terutama tergantung :

a. Keadaan ban, yaitu keadaan dan macamnya bentuk kembangan ban tersebut, untuk crawler track tergantung dari keadaan dan bentuk tracknya.
b. Keadaan permukaan jalur jalan, basah atau kering, keras atau lunak, bergelombang atau rata, dst.
c. Berat kendaraan yang diterima oleh roda penggeraknya.

Coefficient of Traction Untuk Bermacam-Macam Keadaan Jalur Jalan

Macam Jalan
 Ban Karet
 Crawler Track
 %
 %
1. Dry, rough concrete
0,80 – 1,00
80 – 100
0,45
45
2. Dry, clay loam
0,50 – 0,70 
50 – 70 
0,90
90
3. Wet, clay loam
0,40 – 0,50
40 – 50
0,70
70
4. Wet sand & gravel
0,30 – 0,40
30 – 40
0,35
35
5. Loose, dry sand
0,20 – 0,30
20 – 30
0,30
30

Contoh perhitungan :

Sebuah kendaraan mempunyai jumlah berat 40.000 lbs (20 ton) yang seluruhnya diterima oleh roda penggeraknya dan akan bergerak pada jalur jalan yang terbuat dari tanah liat yang kering dengan CT = 0,50 (50%), RR = 100 lb/ton dan kemiringan 5 %.

Jawab :

Rimpull yang dapat diberikan oleh mesin kendaraan pada macam jalan seperti diatas sebelum selip bila beban yang diterima roda penggerak 100 % adalah sebesar :

RP/TP/TE/DBP = 40.000 lbs x 0,50 = 20.000 lbs

Sedangkan rimpull untuk mengatasi tahanan kemiringan dan tahanan gulir adalah sebesar :

RP/TP/TE/DBP = Berat kendaraan x GR x kemiringan
20 ton x 20 lbs/ton/% x 5 % = 2.000 lbs

RP/TP/TE/DBP = Berat kendaraan x RR
20 ton x 100 = 2.000 lbs

Jumlah RP/TP/TE/DBP = 4.000 lbs

Maka kendaraan itu pada keadaan jalur jalan tersebut tidak akan selip

Seandainya kendaraan yang sama bergerak pada jalur jalan yang terbuat dari pasir lepas dengan RR 250 lbs/ton dan CT =0,20 serta kemiringan 5 % sedangkan berat kendaraan yang diterima oleh roda penggerak 50 % yaitu :

Untuk mengatasi RR :

RP/TP/TE/DBP = 20 ton x 250 lbs/ton = 5.000 lbs
 
Untuk mengatasi GR :

RP/TP/TE/DBP = 20 ton x 20 lbs/ton/% x 5 % = 2.000 lbs
 
Jumlah RP/TP/TE/DBP = 7.000 lbs

Sedangkan rimpull yang dapat diterima oleh kendaraan 50 % nya adalah :

40.000 lbs x 0,20 x 50 % = 4.000 lbs,

maka kendaraan tersebut tidak akan dapat bergerak atau selip.

5. Rimpull/Tractive Pull/Tractive Effort/Drawbar Pull

Merupakan besarnya kekuatan tarik (pulling force) yang dapat diberikan oleh mesin suatu alat kepada permukaan jalur jalan atau ban penggeraknya yang menyentuh permukaan jalur jalan. Bila coeffisien of traction cukup tinggi untuk menghindari terjadinya selip maka rimpull maksimum adalah fungsi dari tenaga mesin (HP) dan gear ratios (persnelling) antara mesin dan roda-rodanya, tetapi jika selip maka rimpull maksimum akan sama dengan besarnya tenaga pada roda penggerak dikalikan coeffisien of traction.

Rimpull biasanya dinyatakan dalam pounds (lbs) dan dihitung dengan rumus :

 HP x 375 x effesiensi mesin
RP =
----------------------------------------
 kecepatan, mph

dimana :
RP = Rimpull atau kekuatan tarik (lb)
HP = Tenaga mesin, HP
375 = Angka konversi

Istilah rimpull itu hanya dipakai untuk kendaraan yang beroda ban karet, untuk yang memakai roda rantai (crawler track) maka istilah yang dipakai ialah drawbar pull (DBP).
 
Kecepatan Maksimum Pada Tiap-Tiap Gigi (Gear)

Kendaraan Roda Ban Karet 140 HP
Crawler Track/Tractor 15 ton
Kecepatan (mph)
RP (lb)
Kecepatan (mph)
RP (lb)
3,25
13.730
1,72
28.019
7,10
6.285
2,18
22.699
12,48
3.576
2,76
17.265
21,54
2.072
3,50
13.769
33,86
1.319
4,36
10.074
  7,00
5.579

6. Percepatan (Acceleration)

Merupakan waktu yang diperlukan untuk mempercepat gerak kendaraan dengan memakai kelebihan rimpull yang tidak digunakan untuk menggerakkan kendaraan pada keadaan jalur jalan tertentu. Lamanya waktu yang diperlukan untuk mempercepat gerak kendaraan tergantung dari beberapa faktor yaitu :

a. Berat kendaraan, semakin berat maka semakin lama waktu yang digunakan untuk mempercepat gerak kendaraan

b. Kelebihan rimpull yang ada, semakin besar rimpull yang berlebihan semakin cepat kendaraan itu dapat dipercepat. Jadi kalau kelebihan rimpull itu tidak ada maka percepatan pun tidak akan timbul artinya kendaraan tersebut tidak bisa dipercepat.

Untuk menghitung percepatan secara tepat dapat diperkirakan dengan rumus newton yaitu :

 W
  Fg
F =
------ α
atauα =
--- 
 g
  W

dimana :

F = Kelebihan rimpull (lbs)
g = Percepatan karena gaya grafitasi (32,2 ft per sec2)
W = Berat alat yang harus dipercepat (lbs)

Cara lain untuk menghitung percepatan secara tidak langsung adalah dengan menghitung kecepatan rata-ratanya. Rumus sederhana yang dipakai adalah :

Kecepatan rata-rata   =   Kecepatan maximal   x   Faktor kecepatan

Faktor kecepatan dipengaruhi jarak yang ditempuh kendaraan, semakin jauh jaraknya maka semakin besar factor kecepatan kendaraan tanpa memperhatikan bagaimana keadaan jalur jalan yang dilalui.

Faktor Kecepatan
 
Jarak Yang Ditempuh (ft)
Faktor Kecepatan
500 – 1.000
0,46 – 0,78
1.000 – 1.500
0,59 – 0,82
1.500 – 2.000
0,65 – 0,82
2.000 – 2.500
0,69 – 0,83
2.500 – 3.000
0,73 – 0,83
3.000 – 3.500
0,75 – 0,84
3.500 – 4.000
0,77 – 0,85
 
Contoh :

Sebuah kendaraan bergerak diatas suatu jalur jalan sehingga memiliki kecepatan maksimum 12,48 mph pada gigi ketiga. Bila jarak yang ditempuh adalah 1.250 ft berarti faktor kecepatannya = 0,70 (lihat tabel diatas), maka kecepatan rata-ratanya adalah : 12,48   x   0,70   =   8,74 mph.


7. Ketinggian Permukaan Air Laut (Altitude or Elevation)

Ketinggian letak suatu daerah ternyata berpengaruh terhadap hasil kerja mesin-mesin karena mesin-mesin tersebut bekerjanya dipengaruhi oleh tekanan dan temperatur udara luar. Semakin rendah tekanan udaranya maka semakin sedikit jumlah oksigennya.

Dari pengalaman ternyata untuk mesin 4 tak (four cycle engines) maka kemerosotan tenaga karena berkurangnya tekanan, rata-rata adalah ± 3% dari HP diatas permukaan air laut untuk setiap kenaikan tinggi 1.000 ft kecuali 1.000 ft yang pertama. Sedangkan untuk mesin 2 tak ternyata kemerosotan lebih kecil yaitu sebesar ± 1% dari HP diatas permukaan air laut untuk setiap kenaikan tinggi 1.000 ft kecuali 1.000 ft yang pertama.

Contoh :

Sebuah mesin 4 tak dan 2 tak dengan tenaga 100 HP diatas permukaan air laut pada ketinggian 10.000 ft hanya akan memiliki HP sebesar :
  
 3% x 100 x (10.000 - 1.000)
 
100 - 
--------------------------------------
= 73
 1.000
 
 1% x 100 x (10.000 - 1.000)
 
100 - 
--------------------------------------
= 91
 1.000
 


Akan tetapi semakin tinggi letak tempat itu maka temperaturnya semakin rendah dan hal ini akan membantu mesin menaikkan hasil kerja mesin-mesin bakar (bensin dan diesel). Untuk menghitung pengaruh temperature udara biasanya dihitung dengan suatu rumus dimana sudah diperhitungkan pengaruh tekanannya pula, yaitu :
 

 Ps
 To
Ho =
----
√ ----
 Po
 Ts
 
Dimana :

Hc    = HP yang harus dikoreksi dari pengaruh ketinggian yaitu pada ketinggian 0 ft
Ho     = HP yang dicatat pada ketinggian tertentu
Ps     = Tekanan barometer baku (standart), 29,92 inciHg
Po     = Tekanan barometer pada ketinggian tertentu, inciHg
Ts     = Temperatur absolute pada keadaan baku (standart), (4600 + 600 F) = 5200 F (=2730 C)
To     = Temperatur absolute pada ketinggian tertentu dalam 0 F atau (460 + Temp)

8. Efisiensi Operator (Operator Efficiency)

Merupakan faktor manusia yang menggerakkan alat-alat yang sangat sukar untuk ditentukan effisiensinya secara tepat karena selalu berubah-ubah dari hari ke hari bahkan dari jam ke jam tergantung dari keadaan cuaca, keadaan alat yang dikemudikan, suasana kerja, dll. Kadang-kadang suatu perangsang dalam bentuk upah tambahan (insentive) dapat mempertinggi effisiensi operator.

Sebenarnya effisiensi operator tidak hanya disebabkan karena kemalasan pekerjaan itu tetapi juga karena kelambatan-kelambatan dan hambatan-hambatan yang tak mungkin dihindari seperti melumasi kendaraan, mengganti yang aus, membersihkan bagian-bagian penting sesudah sekian jam dipakai, memindahkan ketempat lain, tidak adanya keseimbangan antara alat muat dan alat angkut, menunggu peledakan disuatu daerah yang akan dilalui, perbaikan jalan, dll.

Karena hal-hal tersebut diatas selama satu jam jarang ada operator betul-betul dapat bekerja selama 60 menit. Berdasarkan pengalaman maka bila operator dapat bekerja selama 50 menit dalam satu jam, ini berarti effisiensinya adalah 83 %, maka hal ini dianggap baik sekali jika alatnya berban karet. Sehubungan dengan effisiensi operator diatas maka perlu juga diingat keadaan alat mekanisnya karena hal tersebut mempengaruhi effisiensinya.
 
Operator Efficiency
 
Macam Alat
Effisiensi
Baik Sekali
Sedang

Kurang Baik

(Malam Hari)

Crawler Tracktor
92 % = 55 min/jam
83 % = 50 min/jam
75 % = 45 min/jam
Berban Karet
83 % = 50 min/jam
75 % = 45 min/jam
67 % = 40 min/jam

Beberapa pengertian yang dapat menunjukan keadaan alat mekanis dan effektifitas penggunaannya antara lain :

a. Availability Index atau Mechanical Availability

Merupakan suatu cara untuk mengetahui kondisi mekanis yang sesungguhnya dari alat yang sedang dipergunakan.
 
 W
 
AI =
--------
x 100%
 W + R
 

 
Dimana :

W    = Working hours atau jumlah jam kerja alat

Waktu yang dibebankan kepada seorang operator suatu alat yang dalam kondisi dapat dioperasikan artinya tidak rusak. Waktu ini meliputi pula tiap hambatan (delay time) yang ada. Termasuk dalam hambatan tersebut adalah waktu untuk pulang pergi ke permuka kerja, pindah tempat, pelumasan dan pengisian bahan bakar, hambatan karena keadaan cuaca, dll.

R    = Repair hours atau jumlah jam untuk perbaikan

Waktu untuk perbaikan dan waktu yang hilang karena menuggu alat perbaikan termasuk juga waktu untuk penyediaan suku cadang (spare parts) serta waktu untuk perawatan preventif.


b. Physical Availability atau Operational Availability

Merupakan catatan mengenai keadaan fisik dari alat yang sedang dipergunakan.
 
 W + S
 
PA =
------------
x 100%
 W + R + S
 
 
S = Standby hours

Jumlah jam suatu alat yang tidak dapat dipergunakan padahal alat tersebut tidak rusak dan dalam keadaan siap beroperasi

W+R+S    = Schedule hours

Jumlah seluruh jam jalan dimana alat dijadwalkan untuk beroperasi

Physical Availability pada umumnya selalu lebih besar daripada Availability Index. Tingkat effisiensi dari sebuah alat mekanis naik jika angka Physical Availability mendekati angka Availability Index

c. Use of Availability

Menunjukan berapa persen waktu yang dipergunakan oleh suatu alat untuk beroperasi pada saat alat tersebut dapat dipergunakan (Availability).
 
 W
 
UA =
-------
x 100%
 W + S
 
 
Angka Use of Availability biasanya dapat memperlihatkan seberapa efektif suatu alat yang tidak sedang rusak dapat dimanfaatkan. Hal ini dapat menjadi ukuran seberapa baik pengelolaan (management) peralatan yang dipergunakan.

d. Effective Utilization

Menunjukan berapa persen dari seluruh waktu kerja yang tersedia dapat dimanfaatkan untuk kerja produktif. Effective Utilization sebenarnya sama dengan pengertian effisiensi kerja.
 
 W
 
EU =
------------
x 100%
 W + R + S
 

 
Dimana :

W+R+S = T = Total Hours Available atau Schedule hours (Jumlah jam kerja tersedia)

Contoh :

Dari pengoperasian sebuah power shovel dalam sebulan dapat dicatat data sebagai berikut :

Jumlah jam kerja (working hours)                                             = W  = 300
Jumlah jam untuk perbaikan (repair hours)                                = R   = 100
Jumlah jam siap tunggu (hours on standby)                              = S   = 200
Jumlah jam yang dijadwalkan (schedule hours or Total hours)    = T   = 600

Maka :

 300
 
AI =
------------
x 100% = 75 %
 300 + 100
 
 300 + 200
 
PA =
------------
x 100% = 83 %
 600
 
 300
 
UA =
------------
x 100% = 60 %
 300 + 200
 
 300
 
EU =
-----
x 100% = 50 %
 600
 

 
Dalam keadaan lain datanya sebagai berikut :

W                = 450
R                 = 150
S                 = 0, berarti alat tersebut tak pernah menunggu (standby)
W+R+S    = 600

Maka :
 

 450
 
AI =
------------
x 100% = 75 %
 450 + 150
 
 450 + 0
 
PA =
----------------
x 100% = 75 %
 450 + 150 + 0
 
 450
 
UA =
------------
x 100% = 100 %
 450 + 0
 
 450
 
EU =
-----
x 100% = 75 %
 600
 

Terlihat bahwa operasi alat pada contoh kedua lebih effisien daripada operasi alat pada contoh pertama.


9. Faktor Pengembangan (Swell Factor)

Material dialam diketemukan dalam keadaan padat dan terkonsolidasi dengan baik, sehingga hanya sedikit bagian-bagian yang kosong atau ruangan-ruangan yang terisi udara (voids) diantara butir-butirnya, lebih-lebih kalau butir-butir itu halus sekali. Akan tetapi bila material tersebut digali dari tempat aslinya, maka akan terjadi pengembangan atau pemuaian volume (swell).

Jadi 1,00 cu yd tanah liat dialam bila telah digali dapat memiliki volume kira-kira 1,25 cu yd. ini berarti terjadi penambahan volume sebesar 25% dan dikatakan material tersebut mempunyai faktor pengembangan (swell factor) sebesar 0,80 atau 80%. Sebaliknya bila bank yard ini dipindahkan lalu dipadatkan ditempat lain dengan alat gilas (roller) mungkin volumenya berkurang, karena betul-betul padat sehingga menjadi berkurang dari 1,00 cu yd. tanah sesudah dipadatkan hanya memiliki volume 0,90 cu yd, ini berarti susut 10%, dan dikatakan shrinkage factor nya 10 %.

Contoh :

Sebuah power scraper yang memiliki kapasitas munjung 15 cu yd akan mengangkut tanah liat basah dengan factor pengembangan 80%, maka alat itu sebenarnya hanya mengangkut 80% x 15 cu yd = 12 cu pay yard atau bank cu yd atau insitu cu yd.

Beberapa persamaan faktor -faktor diatas :
 
    V loose
 
Percent Swell =
( ----------------------  - 1)
x 100%
    V undisturbed
 
    V undisturbed
 
Swell Factor =
( ---------------------- )
x 100%
    V loose 
   
V compacted
Shrinkage Factor =
( 1 -  
----------------------- ) x 100%
   
V undisturbed
 
Kalau angka untuk shrinkage factor tidak ada biasanya dianggap sama dengan percent swell. Beberapa istilah penting yang berkaitan dengan kemampuan penggalian yaitu :

a. Faktor Bilah (blade factor), yaitu perbandingan antara volume material yang mampu ditampung oleh bilah terhadap kemampuan tampung bilah secara teoritis.

b. Faktor Mangkuk (bucket factor), yaitu perbandingan antara volume material yang dapat ditampung oleh mangkuk terhadap kemampuan tampung mangkuk secara teoritis.

c. Faktor Muatan (payload factor), yaitu perbandingan antara volume material yang dapat ditampung oleh bak alat angkut terhadap kemampuan bak alat angkut menurut spesialisasi teknisnya.

10. Berat material (Weight of Material)

Berat material yang akan diangkut oleh alat-alat angkut dapat mempengaruhi :

a. Kecepatan kendaraan dengan HP mesin yang dimilikinya.

b. Membatasi kemampuan kendaraan untuk mengatasi tahanan kemiringan dan tahanan gulir dari jalur jalan yang dilaluinya.

c. Membatasi volume material yang dapat diangkut.

Oleh sebab itu berat jenis material harus diperhitungkan pengaruhnya terhadap kapasitas alat muat maupun alat angkut.

Bobot Isi dan Faktor Pengembangan dari Berbagai Material

Macam Material
Bobot Isi (Density) 
Swell Factor 
lb/cu yd insitu
(in bank correction factor)
1. Bauksit
2.700 – 4.325
0,075
2. Tanah liat, kering
2.300
0,85
3. Tanah liat, basah
2.800 – 3.000
0,82 – 0,80
4. Antrasit (anthracite)
2.200
0,74
5. Batubara bituminous (bituminous coal)
1.900
0,74
6. Bijih tembaga (cooper ore)
3.800
0,74
7. Tanah biasa, kering
2.800
0,85
8. Tanah biasa, basah
3.370
0,85
9. Tanah biasa bercampur pasir dan kerikil (gravel)
3.100
0,90
10. Kerikil kering
3.250
0,89
11. Kerikil basah
3.600
0,88
12. Granit, pecah-pecah
4.500
0,67 – 0,56
13. Hematit, pecah-pecah
6.500 – 8.700
0,45
14. Bijih besi (iron ore), pecah-pecah
3.600 – 5.500
0,45
15. Batu kapur, pecah-pecah
2.500 – 4.200
0,60 – 0,57
16. Lumpur 
2.160 – 2.970
0,83
17. Lumpur sudah ditekan (packed)
2.970 – 3.510
0,83
18. Pasir, kering
2.200 – 3.250
0,89
19. Pasir, basah
3.300 – 3.600
0,88
20. Serpih (shale)
3.000
0,75
21. Batu sabak (slate)
4.590 – 4.860

0,77


{linkr:related;keywords:heavy+equipment%2C+tambang;limit:10;title:Related+Articles}
[Top]

Sunday, 19 April 2009 | 3439 hits | Print | PDF |  E-mail | Report
3. Heavy Equipment
  • Currently 1.57/5
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
1.6/5 (7 votes)
Heavy Equipment/Heavy Equipment
Author:Administrator
Tags: alat berat, heavy equipment, alat tambang, tambang
alat berat
Eksploitasi merupakan kegiatan penggalian endapan bahan galian dari dalam kulit bumi secara ekonomis dengan menggunakan system penambangan tertentu. Adapun tahapan kegiatan penambangannya sebagai berikut : Pembabatan (Clearing), Pengupasan Lapisan Tanah Penutup (Stripping O/B), Penggalian Endapan Bahan Galian (Mining), Pemuatan (Loading), Pengangkutan (Hauling), Penumpahan (Waste Dump).

Kegiatan penambangan tersebut dilakukan dengan menggunakan alat-alat mekanis atau alat-alat berat. Adapun pengelompokannya sebagai berikut :
 
A. PENGELOMPOKAN PENGGERAK UTAMA

A.1 Traktor sebagai Prime Mover

Untuk alat besar dengan penggeraknya traktor dibedakan menurut :

1. Traktor (sebagai Prime Mover atau penggerak utama)

a. Traktor roda kelabang (crawler)
b. Traktor roda ban (wheel)
 
A.2 Bulldozer terutama sebagai alat penggusur

1. Dibedakan menurut blade :

a. Straight bulldozer (dengan blade lurus)
b. Angling bulldozer (dengan blade miring)
c. Universal bulldozer (dengan blade universal)
d. Cushion bulldozer (dengan blade cushion)
 
2. Dibedakan menurut tracknya :

a. Bulldozer dengan roda kelabang
b. Wheel dozer dengan roda ban karet

3. Ripper (terutama sebagai alat pembajak)

a. Hinge (Bajak kaku tunggal)
b. Parallelogram
c. Adjustable parallelogram (dapat distel)
*) Single shank (bajak tunggal)
*) Multi shank (bajak banyak)

4. Scrapper (terutama sebagai alat pengelupas)

a. Standart scrapper (scrapper bermesin)
b. Towed scrapper (scrapper yang ditarik)
 
5. Motor Graders (terutama sebagai alat untuk grading/pembentuk permukaan)

6. Loader (terutama sebagai alat pemuat)

a. Wheel loaders (loader dengan roda ban karet)
b. Track loaders (loader dengan roda kelabang)

A.2. Excavator Sebagai Prime Mover

1. Backhoe (excavator pengeduk dengan arah kebelakang)

a. Backhoe dengan sistem kontrol hidrolis
b. Backhoe dengan sistem kontrol kabel sling

2. Clamshell (excavator pengeduk - japit)

3. Shovel (excavator pengeduk dengan arah kedepan)

a. Dengan sistem kontrol hidrolis
b. Dengan sistem kontrol kabel sling

4. Skidder (excavator untuk balok-balok kayu)

5. Dragline (excavator pengeduk - tarik)

6. Crane/pipelayers (keran pengangkat, alat pasang pipa)

A.3. Alat Selain Excavator dan Tractor

1. Truck

a. Side dumping (pembuangan kesamping)
b. Back dumping (pembuangan kebelakang)

2. Dump Wagon

a. Rear dump (pembuangan kebelakang)
b. Bottom dump (pembuangan kebawah)
c. Side dump (pembuangan kesamping)

3. Trailler (kendaraan pengangkut alat-alat berat dan barang-barang berat)

4. Alat Pemadat

a. Three Wheel Roller (penggilas beroda tiga)
b. Tandem roller (penggilas tipe tandem)
c. Meshgrid & segment roller (penggilas tipe lempengan & anyaman)
d. Pneumatic tired roller ( penggilas beroda ban)
e. Towed roller
*) Sheep foot roller (penggilas tipe kaki kambing)
*) Pneumatic roller (penggilas beroda ban)

5. Alat pneumatis yang bekerja dengan tenaga tekanan angin

6. Compressor, alat pemampat udara

7. Stone crusher (pemecah batu)

a. Jaw crusher (pemecah dengan sistem rahang)
b. Roll crusher (pemecah dengan sistem roll)
c. Impact crusher (pemecah dengan sistem pukulan)
d. Gyratory crusher (pemecah dengan sistem kisaran)

8. Alat pengolah aspal

a. Asphalt mixing plant (pencampur aspal)
b. Asphalt distributor (penyemprot aspal)
c. Asphalt finisher (penghampar aspal dan aggregat)

9. Dredger (kapal keruk)
 
B. PENGELOMPOKAN MENURUT FUNGSINYA

B.1. Tractor


B.2. Alat pembersih lapangan

a. Bulldozer (mesin-mesin penggusur)
b. Ripper (mesin-mesin pembajak)

B.3. Alat pengangkat dan pemuat

a. Backhoe (mesin-mesin pengeduk belakang)
b. Power shovel (mesin-mesin pengeduk depan)
c. Dragline (mesin-mesin pengeduk tarik)
d. Clamshell (mesin-mesin pengeruk japit)
e. Loaders (mesin-mesin pemuat)

B.4. Alat Penggali dan Pengangkut

a. Scrapper (mesin-mesin pengelupas)
b. Truck (alat angkut)

B.5. Alat Pembentuk Permukaan

a. Motor grader (mesin-mesin perata)

B.6. Alat Pemadat

a. Roller (mesin gilas)

B.7. Dan lain-lain
 
(sumber: Alat Berat & Penggunaannya, Ir. Rochmanhadi)



[Top]

Thursday, 23 April 2009 | 5283 hits | Print | PDF |  E-mail | Report
4. Alat Berat dan Kapasitas Produksi
  • Currently 1.86/5
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
1.9/5 (7 votes)
Heavy Equipment/Heavy Equipment
Author:Administrator
Tags: Alat Berat dan Kapasitas Produksi, Heavy Equipment
PENJADWALAN  PRODUKSI
Menentukan bagaimana produksi dicapai dalam kurun waktu yang telah ditentukan, sehingga semua element yang terkait dengan produksi tersebut harus di detailkan. Penjadwalan biasanya disajikan dalam bentuk tabulasi seperti contoh di bawah ini.
Tabulasi meliputi antara lain :
a. Volume produksi : komoditi dan waste
b. Volume drilling & blasting
c. Jam Kerja alat
d. Jarak angkut
Contoh Tabulasi Penjadwalan Produksi

Produksi Alat Tambang

PENJADWALAN JAM KERJA (ROSTER)
a. Jam Kerja
Jam kerja sangat menentukan jumlah dan ukuran alat yang akan digunakan. Jam kerja ini dipengaruhi oleh pola shift kerja, kondisi alam, metodologi pergantian shift dan pola maintenance alat.
Dibawah contoh perhitungan jam kerja.
Perhitungan Hari Kerja
 

Jumlah hari setahun

Dikurang hari libur 

Jadwal hari Kerja

Dikurang Hari Hujan* 

Jumlah hari kerja (available)

Jumlah shift per hari 

Jumlah Shfit pertahun  

365 hari

10 hari

355 hari

40 hari

315 hari

3 shift

945 shift

 
Perhitungan Jam Kerja

Jam per shift

Dikurang pergantian shift 

Dikurangi Istirahat makan

Dikurangi traveling, blasting

Jam available per shift

Jadwal jam Kerja per tahun

8.0 jam

0.2 jam

0.5 jam

0.5 jam

6.8 jam

6426 jam


Contoh Tabulasi Penjadualan Jam Kerja
 
Produksi Alat Tambang
 

b. Physical Availability (PA)
Ketersediaan alat yang dapat digunakan untuk bekerja, besarnya physical availability untuk alat-alat baru  biasanya diatas 90%. Nilai ini sangat  tergantung kepada perawatan dan penyediaan suku cadang..
Contoh untuk kasus di atas, apabila untuk perawatan diperlukan 1 jam dalam 1 shift maka Availability = (5.8+1.2)/(5.8+1.2+1) = 87.5%


c. Use of Availability. (UA)
Jam kerja alat yang digunakan pada saat alat itu kondisi  tidak rusak.
Contoh untuk kasus di atas : alat efektif bekerja 5.8 jam, sedangkan waktu stand by 1.2 jam
Use of availability = 5.8/(5.8 + 1.2) x 100% =83%


d. Produksi
Produksi = skedul jam kerja x UA x PA x produktivitas
Contoh : produktivitas alat = 150 m3/jam
Produksi pershift = 8jam x 87.5% x83% x 150 m3/jam = 870bcm/shift

FORMULA
PA = (W+S)/ (W+S+R)
UA = W/(W+S)
Skedule jam kerja (SK) = W + S + R
Produktivitas (P) = Vol / W
Produksi (Q) = SK x PA x UA x P
Q = (W+S+R) x (W+S)/(W+S+R) x W/(W+S) x Vol/W

dimana :

PA = Physical availability
UA = use of availability
W = working
R = break down
Contoh : Skedul jam kerja 8 jam/ shift, kehilangan waktu 1.2 jam, perawatan 1 jam, produktivitas alat 150 bcm/jam
Jumlah produksi pershift : =(5.8+1.2+1)x(5.8+1.2)/ (5.8+1.2+1)x5.8/(5.8+1.2)x 150 bcm/jam
= 8 x 87.5% x 83% x 150 = 870 bcm/shift
 

KARAKTERISTIK FISIK MATERIAL
Karakteristik fisik material yang akan digali baik tanah penutup maupun komoditi harus diketahui secara pasti, hal ini untuk menentukan tipe alat yang cocok untuk digunakan serta untuk memperkirakan produktivitasnya. Yang paling utama diketahui dalam pekerjaan pemindahan tanah
mekanis adalah :


a.Kemudah galian (Excavability)
Dalam penggalian tanah mekanis kemudah galian biasanya dikatagorikan kedalam : free dig, rippable dan un-rippable. ketiga kriteria ini sangat berdampak terhadap penetuan jenis dan tingkat produktivitas alat gali-muat. Untuk menentukan kriteria tersebut biasanya diketahuai dari analisa geotechnik, sehingga sebelum proses penggalian perlu dilakukan penelitian :
- Analisa log bor, menegetahui batas atara batuan asli dan lapukan
- Survey seismik untuk mengetahui kecepatan seismik dari batuan yang akan digali
- Analisa engineering meliputi : kondisi air tanah, tipe batuan, stregth, joint spacing.


b.Berat Jenis
Berat jenis batuan harus ditentukan dengan pasti, hal ini untuk memastikan agar tidak terjadi kekurangan beban dan kelebihan beban karena keduanya dapat menyebabkan kerugian. Kalau terjadi kekurangan beban produktivitas alat tidak optimum, sedangakan kelebihan muatan alat akan cepat rusak.

 
c.Swell
Apabila tanah asli digali atau diberaikan, maka terjadi perubahan volume karena adanya pengembangan, perubahan volume dari asli “bank” cubic metre (bcm)” menjadi gembur “loose cubic metre (lcm)”  disebut dengan swell. Swell sangat penting diketahui dalam pemindahan tanah meknis karena material yang dimuat dan diangkut adalah dalam bentuk terberai (loose) sedangkan kemajuan penggalian dihitung dalam kondisi tanah asli (bcm). Misal kalau swell faktor tinggi maka produktivitas alat dalam bcm akan menurun.

 
Produksi Alat Tambang

 

PEMILIHAN ALAT
Secara garis besar pemilihan alat ditentukan oleh :
a. Karakterisitik material (sifat fisik, kekerasan dll.)
b. Bentuk endapan, kemiringan, perlapisan
c. Tingkat produksi
d. Metoda penambangan
e. Jarak angkut, Kemiringan, dimensi jalan
f. dll 

 
ALAT PEMBERAIAN BATUAN
Metoda yang umum digunakan untuk pemberaian material overburden, bijih (ore) dan batubara adalah ripping  enggunakan bulldozer-ripper dan drilling – blasting.

a. Ripping
Ripping digunakan untuk pemberaian material sebelum dimuat oleh shovel/ Backhoe/ Loader/ Dragline ke dalam Truck atau ke alat lain. Survey seismik refraksi biasanya digunakan untuk mengindikasi kemudah galian material yang akan digali. (grafik hubungan antara kecepatan seismik batuan dengan kemapuan ripping utuk berbagai model bulldozerdapat dilihat di halaman berikut).

Faktor yang berpengaruh dalam produktivitas Ripping antara lain :
a. Dozer Power and Weight
b. Type batuan (karakteristik batuan)
c. Jumlah Ripper
d. Panjang Lintasan Ripping
e. Kedalaman Penetrasi
f. Struktur geologi (Spasi joint, sesar)

 
CONTOH PEKERJAAN RIPPING
 
Produksi Alat Tambang
 
Grafik Hubungan Antara Kecepatan Seismik Batuan Dengan Kemapuan Ripping
 
Produksi Alat TambangProduksi Alat Tambang
 
 
Contoh Type & Ukuran BULLDOZER Produk Komatsu

Model
Kapasitas Blade (m3) 
FLYWHEEL HP

D65

D85 

D155

D275

D375

D475 

D575 

5.6 

8.5 

12.8

15.3

22.0

34.4

45.0

190

190

302

405

525

860

1150

b. Pemboran Produksi
Prinsip dari Metoda Pemboran adalah “ROTARY-PERCUSSION and ROTARY”
1. ROTARY PERCUSSION DRILLING
a. Top Hammer Drilling
Hammer Piston yang ditempatkan di posisi paling atas (Top) diteruskan ke Drill Bit melalui batang Bor ---> jenis ini digunakan untuk lubang diameter kecil dan dangkal dibawah 20 meter

b. Down The Hole Drilling
Piston diposisikan di bawah batang bor dan langsung memukul Bit ---> ekonomis digunakan untuk diameter  lubang sekitar 85 s/d 200 mm dan kedalaman diatas 20 meter.

2. ROTARY DRILLING
Bantuan dihancurkan dengan menggunakan roller cone bit dengan menggunakan tekanan tinggi dan putaran.
Umumnya digunakan untuk lubang yang lebih besar di atas 150 mm sampai dengan 300 mm, ekonomis digunakan s/d kedalaman 50 meter.
 

Produksi Alat TambangProduksi Alat TambangProduksi Alat Tambang          
                    
c. Pemilihan Mesin Bor
1. Kekerasan Batuan
2. Kondisi/Lingkungan kerja
3. Kedalaman lubang
4. Tingkat Produksi

Contoh Type & Ukuran Mesin Bor Produk Tamrock


Produksi Alat Tambang

Model Mesin Drilling Tipe Rotary

Produksi Alat Tambang

Model Mesin Drilling DTH
                 
Produksi Alat Tambang                    
                   
                   
ALAT GALI / MUAT (EXCAVATOR)

Produksi Alat TambangLOADING SHOVEL
a. Digunakan umumnya untuk material blasting
b. Diperlukan konndisi operasi terbatas (luas dan rata)
c. Dapat menangani ukuran material boulder
d. Mempunyai ukuran bucket lebih besar dibanding backhoe untuk kelas yang sama.
e. Dalam operasinal memerlukan alat tambahan bul dozer.
f. System operasional : Alat muat dan Truck diposisikan pada lantai kerja yang sama


Produksi Alat TambangBACK HOE
a. Mampu menggali material pada berbagai kondisi (Loading di floor, Channel, dan Roof)
b. Manuver lebih mudah
c. Dapat beroperasi dengan areal kerja lebih sempit
d. Pada Kelas yang sama, Backhoe mempunyai jangkauan gali ke atas dan ke bawah lebih besar dari pada Shovel.
e. Ukuran Bucket lebih kecil dibanding Shovel untuk ukuran mesin yang sekelas
f. System operasi : Alat muat diposisikan lebih tinggi dari alat angkut.
              
YANG PERLU DIPERHATIKAN PADA SHOVEL & BACKHOE

a. Ukuran Bucket (m3)
b. Digging Reach (m)
c. Digging Depth (m)
d. Digging Force (Kg/Newton)
e. Kecepatan Swing

Contoh Type & Ukuran SHOVEL & BACHOE Produk Komatsu

Model 
Kapasitas Bucket (m3)

PC200

PC400

PC750

PC1100

PC3000

PC4000

PC5000

0.47 – 1.15

1.30 – 2.20

3.60 – 5.00

5.50 - 6.50

12.0 - 16.0

19.0 - 24.0

26.0 - 30.0

Produksi Alat TambangProduksi Alat Tambang

Produksi Alat TambangALAT MUAT WHEEL LOADER
a. Digunakan umumnya di stocpile untuk muat ke truck, muat ke hopper, pengaturan stockpile.
b. Mobilitas dan manuver-nya sangat tinggi 
c. Memerlukan kondisi lantai kerja yang baik.
d. Kapasitas bucket tergantung density material

Contoh Type & Ukuran WHEEL LOADER Produk Komatsu

Model 
Kapasitas Bucket (m3)

WA320

WA380

WA450

WA500

WA600

WA700

WA800

WA900

2.7 – 3.2

3.2 – 4.0

4.2 – 5.2

4.5 – 5.5

6.2 – 8.0

8.7 – 11.4

11 – 16

13 - 17

Produksi Alat Tambang


 

Produksi Alat TambangALAT ANGKUT DUMP TRUCK

a. Mampu beroperasi pada ukuran Fragment yang besar
b. Memerlukan kondisi jalan yang baik untuk meningkatkan productivitas dan menurunkan operating cost
c. Terbatas dalam operasi ekonomisnya ± 4 km
d. Mobilitasnya tinggi & fleksibel

Contoh Type & Ukuran RIGID DUMP TRUCK Produk Komatsu

Model 
Max. Load (ton)
Haeaped Capacity (m3)

HD325

HD465

HD785

HD1500

630E 

730 

830E

930E

36

55

91

150

172

186

220

290

24

34.2

60

78

103

111

147

211

ALAT TRANSPORT

Produksi Alat TambangTRAILER
a. Digunakan hanya untuk material lebih ringan misalnya BatuBara
b. Tepat untuk jalan datar dengan kecepatan tinggi & pengangkutan jarak jauh
c. Sesuai untuk Dumping langsung di Hopper
d. Kapasitas rangkaian : 40 – 160 ton

Produksi Alat TambangCONVEYOR
a. Volume tinggi, jarak jauh, unit cost rendah
b. Sulit untuk dipindah-pindahkan
c. Memerlukan ongkos investasi yang tinggi
d. Dapat menghandle material dengan grade sampai dengan 40%
e. Lebih aman dibanding dengan Truck
f. Dampak Polusi Lingkungan lebih rendah
g. Umur pakai minimum 5 tahun

HAUL ROAD MAINTENANCE
Produksi Alat TambangGRADER
a. Perbaikan jalan/meratakan jalan secara terus menerus untuk mengurangi Rolling Resistance.
b. Frekuensi perataan/grading tergantung pada standar konstruksi dan kepadatan lalu lintas serta beban kendaraan.
Fungsi lain :
a. Pemeliharaan drainase
b. Scarifier

Contoh Type & Ukuran MOTOR GRADER Produk Komatsu

Model
Panjang Blade (m)
Flywheel HP

GD510

GD623

GD750

GD825

3.71

3.71

4.32

4.88

125

155

225

280

 

Produksi Alat TambangCOMPACTOR
Penimbunan jalan kadang diperlukan untuk menambah daya dukung tanah, bisa berupa tanah atau perkerasan. Material Timbunan ini harus dipadatkan agar daya dukung meningkat sesuai dengan desain. Tanpa pemadatan, usaha tsb akan sia-sia.
Tipe Compactor berdasarkan cara kerja:
1. Static
2. Vibrating

Tipe Compactor berdasar media pemadatnya
1. Tyre
2. Steel drum
, terdiri dari :
a. Padfoot/Sheepfoot (tipe material : Clay / Silt)
b. Smooth (tipe material : Granular atau Clay/silt)                    
                   
WATER SPRAYING
Digunakan untuk menjaga permukaan jalan tetap lembab (tidak basah), sehingga mengurangi adanya debu, mengurangi gangguan jarak pandang dan memelihara permukaan jalan agar tetap padat.
Jumlah keperluan air tergantung pada :
a. Type material permukaan jalan
b. Kelembaban alami
c. Curah Hujan
d. Penguapan
e. Kepadatan lalu lintas
Jumlah Water Sprayer Truck dihitung berdasarkan cycle time truck, pengisian tank dan pompa penyemprotan.              
       
PERHITUNGAN PRODUKTIVITAS ALAT
ALAT GALI / MUAT (EXCAVATOR)
A. FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP PRODUKTIVITAS ALAT MUAT

1. Kapasitas Bucket
Kapasitas bucket ditentukan oleh ukuran bucket, swell material dan aktual volume muatan dari bucket tersebut.
a. Kapasitas bucket (q) biasanya dinyatakan dalam vulume m3 heaped atau struck.
b. Swell (SF), perubahan volume dari solid atau bank (bcm) menjadi loose (lcm)
c. Faktor pengisian/ fill factor (k) menyatakan volume bucket yang dapat digunakan dibanding dengan volume (dimensi aslinya)

2. Klasifikasi Penggalian (Digging)
Digging dapat diklasifikasi kedalam tiga kelompok :
a. Easy digging, misal material yang lepas dengan ukuran kecil dan seragam atau tanah pucuk
b. Medium digging, misal material dapat digali langsung dari kondisi asli seperti sub soil.
c. Hard digging, misal material hasil blasting dengan ukuran tidak seragam.      
       
Produksi Alat Tambang       
       
3. Cycle Time
Cycle time alat loading terdiri dari komponen :
a. Loading
b. Swing muatan
c. Dump
d. Swing kosongan  

 
Note : cycle time tipe track loader utk kapasitas (2 – 22 m3) berkisar antar 24 s/d 32 detik per cycle


Faktor yang berpengaruh terhadap cycle time meliputi :
a. Ukuran Alat (makin besar makin lambat)
b. Kemudakhan gali
c. Kondisi lantai kerja
d. Kemudahan manuver
e. Skill dari operator.

Produksi Alat TambangB. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKTIVITAS ALAT ANGKUT

1. Tahanan Gulir (Rolling Resistance)
Adalah jumlah segala gaya-gaya luar yang berlawanan dengan arah gerak kendaraan yang berjalan diatas permukaan jalan.

2. Tahanan Kemiringan (Grade Resistance)
Besarnya gaya berat yang melawan atau yang membantu gerak kendaraan karena kemiringan jalur jalan yang dilewati

3. Koefisien Traksi (Traction  Coefisien)
Suatu faktor yang menunjukan besarnya traksi antara permukaan ban atau track dengan jalan yang dapat digunakan untuk menarik/ mendorong.

4. Rimpull
Adalah besarnya kekuatan tarik (pulling force) yang dapat diberikan oleh mesin kepada permukaan roda atau ban penggeraknya yang menyentuh permukaan jalur jalan.
       
Produksi Alat Tambang                  
      
Produksi Alat Tambangc. Contoh Perhitungan Produksi & Kapasitas BULDOZER
Taksiran Produktivitas Ripping dg Grafik
Produksi Aktual = Grafik x effisiensi kerja
a. good         = 0.75  (45 min/jam)
b. Average     = 0.58 ( 35 min/jam)
c. Rather        = 0.5 ( 30 min/jam)
d. Poor        = 0.4 (25 min/jam)

Produksi Alat Tambang

Taksiran Produktivitas Dozing & Spreading       
        
Produksi Alat Tambang       
       
Produksi Alat Tambangc. Contoh Perhitungan Produksi & Kapasitas Pemboran       
                           
Produksi Alat TambangProduksi Alat Tambang


 

Produksi Alat Tambangd. Contoh Perhitungan Produksi & Kapasitas Alat Muat
Formula Alat Muat
Q = q x k x 60/cm x E
Q = Produktivitas per jam
q = Kapasitas bucket
k = faktor pengisian
cm  = cycle time bucket
E = efisiensi kerja

(Kapasitas Loader = 20 m3 dan Swell Factor = 1.35)
Loader Capacity  (q)    : 20/1,35 = 14,8 Bcm
Bucket Fill Factor (qxk): 14,8 x 0,95 = 14,05 Bcm
Cycle Time     (cm)    : 0,5 minute
Cycle/Hour     (60/cm)    : 60/0,5 = 120
Efficiency Factor (E)    : 83 %
Produksi per jam (Q)    : 0,83 x 120 x 14,05 = 1.400  Bcm/jam

(Backhoe Kapasitas = 10 m3 dan Swell Factor = 1.2)
Loader Capacity  (q)    : 10/1,2 = 8,3 Bcm
Bucket Fill Factor (qxk): 8,3 x 0,95 = 7,8 Bcm
Cycle Time     (cm)    : 0,5 menit
Cycle/Hour     (60/cm)    : 60/0,5 = 120
Efficiency factor (k)    : 83%
Produksi per jam(Q)    : 83% x 120 x  7,8 = 776 Bcm/jam

(Backhoe Kapasitas = 2 m3 dan Swell Factor = 1.35)
Loader Capacity  (q)    : 2/1,35 = 1.48 Bcm
Bucket Fill Factor (qxk): 1,48 x 0,95 = 1,4 Bcm
Cycle Time     (cm)    : 0,4 menit
Cycle/Hour     (60/cm)    : 60/0,4 = 150
Efficiency factor (k)    : 83%
Produksi per jam (Q): 83% x 150 x  1.4 = 174 Bcm/jam

 
e. Contoh Perhitungan Produksi & Kapasitas Alat Angkut
ALAT ANGKUT

Q = C x 60/cm x E
C = n x q x k

Q = Produktivitas per jam
n = Rate capacity of truck/(q x k x loose density)
cm = load time + Travel T + Spot Time
q = Kapasitas bucket
k = faktor pengisian
cm  = cycle time bucket
E = efisiensi kerja

Berikut produktivitas Truck dengan asumsi  sebagai berikut :
Kondisi Lapangan
a. Jalan :
- Terpelihara (Rr<3%)
- 500 m untuk 10% grade
- 4,5 Km untuk 0% grade
b. Material    : Batu Pasir (Blast Material)
c. Swell    : 1,6
d. Density     : 2,4 t/Bcm
e. Speed     : 40 Km/jam

Produksi Alat Tambang

Spesifikasi Alat Muat
Bucket Capacity (q)    : 20/1,6 = 12,5 Bcm
Kapasitas Truck     : 75 m3; heaped 2 : 1
Bucket Fill (k)    : 0.95 x 12,5 = 11.8 bcm
Cycle Time (cm)    : 0,5 menit
Cycle per Hour (60/cm)    : 60/0,5 = 120

Specifikasi Alat angkut
Type     : Rigid Body Rear Dump
Kapasitas    : 75 m3; heaped 2 : 1
Rated Load    : 125 Tonne
Empty Weight     : 45 Tonne
Shovel Capacity : 20 m3

 
Produksi Alat TambangPerhitungan Cycle Shovel
Kapasitas Truck : 75/1,6 = 47 Bcm
Jumlah Passes (n) : 47/11.8 = 3.9 (dibulatkan = 4)
Waktu muat : 4 x 0,5 = 2,0 menit
Muatan Truck (nxqxkxsg)    : 4 x11.8 * 2,4 = 113 Tonne

Perhitungan Waktu Angkut

Produksi Alat Tambang
Cycle Time
Haul    : 15,6 menit
Loading    : 2,0 menit
Dumping    : 0,5 menit
Spot    : 0,5  menit  
TOTAL    : 19.6  menit

Truck Productivity
Q = C x 60/cm x E
= 113 x 60/19.6 x 0.83
= 337.9 ton/jam
= 337.9 ton/jam : 2.4 ton/bcm =140bcm/jam
 

Produksi Alat Tambangf. Contoh Perhitungan Produksi & Kapasitas Grader
PRODUKTIVITAS :
Qa = V x (Le – Lo) x 1000 x E

Qa     = Produktivitas (m2/jam)        
V     = Kecepatan (km/jam)
Le     = Lebar efektif  Blade    
E     = Job Efisiensi
Lo     = Lebar overlap Blade (m)
 

Produksi Alat Tambang
 
Produksi Alat Tambangf. Contoh Perhitungan Produksi & Kapasitas Compactor
PRODUKTIVITAS :
Qa = (W x V x H x 1000 x E) / N

Qa     = Produktivitas (m2/jam)    
V     = Kecepatan (km/jam)
W     = Lebar efektif. Kompaksi (m)    
H     = Tebal Lapisan yg Dipadatkan (m)
N     = Jumlah Lintasan    
E     = Job Efisiensi

 
Produksi Alat Tambang



[Top]

Saturday, 23 January 2010 | 3437 hits | Print | PDF |  E-mail | Report
5. Basic Calculation Of Production
  • Currently 3.00/5
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
3.0/5 (1 vote)
Heavy Equipment/Heavy Equipment
Author:Administrator
Tags: Perhitungan Produksi, Produksi Alat Berat, Heavy Equipment
Basic Calculation
 
Basic Calculation 
 
 Load  cycle 
Production = ------- x ------- 
 cycle  hour  
 
Basic Calculation 
 
Basic Cycle Time of Hauler
 
Basic Cycle Time of Hauler 

Basic Cycle Time of Wheel Loader
 
Basic Cycle Time of Wheel Loader 
 
a. Loading the Bucket
b. Moving to the Hauler
c. Dumping the Bucket
d. Returning to the Pile

Basic Cycle time of Hydraulic Excavator/Front Shovel
 
Basic Cycle time of Hydraulic Excavator/Front Shovel 
 
a. Loading the Bucket
b. Swing Loaded
c. Dumping the Bucket
d. Swing empty

Track Type Tractor
Perhitungan produksi menggunakan kurva produksi
Kurva produksi ini harus dikoreksi terlebih dahulu 
 
Track Type Tractor 
 
Kurva Produksi TTT
KONDISI PEMBUATAN KURVA PRODUKSI - S/SU/U Blade
 
Kurva Produksi TTT 
 
 
Kurva Produksi TTT 
 
1. 100% Efisiensi (60 menit/jam - pada siklus datar)
2. TTT dengan transmisi Power Shift yang memiliki waktu tetap 0.05 menit
3. TTT melakukan penggalian/pemotongan tanah sepanjang 15 m, lalu blade mendorong beban/tanah untuk kemudian dibuang ke bawah tebing (waktu membuang - 0 detik)
4. Density material 1370 kg/LCM
5. Faktor Koefisien Traksi:  TTT - 0.5 atau lebih besar
6. Menggunakan Blade yang dikontrol secara hidrolik
7. a. Penggalian/pemotongan tanah menggunakan gigi 1 maju.
    b. Pengangkutan/pendorongan menggunakan gigi 2 maju
    c. Mundur/kembali menggunakan gigi 2 mundur

Correction Factor 
 
Correction Factor 
Correction Factor 
 
Estimating Dozer Production
Example : Determine average hourly production of a D8R/SU moving hard packed clay an average distance of 45 m down a 15 % grade, using a slot dozing technique. Estimated material weight is 1600 kg/LCM. Operator is average. Job efficiency is estimated at 50 min/hr.

Answer :
Uncorrected Max Production = 458 LCM/hr
Correction Factor = 
Hard packed clay is “hard to cut” material………... = 0.80
Grade Correction (from graph)………………………. = 1.30
Slot Dozing ………………………………………………… = 1.20
Average Operator ………………………………………. = 0.75
Job efficiency (50 min/hr) …………………………… = 0.83
Weigh correction ………………................ 370/1600) = 0.87
 
Production :
= Maximum Production x Correction Factor
= 458 LCM/hr  x   (0.80 x 1.30 x 1.20 x 0.75 x 0.83 x 0.87)
= 309.6  LCM/hr  

Contoh Perhitungan Produktifitas Unit :
Tentukan jumlah alat angkut 773E dan alat muat 385BL yang dibutuhkan pada permukaan medan kerja untuk overburden removal dgn target produksi 1,8 juta ton BB/thn suatu tambang, dengan data-data lapangan sebagai berikut :
Waktu kerja produktif = 5400 jam/thn  (50 menit/jam)
 
Karakteristik Material
a. Overburden : Sandstone, Topsoil, Mudstone
Bank density : 2.5 ton/BCM
Loose density : 1.5 ton/LCM
% Swell : 30 %
b. Batubara
Bank density : 1.3 ton/BCM
Loose density : 0.9 ton/LCM

Haul Road Profile :

Haul Road Profile

Working Conditions : Average
Bucket Fill Factor = 100 %
Machine Availability :
Loaders and haulers : 90 %
Support Equipment : 95 % 

Alat Muat 385BL
Bucket capacity = 5 m3 (HDB)
Cycle time (dari grafik)= 0.4 menit
 
 (kerja produktif per jam x availability) 
Jumlah cycle per jam = ------------------------------------------------- 
 cycle time 
 
 50 menit/jam x 90 % 
Jumlah cycle per jam = ------------------------- 
 0.4 
 
Jumlah cycle per jam = 112 cycle 
 
Produktifitas alat muat :
= bucket fill factor x kapasitas bucket x jumlah cycle
= 100 % x 5 m3 x 112 cycle
= 560 m3
 
Kurva Produksi TTT 
 
Correction Factor 
  
Alat Angkut 773E
Kapasitas dump body (heap) = 35.3 m3
 Kapasitas alat muat 
Jumlah phase bila dimuati dgn alat muat 385BL = --------------------------------------------- 
 bucket capacity x bucket fill factor 
 
 35.3 m3 
Jumlah phase bila dimuati dgn alat muat 385BL = ------------------ 
 5 m3 x 100 % 
 
Jumlah phase bila dimuati dgn alat muat 385BL = 7.06 --- 7 phase 

Volume yang diangkut oleh 773E per cycle =
= Jumlah phase x bucket capacity x bucket fill factor
= 7 phase x 5 m3 x 100 %
= 35 m3

Cycle Time 773E
Loading time(7 phase oleh 385BL) = 7 x 0.4 = 2.8 menit
Maneuver di loading point (0.6-0.8 menit) = 0.7 menit
Travel loaded (dari grafik) = 8.0 menit
Maneuver & dump time (1.0 - 1.2 menit) = 1.1 menit
Travel empty (dari grafik)               = 5.0 menit
Total                                                 = 17.6 menit
 
 jam kerja produktif x avalaibility 773E 
Jumlah cycle per jam = ------------------------------------------------- 
 cycle time 
 
 50 menit x 90 % 
Jumlah cycle per jam = --------------------- 
 17.6 menit 
 
Jumlah cycle per jam = 2.55 cycle 
 
Alat Angkut 
 
Cycle Time 773E 
 
Produktifitas 773E per jam 
= jumlah cycle x volume yang diangkut 773E
= 2.55 x 35 LCM
= 89.5 LCM/jam
= 62.65 BCM/jam  

Target Produksi Batubara = 1.8 juta ton per tahun
OB removal (SR 7 : 1)      = 7 x 1.8 juta ton
OB removal (SR 7 : 1)      = 12.6 juta m3
 
 12.6 juta m3 
OB removal per jam = ---------------- 
 5400 jam 
 
OB removal per jam = 2333,34 BCM/jam 
 
 Target produksi per jam 
Jumlah 773E yang dibutuhkan = -------------------------------- 
 Produktifitas 773E 
 
  2333,34 BCM/jam 
Jumlah 773E yang dibutuhkan = -------------------------------- 
 62.65 BCM/jam 
 
Jumlah 773E yang dibutuhkan = 37 truck 
 
 Jumlah unit 773E x Produktifitas alat angkut 
Jumlah 385BL yang dibutuhkan = -------------------------------------------------------- 
 Produktifitas alat muat 
     
 37 x 62.65 BCM/jam 
Jumlah 385BL yang dibutuhkan = ------------------------------ 
 560 BCM/jam 
 
Jumlah 385BL yang dibutuhkan = 4 buah  

 

[Top]

Thursday, 22 July 2010 | 136 hits | Print | PDF |  E-mail | Report



Powered by AlphaContent 4.0.13 © 2005-2010 - All rights reserved

Recent Post

  • Apparent Dip
  • Peta Topografi Dan Digitasi Peta
  • Lowongan Kerja Tambang PT. Britmindo; various positions
  • Lowongan Kerja Tambang A fast growing mining contracting company; 2 positions
  • Lowongan Kerja Tambang A Mining Company; various positions
  • Lowongan Kerja Tambang Sumatra Copper and Gold Plc; 3 positions
  • Lowongan Kerja Tambang Verity; 10 positions
  • Lowongan Kerja Tambang Perusahaan Kontraktor Pertambangan; 5 posisi
  • Lowongan Kerja Tambang Verity; 5 positions
  • Lowongan Kerja Tambang Perusahaan Swasta Nasional di bidang Pertambangan; 2 posisi

Popular Post

  • Mining
  • Mine Design
  • Eksplorasi
  • Eksploitasi
  • Feasibility Study
  • Pengantar Perencanaan Tambang
  • Pengolahan Bahan Galian
  • Reklamasi
  • Prospeksi
  • Sejarah Tambang

100s Inspirational World Wisdoms

YouCMSAndBlog Module Generator Wizard Plugin
Categories
  • Tambang Today
  • Tambang Info
  • Tambang and Energy
  • Kamus Teknik
  • Tips dan Trik Computer
  • Cari Artikel
  • The Journey
  • Mineral Gallery
  • Rock Gallery
Job Vacancy
  • Mine Engineering Jobs
  • Lowongan Kerja Tambang
  • Mining Jobs
  • Mining Oil and Gas Jobs
  • Cari Lowongan Kerja
Share
Page Rank

Copyright © 2010 ---.
All Rights Reserved.

Thanksgiving clipart courtesy of http://clipart.peirceinternet.com || Designed by ST Joomla Templates.