Beranda Mining Geology Survey Minerals Heavy Equipment Surface Mining Kamus Tambang Minescape Surpac Mining Act Mining Live Download

Popular

Latest News

Welcome To Boss Tambang

Beranda » Minerals » Minerals

Minerals (8)

RSS Feed

Results 1 - 8 of 8

1. Minerals
  • Currently 1.20/5
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
1.2/5 (5 votes)
Minerals/Minerals
Author:Administrator
Tags: bahan galian, bahan galian vital dan strategis, bahan galian, Tambang
Kegiatan pertambangan dibagi menurut bahan galiannya dan bahan galian dibagi menjadi 3 macam yaitu :

a. Bahan galian vital (vital minerals)

Bahan galian yang bemilai vital untuk menjamin hajat hidup orang banyak berdasarkan undang-undang yang berlaku, misal : Besi, bauksit, tembaga, timbal, seng, yodium, dan belerang.

b. Bahan galian strategis (strategic mineral)

Bahan galian yang mempunyai arti strategis untuk pertahanan, keamanan, dan ketahanan ekonomi negara berdasarkan undang-undang yang berlaku, misal : Minyak bumi, gas alam, batu bara, uranium, nikel, dan timah bahan galian tak vital dan tak strategis - nonvital and nonstrategis

c. Bahan galian tak vital dan tak strategis (nonvital and nonstrategic minerals)

Bahan galian yang sifatnya tidak langsung memerlukan pasaran yang bersifat internasional atau bisa juga disebut Bahan galian industri (industrial mineral) merupakan Bahan galian tambang bukan bijih yang pada umumnya digunakan sebagai bahan baku industri; penggunaan dalam industri banyak ditentukan oleh sifat fisika seperti warna, ukuran partikel, kekerasan, plastisitas, daya serap, dan lain-lain, misalnya batu gamping, bentonit, kaolin, zeolit, fosfat, mika, tawas, batu permata, pasir kuarsa, kaolin, dan marmer.


Peta Sebaran Tambang Indonesia

Mineral
 

 

[Top]

Saturday, 25 April 2009 | 4858 hits | Print | PDF |  E-mail | Report
2. Briket Batubara
  • Currently 1.20/5
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
1.2/5 (5 votes)
Minerals/Minerals
Author:Administrator
Tags: briket, coal, briket batubara, tambang
BRIKET BATUBARA
Teknologi pembuatan briket batubara dari batubara bubuk yang dapat menimbulkan kesulitan pada waktu pengangkutan ternyata sudah banyak dilakukan dibeberapa negara. Hal yang mendorong pemanfaatan briket untuk masyarakat dan industry kecil Indonesia antara lain :
 
1. Potensi batubara Indonesia yang sangat besar
2. Penduduk Indonesia sebagian besar tinggal di pedesaan
3. Dapat dilaksanakan dengan teknologi sederhana, dengan investasi yang rendah
4. Batubara Indonesia mudah pecah dan bernilai kalori tinggi
5. Memanfaatkan batubara bubuk yang tidak dipakai sukar ditransport, menjadi lebih bermanfaat
6. Adanya endapan batubara dengan cadangan terbatas (10 juta ton) yang dapat dimanfaatkan secara skala kecil untuk daerah sekitarnya
7. Kebijaksanaan pemerintah untuk mengurangi pemakaian minyak dan kayu bakar
 
A. Teknik Pembriketan Batubara

a. Sifat briket yang baik
1. Tidak berasap dan tidak berbau pada saat pembakaran
2. Mempunyai kekuatan tertentu sehingga tidak mudah pecah waktu diangkat dan dipindah-pindah
3. Mempunyai suhu pembakaran yang tetap (± 3500C) dalam jangka waktu yang cukup panjang (8-10 jam)
4. Setelah pembakaran masih mempunyai kekuatan tertentu sehingga mudah untuk dikeluarkan dari dalam tungku masak
5. Gas hasil pembakaran tidak mengandung gas karbon monoksida yang tinggi

b. Jenis briket
Dikenal 2 jenis briket yaitu :

1. Type yontan (silinder) untuk keperluan rumah tangga
Type ini lebih dikenal dan popular, disebut dengan yontan, suatu nama local berbentuk silinder dengan garis tengah 150 mm, tinggi 142 mm, berat 3,5 kg dan mempunyai lubang-lubang sebanyak 22 lubang

2. Type egg (telor) untuk keperluan industry dan rumah tangga
Type ini juga dipergunakan untuk bahan bakar industry kecil seperti untuk pembakaran kapur, bata, genteng, gerabah, pandai besi dan sebagainya, tetapi juga untuk keperluan rumah tangga. Jenis ini mempunyai lebar 32-39 mm panjang 46-58 mm dan tebal 20-24 mm

c. Teknis pembuatan
Proses pembuatan briket yontan cukup sederhana. Batubara bubuk ( 5 mm) diberi air (10%) ditekan dengan mesin tekan pembriketan pada tekanan 120 kg/cm2 sehingga diperoleh briket. Untuk type telor perlu ditambah molasses (7%) dan diroll pada mesin briket type roll

d. Parameter dalam pembuatan briket
Beberapa parameter dalam pembuatan briket antara lain sebagai berikut :

1. Ukuran butir batubara
2. Tekanan mesin pada waktu pembriketan
3. Kadar air yang terkandung dalam batubara

Beberapa pengalaman, briket dengan kuat tekan > 6 kg/cm2 cukup kuat dan tidak mudah pecah pada saat dibawa, diangkut dan diangkat.

e. Karakteristik pembakaran
Sifat pembakaran adalah sangat penting disamping tergantung dari sifat batubaranya. Karakteristik pembakaran briket ini (lama dan suhu pembakaran) tergantung pula dari besarnya udara yang terbakar (air supply) dan nilai kalori batubaranya. Makin besar udara yang ikut terbakar makin pendek lama pembakaran briket dan makin tinggi nilai kalori batubara yang dibuat briket makin lama waktu pembakaran. Makin besar udara yang diberikan (dengan membuka udara kompor masak) makin pendek waktu pembakaran briket walaupun diperoleh suhu maksimum yang lebih tinggi.

B. Pembuatan Briket Dari Batubara

Contoh batubara digerus sampai ukuran 5 mm, selanjutnya ditambah lempung (20%) sebagai bahan pengikat dan air 10%. Analisa batubara contoh sebagai berikut :
Table analisa kimia batubara contoh korea
 
SifatContoh
Korea
 atom8,19
39,5
 fixed carbon
50,24
53,70
 nilai kalor
7160
4570
 S (belerang)
0,47
0,29
 moisture1,91
3,70
 volatile matter39,66
3,20
 kelassubbitumine
antrasit
 
Penambahan lempung dimaksudkan untuk memperoleh kekuatan dan besarnya relative didekatkan dengan kadar ash dan briket yontan korea.

a. Kuat tekan
Dari hasil penekanan dengan mesin pembriketan yang sama diperoleh data sebagai berikut :

Bahan Pengikat Lempung
Kuat Tekan (kg/cm2
20%
7,5
30%
10,2

Hasil yang diperoleh memberikan data bahwa kuat tekan berikut adalah cukup baik (> 6 kg/cm2)

b. Karakteristik pembakaran
Dari hasil pembakaran diperoleh data sebagai berikut :
1. Berasap cukup banyak dan berbau tajam
2. Suhu pembakaran tertinggi sedikit lebih tinggi daripada briket korea yaitu 6500C – 7000C (briket korea 6000C
3. Lama waktu pembakaran pada suhu 3500C ternyata jauh lebih pendek ± 2,5 jam, sedang briket korea 8 jam

Dengan mengatur pipa bukaan udara lebih kecil diharapkan waktu pembakaran lebih panjang.
Catatan : penambahan lempung dapat menyerap bau tar dan mempertinggi kualitas briket walaupun dapat mengurangi nilai kalornya.
Sebaiknya dipergunakan batubara dengan ash tinggi

c. Meniadakan asap dan bau
Percobaan untuk mengurangi/meniadakan asap dan bau dari briket batubara telah dilakukan dengan mengurangi volatile matter. Hal ini dapat ditempuh dengan melakukan karbonisasi terhadap batubara pada suhu rendah dan ternyata berhasil baik. Hanya masalah lama waktu pembakaran dari briket batubara ini masih relative lebih pendek yaitu sekitar ± 4 jam.
 
(Sumber : Batubara & Gambut, Ir. Sukandarrumidi, MSc. Phd)
 


[Top]

Monday, 20 July 2009 | 570 hits | Print | PDF |  E-mail | Report
3. Gambut
  • Currently 1.00/5
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
1.0/5 (6 votes)
Minerals/Minerals
Author:Administrator
Tags: gambut, batubara, coal

Endapan gambut dataran rendah (low land peat) di Indonesia telah dikenal sangat luas sebarannya sesuai dengan bentangan dataran rendah pantai, tetapi sampai saat ini perkiraan cadangan masih terlalu kasar. Shell (1983) memperkirakan bahwa endapan gambut yang berketabalan lebih dari 1 m yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan energy mencakup dataran rendah lebih dari 17 juta hectare tersebar di Sumatera, Kalimantan dan Irian Jaya. Sejak puluhan tahun terakhir ini timbul gagasan baru untuk membangun daerah terpencil. Hal ini diperkuat oleh laporan Euroconsult (1984) yang antara lain menyatakan bahwa dalam jangka panjang dan tersedianya konsumen, industry pertambangan gambut sebagai bahan pembangkit listrik untuk daerah terpencil di Indonesia akan dapat berkompetisi dengan pembangkit listrik bahan bakar minyak.

1. Komposisi Gambut

Gambut adalah sisa timbunan tumbuhan yang telah mati dan kemudian diuraikan oleh bakteri anaerobic dan aerobic menjadi komponen yang lebih stabil. Selain zat organic yang membentuk gambut terdapat juga zat anorganik dalam jumlah yang kecil. Di lingkungan pengendapannya gambut ini selalu dalam keadaan jenuh air (lebih dari 90%). Zat organic pembentuk gambut sama dengan tumbuhan dalam perbandingan yang berlainan sesuai dengan tingkat bitumen (wak atau resin), humus dan lain-lain. Komposisi zat organic ini tidak stabil tergantung pada proses pembusukan, misalnya cellulose pada tingkat pembusukan dini (H1-H2) sebanyak 15-20%, tetapi pada tingkat pembusukan lanjut (H9-H10) hamper tidak ditemukan.

Sebaliknya humus pada cellulose pada tingkat pembusukan dini terdapat 0-15%, sedangkan pada gambut yang telah mengalami pelapukan yang lebih tinggi (H9-H10) mencapai 50-60%. Unsure-unsur pembentuk gambut sebagian besar terdiri dari karbon (C), hydrogen (H), nitrogen (N) dan oksigen (O). selain unsure utama terdapat juga unsure lain al, Si, S, P, Ca dll dalam bentuk lain terikat, tingkat pembusukan pada gambut akan menaikan kadar karbon (C) dan menurunkan oksigen (O).

Berdasarkan lingkungan tumbuh dan pengendapannya gambut di Indonesia dapat dibagi menjadi 2 jenis yaitu :

a. Gambut ombrogenus yang kandungan airnya hanya berasal dari air hujan, gambut jenis ini dibentuk dalam lingkungan pengendapan dimana tumbuhan pembentuk yang semasa hidupnya hanya tumbuh dari air hujan, sehingga kadar abunya adalah asli (inherent) dari tumbuhan itu sendiri.

b. Gambut topogenus yang kandungan airnya berasal dari air permukaan. Jenis gambut ini diendapkan dari sisa tumbuhan yang semasa hidupnya tumbuh dari pengaruh air permukaan tanah, sehingga kadar abunya dipengaruhi oleh elemen yang terbawa oleh air permukaan tersebut.

Daerah gambut topogenus lebih bermanfaat untuk lahan pertanian disbanding dengan daerah gambut ombrogenus karena gambut topogenus mengandung relative lebih banyak nutrisi. Kedua jenis gambut tersebut pada hakikatnya secara megaskropis agak sukar didefinisikan secara pasti karena kompleknya tahapan proses pembusukan.Komposisi gambut menentukan mutu dan kegunaannya yang dipengaruhi oleh beberapa factor seperti kandungan zat prganik, abu, bulk density, kandungan kayu, dll.

Fisher (dalam Supraptohardjo & Driessen, 1967) membuat klasifikasi gambut lebih diarahkan pada kepentingan tanah pertanian, yaitu membagi gambut berdasarkan tingkat kesuburan tanah sebagai berikut :
a. Eutropik (subur)
b. Mesotropik (sedang)
c. Oligotropik (miskin)

Selanjutnya dikemukakan pula bahwa tanah gambut di Indonesia bergam dari subur sampai miskin. Klasifikasi yang lebih akhir menekankan pada tingkat kematangannya atau tingkat dekomposisinya (dalam Supraptohardjo & Driessen, 1967) yaitu :
a. Saprik (terombak lebih dari 66%)
b. Hemik (terombak 33-66%)
c. Fibrik (terombak kurang dari 33%)

Ada pula klasifikasi gambut dengan tidak melihat dekomposisinya tetapi berdasarkan bahan induk yang membentuknya (Backman dkk, 1969, dalam Endang Suarka 1988) yaitu :
a. Gambut endapan, merupakan campuran leli air, herba empang, plangton, dll
b. Gambut berserat teridiri atas berbagai macam rumput, lumut, sphagnum, dll
c. Gambut kayuan terdiri dari pohonan dan konifera

Selain pembagian tersebut diatas gambut digolongkan pula sebagai :
a. Gambut topogen yaitu gambut eutropik atau mesotropik
b. Gambut ombrogen yaitu gambut oligotropik

2. Gambut Sebagai Bahan Bakar

Beberapa alas an yang mendukung pemanfaatan gambut untuk bahan bakar di Indonesia antara lain :
a. Gambut tersedia dalam jumlah cadangan yang cukup besar pada areal yang cukup luas
b. Tanah yang telah diambil gambutnya dapat dipergunakan untuk lahan pertanian
c. Penambangan dan pemrosesan gambut untuk bahan bakar menyerap tenaga kerja
d. Selain dapat menyediakan energy juga secara langsung maupun tidak langsung mempunyai dampak yang baik terhadap lingkungan

3. Daerah Penyebaran Gambut

Jumlah areal gambut didunia diperkirakan 420 juta hectare atau mungkin lebih dari 500 juta hectare. Endapan gambut terdapat diseluruh dunia yang memenuhi syarat-syarat yang memungkinkan pembentukan beriklim dingin dan sedang serta mempunyai sifat presipitasi yang tinggi dan evaporasi yang rendah (Kalmari, 1982 dalam Endang Suarka 1988). Supraptohardjo & Driessen (1976 dalam Endang Suarka 1988) menyebutkan bahwa dalam daerah hutan lebat dengan curah hujan tinggi dan pengaruh air tanah kurang akan membentuk gambut ombrogen, sedangkan gambut topogen pembentukannya dipengaruhi air tanah. Indonesia diperkirakan mempunyai cadangan gambut seluas 17 juta Ha. Jumlah tersebut menjadikan Indonesia sebagai Negara yang mempunyai cadangan gambut terbesar keempat dunia setelah Kanada 170 juta Ha, Rusia 150 juta Ha, Amerika Serikat 40 juta Ha. Supraptohardjo & Driessen (1976 dalam Endang Suarka 1988) memperikan areal gambut di Indonesia mencapai 16 juta Ha lebih dengan perincian :

a. Pantai timur Sumatera 9,7 juta Ha
b. Kalimantan 6,3 juta Ha
c. Lain-lain 1,3 juta Ha

Perkiraan tersebut hamper sama dengan perkiraan Andrieese (1974) yang menyebutkan bahwa daerah biogeografi bagian timur melayu gambut pada dataran rendah yang menutupi 18 juta Ha, terutama terdapat di pantai timur Sumatera, Kalimantan Barat, Kalimantan tengah, Kalimantan selatan, Serawak dan bagian pantai utara Brunei. Gambut pada daerah tersebut sebagian besar adalah gambut ombrogenous.

Sumber : Batubara dan Gambut, Ir. Sukandarrumdi, MSc, PHd



[Top]

Friday, 24 July 2009 | 295 hits | Print | PDF |  E-mail | Report
4. Ekonomi Bahan Galian
  • Currently 1.17/5
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
1.2/5 (6 votes)
Minerals/Minerals
Author:Administrator
Tags: Ekonomi Bahan Galian, Mineral
PRINSIP-PRINSIP EKONOMI MINERAL  
Ekonomi tidak terlepas dari biaya-biaya yang ditimbulkan oleh suatu kegiatan, baik itu biaya langsung maupun biaya tidak langsung. Biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan suatu barang atau jasa merupakan salah satu unsur terpenting dalam pengelolaan perusahaan, sebab besar kecilnya biaya akan menentukan besar kecilnya keuntungan yang akan diperoleh. Oleh sebab itu biaya mempunyai pengertian semua pengeluaran yang dapat diukur dengan uang, baik yang telah, sedang maupun yang akan  dikeluarkan untuk menghasilkan suatu produk.  

1. Komponen Biaya  
Untuk memudahkan analisa, secara umum biaya dikelompokkan berdasarkan kriteria tertentu, antara lain :  
A. Menurut keterlibatan biaya dalam pembuatan produk :  
1. biaya langsung yaitu adalah biaya-biaya yang timbul akibat kegiatan yang berhubungan langsung dengan proses produksi.  
2.  biaya tak langsung yaitu biaya pengeluaran uang yang disebabkan oleh kegiatan-kegiatan yang tidak berhubungan langsung dengan proses produksi.  
3.  biaya komersial yaitu biaya tak langsung yang digunakan untuk mendukung kegiatan produksi, dibagi atas :  
a.  Biaya penjualan: pengeluaran yang dilakukan dalam rangka kegiatan penjualan suatu produk.  
b.  Biaya administrasi: pengeluaran yang dilakukan untuk keperluan administrasi guna mendukung kelancaran proses produksi.  

Dalam industri pertambangan lebih dikenal pengelompokan biaya menjadi :  
1. biaya kapital (biaya investasi)   
2. biaya operasi.  
 
1.2. Biaya  Capital  
Biaya capital atau biaya investasi pada umumnya diartikan sebagai jumlah biaya yang dibutuhkan untuk membuat suatu endapan bahan galian yang berada di dalam bumi menjadi produk tambang yang dapat dijual. Biaya kapital terdiri dari dua komponen penting, yaitu : 
a. biaya kapital tetap  
b. modal kerja. 

Jika tambang yang akan dikerjakan merupakan tambang baru, maka biaya tetap biasanya terdiri dari komponen-komponen berikut : 
1.  Land Acquisition (pembebasan lahan), biayanya tergantung kepada luas dan lokasi lahan. 
2.  Konstruksi pra-penambangan (pengupasan tanah penutup, dan sebagainya). 
3.  Pembangunan tambang/masa konstruksi  
4.  Analisa Dampak Lingkungan. 
5.  Peralatan tambang, bangunan, sarana lain. 
6.  Peralatan pabrik, bangunan, sarana lain. 
7.  Sarana penunjang (jalan, listrik, perumahan, sarana olahraga, instalasi air, dan sebagainya). 
8.  Jasa perancangan dan konsultasi. 
9. Contingency. 

Sedangkan modal kerja adalah biaya yang digunakan untuk memulai produksi sebelum perusahaan mendapat kan uang dan hasil penjualan  produknya. Besarnya modal kerja umumnya adalah 25% dari biaya operasi atau mencukupi kebutuhan operasi selama 3-6 bulan. Secara umum, besarnya modal kerja dapat dihitung dengan rumus dibawah ini : 
 
 biaya operasi
prod. tambang
Y bulan 
MK
=  --------------------------------
x  -------------------------------- x  --------------------------------
 ton
tahun
12 bulan
  
Harga Y tergantung pada jalur pemasaran produk tambangnya (lamanya produk sampai dipasar dan lamanya pembayaran atas produk tersebut). Modal kerja umumnya terdiri dari komponen-komponen biaya sebagai berikut : 

1. Persediaan  
-  Bahan baku, berupa dimana cadangan endapan mineral/bijih yang ekonomis yang belum dilaksanakan proses penambangan.  
-  Suku cadang, yang berguna apabila terjadi ker usakan pada alat-alat penambangan 
-  Supplies, merupakan stock dari suatu perusahan tambang yang berupa perlengkapan habis sekali pakai seperti perlengkapan kantor, bahan  bakar, bahan pelumas, dll. 
-  Bahan dalam proses (materials-in- process), berupa endapan mineral/bijih yang sedang atau dalam proses penambangan atau dalam proses pengolahan (mineral dressing).  
-  Bahan jadi/produk tambang, merupakan bahan galian/bijih yang telah melalui proses pengolahan yang siap dijual 

2.  Piutang dagang (A/R) 
Piutang dagang merupakan suatu modal kerja yang dapat ditarik sewaktu-waktu dari pihak ke-2  sesuai dengan perjanjian dagang (seperti pembayaran diakhir transaksi penjualan komoditas dagang). 

3.  Hutang dagang (A/P) 
Merupakan modal kerja  yang diperoleh dari or ang lain dalam bentuk pinjaman yang bernilai ekonomis, yang harus dibayar oleh kita apabila telah jatuh tempo sesuai dengan perjanjian dagang kedua belah pihak 

4.  Kas, dan lain-lain 
Merupakan cadangan uang yang disimpan yang berguna untuk membiayai kehidupan tambang sehari-hari, dengan periode waktu yang relatif singkat 
 
1.3 Biaya  Operasi 
Biaya operasi didefinisikan sebagai segala macam biaya yang harus dikeluarkan agar proyek penambangan dapat beroperasi/berjalan dengan normal. Dalam suatu operasi penambangan, keseluruhan biaya penambangan akan terdiri dari banyak komponen  biaya yang merupakan akibat dari masing-masing tahap kegiatan. Besar kecilnya biaya penambangan akan tergantung pada perancangan teknis sistem penambangan, jenis dan jumlah alat yang digunakan. Diagram berikut ini memperlih atkan tahapan analisis yang harus dilakukan untuk mendapatkan biaya penambangan.
 
EBG
 
Untuk mencapai biaya  penambangan yang sekecil  mungkin, maka dalam merancang sistem penambangan perlu diperhatikan pemilihan alat yang dapat memberikan biaya produksi per ton yang paling murah. Pemilihan alat  (jenis dan merk) sebaiknya tidak dilakukan semata-mata  karena besar-kecilnya produksi atau kapasitas alat tersebut. 

Dari diagram diatas te rlihat bahwa pada dasarnya aspek teknis da n aspek ekonomis tidak dapat berjalan sendiri-sendiri, keduanya akan selalu saling mempengaruhi. Perkiraan biaya investasi alat akan tergantung pada jumlah alat yang dipergunakan dan kapasitas alat yang dipilih. Demikian pula biaya produksi merupakan fungsi dari kapasitas alat yang dipakai. Jadi jelaslah dari diagram tersebut di atas bah wa biaya penambangan yang rendah akan dapat dicapai ji ka rancangan teknis dapat  dioptimasi dengan me mperhatikan pemilihan  dan jumlah alat yang akan digunakan.

Secara umum biaya operasi dibagi menjadi tiga komponen biaya, yaitu : 
a. biaya operasi langsung 
b. biaya operasi tak langsung 
c. biaya  overhead 

1.3.1  Biaya Operasi Langsung 
Biaya operasi langsung merupakan biaya utama dan berkaitan langsung  dengan produk yang dihasilkan. Walaupun komponen biaya operasi langsung dari satu tambang ke tambang yang lain bervariasi, akan tetapi pada umumnya terdiri dari : 
1.  Pekerja (pekerja lapangan, pengawas lapangan, dan sebagainya) 
2.  Bahan bakar (bahan bakar, oli, dan sebagainya) 
3.  Royalties 
4.  Persiapan daerah produksi/permukaan kerja 
 
1.3.1  Biaya Operasi Tak Langsung 
Biaya operasi tak langsung  adalah pengeluaran-pengeluaran yang tak terpengaruh oleh produksi yang dihasilkan. Umumnya, terdiri dari : 
1. Pekerja (administrasi,  keamanan, teknisi, jurubayar,  petugas kantor, bengkel dan sebagainya. 
2. Asuransi. 
3. Penyusutan alat. 
4. Pajak. 
5. Reklamasi daerah bekas tambang. 
6. Perjalanan bisnis, rapat, sumbangan-sumbangan. 
7. Keperluan kantor. 
8. Humas, dan sebagainya. 
 
1.3.1 Biaya  Overhead 
Biaya overhead dapat/tidak dapat dimasukkan sebagai ko mponen biaya operasi tetapi biaya-biaya ini berpengaruh terhadap total biaya produksi walaupun umumnya mencerminkan biaya-biaya diluar tambang/biaya-biaya perusahaan. Overhead biasanya dikelompokkan menjadi : 
1. Penjualan. 
2.  Administrasi kantor pusat. 

2.  COST BENEFIT ANALISIS 
Yang dimaksud dengan analisis benefit – cost  adalah : Suatu penilaian secara sistematis terhadap semua ongkos dan semua manfaat dari suatu kebijakan suatu proyek. Cost–benefit meliputi : 
-   “Explicit costs & benefit”: Upah, gaji, bahan 
-   “Implicit costs & benefit” : nilai kesempatan (opportunity cost), penyusutan, dana internal 
-   “External cost & benefit” : ongkos lingkungan 
-   Ongkos dan manfaat murni : consumer surplus
 
EBG
 
Z1 = B – C ;   p = inflasi ; r = tingkat bunga nominal  
 
3.  Penentuan ROR, BESR, BEP 
3.1 Pengertian 

ROR   =   Rate of Return  : Tingkat penge mbalian / tingkat bunga yang diterima investor atas investasi yang tidak diamortisasikan 
ROR    =   Rate of Reinvestment  : Tingkat  bunga yang harus diperoleh melalui reinvestasi pendapatan (Income) setiap periode agar nilai akhir dari income setiap periode tersebut sama dengan biaya yang harus dikeluarkan pada saat itu. 

Perbedaannya : 
-  Bila cost dikeluarkan  pada akhir umur proyek setelah memperoleh income tahunan, maka tingkat bunga yang didapat merupakan RORe investment 
-  Bila cost dikeluarkan pada awal umur proyek lalu diikuti  income tahunan, maka yang didapat ROReturn 

 
BESR  =  Break Even Stripping Ratio  :
Jumlah perbandingan antara biaya penambangan bawah tanah setelah dikurangi  biaya penambangan terbuka dengan biaya pengupasan overbourden   
BEP   =   Break Even Point :
Volume / jumlah penjualan dan atau volume produksi, dimana suatu perusahaan yang  menghasilkan suatu produk tertentu tidak mengalami kerugian dan juga tidak memperoleh laba. Dengan kalimat lain, merupakan level produksi dari  suatu operasi dimana pendapatan (income) yang diperoleh tepat sama dengan biaya total (total cost) yang dikeluarkan.
 
EBG
 
4. SENSITIVITY ANALYSIS 
Dalam teknologi yang maju, seorang manajer yang sukses harus membuat suatu keputusan yang mempengaruhi kelangsungan hidup perusahaan  tambang dengan menggambarkan secara sistematis pengetahuan khususnya,  ketersediaan informasi, dan kecakapan dari para   pegawainya, karena dalam evaluasi proyek dan penentuan keputusan tidak selamanya seorang manager mengeluarkan suatu kepusan yang tepat. Pada analisa sebelumnya yang melibatkan  “nilai uang”  ternyata ada suatu faktor yang mempengaruhi analisa  pengambilan keputusan yaitu analisis sensibilitas, seperti nilai escalasi dollar terhadap rupiah,  inflasi mata uang, pengaruh nilai  jual komoditi,  dll. Pengaruh perkiraan  ketidakpastian masa depan terhadap keputusan. Suatu teknik untuk menganalisis pengaruh suatu variabel atau parameter terhadap suatu kesimpulan / keputusan semula.

 
Tujuan daripada “sensitivity analysis”  dalam evaluasi ekonomi adalah : 
a. Menganalisis / mengevaluasi pengaruh dari ketidakpastian pada suatu investasi dengan cara menentukan sejauh mana parameter- parameter profitabilitas suatu alternative investasi mempengaruhi hasil evaluasi ekonomi 
b.  Mengidentifikasikan apakah perubahan variabel–variabel kritis dapat mempengaruhi tingkat keuntungan. 

Kepekaan ini dapat juga dianalisis dengan metoda, diantaranya : 
a.  Initial Investment Sensitivity Analysis (Analisa sensitivitas terhadap investasi langsung) 
b.  Project Life Sensitivity Analysis (Analisa sensitivitas tehadap umur proyek) 
c.  Annual Profit Analysis (Analisis keuntungan tahunan) 
d.  Salvage Value Analysis (Analisis Nilai Sisa) 
 
5. Analisis  biaya – volume – laba : 
Analisis kepekaan pengaruh perubahan volume terhadap pendapatan bersih 
a.  Pengaruh biaya berubah 
Contoh : 
Biaya produksi batu naik Rp. 5.000,- menjadi Rp. 7.000,-/ton 
Harga jual Rp. 9.000,-/ton, B. Tetap Rp. 200.000,- 

X ---> 9.000 X = 7.000 X + 200.000
---> Rp. 200.000,- 
---> X = 100 

X
---> 50 ---> 100t   

Contoh : 

1 + J = BB + BT + n 

9.000 X = 5.000 X + 200.000 + 0 

4.000 X = 200.000   X 50 t (BEP) 

b.  Pengaruh biaya tetap 
Contoh : 

* 200.000,-
---> 400.000,- 

   4000.000 x 400.000
---> 100 (dari 50) 
                                         t 

c.  Pengaruh harga jual 
Contoh : 

* 9.000/t
---> 10.000 Rp/t 

10.000 X = 5.000 X + 200.000 + 0 

  5.000 X = 200.000 

        X = 40 t 



[Top]

Friday, 22 January 2010 | 1007 hits | Print | PDF |  E-mail | Report
5. Rencana Pengolahan Batubara
  • Currently 1.14/5
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
1.1/5 (7 votes)
Minerals/Minerals
Author:Administrator
Tags: Rencana Pengolahan Batubara, Minerals
1. Tujuan proses pengolahan  
Dikaitannya dengan rencana pemasaran dan operasi penambangan  batubara, maka pengadaan proses pengolahan batubara (Coal Processing  Plant /CCP) bertujuan untuk mengolah batubara menjadi produk batubara ( product area ) yang sesuai dengan permintaan pasar. Dengan   mempertimbangkan beberapa hal, misalnya kualitas atau mutu cadangan batubara, metode penambangan yang terpilih, serta  kualitas permintaan pasar, maka proses pengolahan batubara, meliputi ruang lingkup proses sebagai berikut:  
a. Melakukan reduksi ukuran (size reduction) melalui penggerusan (crushing)  
b. Melakukan  pemisahan (clasification) melalui pengayakan (screening)  
c. Melakukan  pencampuran (blending) batubara  
d. Melakukan penimbunan/penumpukan batubara (sitockpilling)  
e. Melakukan penanganan limbah air (water pollution treatment).   
 
2. Desain pengolahan batubara  
Dalam upaya mengolah batubara menjadi produk akhir yang diminati konsumen perlu rancangan pengolahan yang komprehensif agar pelayanannya  memuaskan. Rancang bangun unit pengolahan didasarkan  pada faktor-faktor antara lain: target atau permintaan pasar rata-rata,  kualitas batubara dari tambang (raw coal), spesifikasi produk akhir yang diminta, ketersediaan lahan untuk area pengolahan termasuk tempat penimbunan (stockpile) dan ketersediaan air  disekitar area  pengolahan. Semua f aktor tersebut diatas  akan menentukan jenis, dimensi  dan  kapasitas peralatan atau mesin pengolahan yang dibutuhkan serta  flowsheet pengolahan yang sesuai dengan memperhatikan unsur keselamatan kerja.  
 
2.1 Kapasitas produksi  
Kapasitas produksi pengolahan batubara harus mampu mencapai atau memenuhi target produksi optimum yang direncanakan misal, yaitu 2.000.000 ton per tahun dengan kapasitas stockpile sebesar 200.000 ton/2 bulan. Berdasarkan target tahunan tersebut dapat dihitung kapasitas unit pengolahan yang beroperasi 2 shift/hari (8 jam/shift), 28 hari/bulan dan efisiensi kerja 80% sebagai berikut:  
 
T = 0,80 x 16 jam/hari x 28 hari/bulan x 12 bulan/tahun = 4300 jam/tahun  
 
 2.000.000 ton/tahun  
K =
--------------------
= 465 ton/jam
 4300 jam/tahun
 

Loses factor = 8% = 0,08 x 465 = 37 ton/jam   

Kterpasang = 465 + 37 = 502 ton/jam  

Di mana  T dan  K masing-masing adalah waktu produksi  dan kapasitas produksi.  Dengan loses factor sebesar 8% akan diperoleh kapasitas terpasang sekitar 500 ton/jam.  
 
2.2 Kualitas  produksi  
Kualitas produksi hasil proses pengolahan batubara harus dapat me menuhi persyaratan yang diinginkan  pasar. Berdasarkan survey pasar dapat disimpulkan bahwa kualitas batubara yang harus dihasilkan proses pengolahan seperti terlihat pada Tabel berikut :
 

2.3 Prosedur  pengolahan batubara 
Prosedur pengolahan  memperlihatkan tahapan proses pengolahan batubara mulai dari penimbunan raw coal di lokasi pabrik pengolahan sampai produk akhir. Gambar 1 adalah diagram alir (flowsheet) proses pengolahan yang merupakan gambaran dari prosedur pengolahan batubara. 

a. Persiapan  pengumpanan (feeding) 
Sebagai umpan (feed) awal proses pengolahan adalah batubara dari tambang atau ROM atau raw coal yang  ditumpuk di stockpile  di lokasi pengolahan. Ukuran maksimum umpan awal ini direncanakan 300 mm,  sedangkan terhadap umpan yang lebih besar d ari 300 mm  akan dilakukan pengecilan secara manual menggunakan hammer breaker. Baik umpan batubara dari tambang maupun hasil pengecilan ulang semuanya dimasukkan ke hopper menggunakan  wheel loader untuk dilanjutkan ke proses reduksi dan pengayakan sampai diperoleh produkta akhir yang siap jual. 
 
b. Pengay akan dengan Grizzly 
Grizzly berfungsi memisahkan fraksi batubara berukuran +300 mm dengan -300 mm dan posisinya terletak tepat di bawah  hopper. Lubang bukaan (opening) grizzly berukuran 300  mm x 300 mm. Undersize grizzly -300 mm diangkut belt conveyor untuk u mpan crusher primer. Sedangkan fraksi +300 mm di kembalikan ke tumpukan untuk dire duksi ulang menggunakan hammer breaker. Hasil reduksi ulang dikembalikan lagi ke  grizzly untuk pemisahan atau pengayakan ulang. Proses ini berlangsung terus menerus selama shift kerja berlangsung. 

c.  Peremukan tahap awal (primary crusher) 
Proses peremukan awal bertujuan untuk mereduksi ukuran fraksi batubara -300  mm menjadi ukuran rata-rata 150 mm. Dengan  demikian nisbah reduksi (reduction ratio) pada tahap primer ini  adalah 2. Alat yang digunakan adala h roll crusher yang berkapasitas 50 0 ton/jam. Untuk menaksir power atau energi (hp) crusher digunakan rumus Bond Crusher Work Index Equation seperti terlihat berikut ini.
Rencana Pengolahan Batubara
di mana: 
Wi  =  Indeks  kerja (work index) yang diperoleh dari hasil uji kemampu-gerusan (grindability) di lab, untuk batubara sekitar 11,37 
C  =  konstanta dari pabrik pembuat unit crusher, biasanya di atas 10 tergantung jenis bahan metal pembentuk crusher tersebut. Untuk batubara diambil 10 
F  =  diameter umpan yang 80% lolos (hasil uji analisis ayak di lab),   
P  =  diameter produkta yang 80% lolos (hasil uji analisis ayak di lab),   
Faktor  =  konstanta jenis crusher, untuk primer = 0,75 dan sekunder = 1 
 
Hasil perhitungan untuk menaksir  kebutuhan energi crusher primer  dengan menggunakan persamaan (1) dan (2) hasilnya sebagai berikut: 
F = dijamin konsisten berukuran -300 mm (300.000) sebanyak 80% 
P = dijamin konsisten berukuran -150 mm (150.000) sebanyak 80%
faktor = 0,75 (crusher primer)
 
Rencana Pengolahan Batubara
d. Pengayakan (screening) tahap-1 
Proses pengayakan adalah salah satu proses  yang bertujuan untuk  mengelompokan ukuran fraksi batubara, sehingga disebut juga dengan proses  classification. Alat yang dipakai untuk pengayakan biasanya ayakan getar (vibrating screen). Pada pengolahan batubara ini proses  pengayakan tahap awal menggunakan vibrating screen-1 untuk memisahkan fraksi ukuran +150 mm dan -150 mm. Fraksi -150 mm  adalah umpan  secondary crusher, sedangkan + 150 mm diresirkulasi sebagai umpan crusher primer untuk diremuk ulang. Produkta dari proses pengayakan harus selalu dijaga konsistensi laju kapasitasnya sebanyak 500 ton/jam. Untuk itu perlu dilakukan penaksiran dimensi (panjang dan lebar) dari ayakan (screen) yang harus dipasang. 
 
Terdapat beberapa metoda untuk menentukan dimensi screen dan  cara yang dipakai dalam rancangan unit screen  dalam studi ini adalah cara grafis dengan beberapa rangkuman konstanta (faktor) yang diperlukan  seperti terlihat pada Tabel 2. Konstanta tersebut merupakan faktor yang  
telah disesuaikan dengan kondisi di lapangan yang umumnya digunakan untuk pengayakan batubara. Gambar 2.a adalah kurva untuk menghitung produkta hasil pengayakan (ton/jam/ft²) dan Gambar 2.b  hubungan  antara lebar  ayakan dengan laju  produkta per  inci bed  depth (ketebalan lapisan aggregate batubara di atas ayakan)  dengan kecepatan 1 ft/sec. Kapasitas screen dirumuskan sebagai berikut: 
 
K = P x E x D x F x W x T x B     (3) 
 
di mana: 
K  =  kapasitas, ton/jam/sqft 
P  =  produksi, ton/jam/sqft 
E, D, F, W, T dan B adalah faktor seperti terlihat pada Tabel 2 
 
Tabel 1. Faktor dan konstanta pengukuran luas screen 

Rencana Pengolahan Batubara
Gambar 1. Diagram alir proses pengolahan batubara

Rencana Pengolahan Batubara
 
Gambar 2. Pengestimasi laju produkta dan bed depth

Rencana Pengolahan Batubara

Hubungan Antara Produksi (ton/jam/cuft) dengan ukuran produkta dan Hubungan Antara Lebar Ayakan dengan Bed depth pada Kecepatan Alir 1 ft/sec 
   
Berikut adalah tahapan perhitungan dimensi vibrating screen-1 untuk mengayak batubara 150 mm. 
(1)  Asumsi kondisi proses (sesuai konstanta atau scoring pada Tabel 2)

Posisi deck paling atas dengan opening 150 mm   6 inci; D = 1,00 
Diasumsikan umpan bermuatan 60% berukuran -3 inci; F = 1,40

Spesifikasi  oversize hasil pengayakan masih mengandung 10% berukuran -6 inci; E = 1,25 
Bentuk lubang bukaan bujursangkar (square) berukuran 6¼” x 6¼”; T =1,00 
Densitas aggregate batubara 60 lbs/cuft (dibandingkan dengan densitas batubara berbasis 60 lbs/cuft, sesuai kurva pada Gambar 2.a); B = 60
60 = 1,00 
Tidak dilakukan penyemprotan di atas screen; W = tidak ada skor 
Laju pengumpanan 625 ton/jam  dengan kandungan -6 ” = 80%,  jadi kemungkinan produkta lolos = 0,8 x 625 = 500 ton/jam. 
 
(2)  Luas screen yang diperlukan 
Dari kurva pada Gambar 2.a diperoleh 4 ton/jam per sqft 
Kapasitas (pers. 3) = 4 x 1,25 x 1 x 1,4 x 1x 1 = 7 ton/jam per sqft 
Laju produksi = 0,8 x 625 = 500 ton/jam 
Luas screen yang diperlukan = 
500 / 7 = 71,43 sqft 

(3) Perhitungan  bed depth 
Digunakan kurva pada Gambar 2.b dengan kemiringan screen 18º 
Dipertimbangkan pengurangan lebar screen total akibat diameter kawat ayakan sekitar  6”. Kemudian dicoba lebar screen 5 ft (lebar bersih 4 ft-6”) 
Dari Gambar 2.b diestimasi laju produksi terbaca 40 ton/jam per inci ketebalan aggregate batubara pada kecepatan 1 ft/sec = 60 ft/men (densitas aa ggregat 60 lbs/cuft dan  lebar efektif screen 4 ft-6”) 
Bila kecepatan aliran batubara pada kemiringan 18º = 55 ft/men, maka laju aggregate per inci bed depth =
40 x 55 / 60 = 37 ton/jam per inci bed depth 
Oversize = (0,20 x 625) + (0,10 x 500) = 175 ton/jam 
Jadi bed depth = 
175 / 37 = 5”

Bila dibandingkan bed depth (5”) dengan ukuran fraksi batubara yang diayak rata-rata 6”, maka akan terbentuk hanya satu layer di atas permukaan screen. Untuk memperoleh efisiensi pengayakan yang tinggi perlu dilaku kan simulasi dengan mengubah sudut screen. 
Dari perhitungan luas screen diatas, yaitu 71,43 sqft, kemudian disesuaikan dengan spesifikasi unit screen  dari pabrik  pembuatnya. Sebagai contoh screen buatan NORDBERG seri RS yang berukuran 5 x 16 ft, yaitu TY516RS dapat digunakan. Luas screen TY516RS adalah 80 sqft berarti lebih besar dari perhitungan dan power yang  diperlukan antara 15–20 HP  (11–15 kW). Pemilihan screen tersebut didasari oleh tidak adanya di mensi screen yang sesuai persis dengan hitungan dan screen dengan seri tersebut  yang paling mendekati. Disamping itu screen jenis  ini dimanfaatkan untuk pemisahan partikel kasar maupun halus serta material yang bersifat lembab dan lengket, jadi cocok untuk pengayakan  batubara. Keuntungan lainnya adalah kapasitas pengayakan dapat ditambah. 
 
e.  Peremukan sekunder (secondary crushing) 
Proses peremukan sekunder bertujuan untuk mereduksi ukuran fraksi batubara -150 mm  menjadi ukuran rata-rata 50 mm,  dengan demikian nisbah reduksi pada tahap sekunder ini adalah 3. Alat yang digunakan sama seperti peremuk primer, yaitu  roll crusher berkapasitas 500  ton/jam. Dilihat dari besarnya nisbah reduksi, yang lebih besar dibanding peremuk primer, maka dapat diperkirakan bahwa energi yang  diperlukan akan lebih besar pula. Taksiran energi tersebut dihitung sebagai berikut: 
F = dijamin konsisten berukuran -150 mm (150.000  ) sebanyak 80% 
P = dijamin konsisten berukuran -50 mm (50.000  ) sebanyak 80% 
faktor = 1,00 (crusher sekunder)

Rencana Pengolahan Batubara

e. Pengayakan tahap-2 
Jenis alat  yang dipakai adalah  vibrating screen  yang  digunakan  untuk memisahkan fraksi berukuran -50 mm. Umpan yang masuk adalah hasil peremukan dari crusher sekunder berukuran -150 mm. Agar memperoleh kapasitas sesuai dengan target, maka perhitungan dimensi ayakan pada tahap-2 ini sama seperti yang telah diuraikan pada perhitungan dimensi ayakan tahap-1. 

 

(1)  Asumsi kondisi proses (sesuai konstanta atau scoring pada Tabel 2) 

Posisi deck paling atas dengan opening 50 mm ---> 2 inci; D = 1,00 
Diasumsikan umpan bermuatan 60% berukuran -1 inci; F = 1,40 
Spesifikasi oversize hasil pengayakan masih mengandung  10% berukuran -2 in ci; E = 1,25 
Bentuk lubang bukaan bujursangkar (square) berukuran 2¼” x 2¼”; T =1,00 
Densitas aggregate batubara 60 lbs/cuft (dibandingkan dengan densitas batubara berbasis 60 lbs/cuft, sesuai kurva pada Gambar 2.a); B = 60/60 = 1,00 
Tidak dilakukan penyemprotan di atas screen; W = tidak ada skor 
Laju pengumpanan 625 ton/jam  dengan ka ndungan -2 ” = 80%,  jadi kemungkinan produkta lolos = 0,8 x 625 = 500 ton/jam. 
 
(2)  Luas screen yang diperlukan 
Dari kurva pada Gambar 2.a diperoleh 2,9 ton/jam per sqft 
Kapasitas (pers. 3) = 2,9 x 1,25 x 1 x 1,4 x 1x 1 = 5,10 ton/jam per sqft 
Laju produksi = 0,8 x 625 = 500 ton/jam 
Luas screen yang diperlukan = 
500 / 5,1 =  98,04 sqft

(3) Perhitungan bed depth 
Digunakan kurva pada Gambar 2.b dengan kemiringan screen 18º 
Dipertimbangkan pengurangan lebar screen total akibat diameter kawat ayakan sekitar 6”. Kemudian dicoba lebar screen 5 ft (lebar bersih 4 ft-6”) 
Dari Gambar 2.b diestimasi laju produksi terbaca 40 ton/jam per inci  ketebalan aggregate batubara pada kecepatan 1 ft/sec = 60 ft/men  (densitas a ggregat 60 lbs/cuft dan lebar efektif screen 4 ft-6”) 
Bila kecepatan aliran batubara pada kemiringan 18º = 55 ft/men, maka laju aggregate per inci bed depth =
40 x 55/60 = 37 ton/jam per inci bed depth 
Oversize = (0,20 x 625) + (0,10 x 500) = 175 ton/jam 
Jadi bed depth = 
175 / 37 = 5” 

Bila dibandingkan bed depth (5”) dengan ukuran fraksi batubara yang diayak rata-rata 2”, maka akan terbentuk hanya dua layer di atas permukaan screen. Untuk memperoleh efisiensi pengayakan yang tinggi perlu dilakukan simulasi dengan mengubah sudut screen. Dari perhitungan luas screen di ata s, yaitu 98.04 sqft, ke mudian disesuaikan den gan spesifikasi unit screen  dari pabrik  pembuatnya. Sebagai contoh screen buatan NORDBERG seri RS yang berukuran 6 x 20 ft, yaitu TY620RS dapat digunakan. Luas screen  TY620RS adalah 120 sqft berarti lebih  besar dari  perhitungan yang mempunyai keuntungan bahwa kapasitas pengayakan dapat ditambah. Atau dengan pesanan khusus agar dimensi screen sesuai dengan hasil perhitungan. Power yang diperlukan oleh seri screen di atas antara 20-40HP (15-30 kW).   

3.  Proses penyampuran batubara (blending) 
Hasil pengolahan terhadap batubara dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok,  yaitu batubara high grade dan low grade. Untuk mendapatkan kualitas batubara yang sesuai dengan permintaan pasar dilakukan  blending batubara  high dan  low grade  dengan perbandingan  tertentu. Faktor penting yang harus diperhatikan dalam proses blending adalah: 
a.  Kuantitas batubara yang ada di stockpile 
b.  Parameter apa yang menjadi tolok ukur blending, biasanya kalori 
c.  Variasi parameter batubara yang akan di blending 
d. Peralatan blending yang memadai 
e. Kapasitas stockpile harus mencukupi 
Apabila permintaan pasar sesuai de ngan kualitas batubara yang ada di  stockpile, maka tidak perlu dilakukan blending. 
Persamaan umum yang digunakan untuk blending sebagai berikut:

Rencana Pengolahan Batubara

dimana: 

Qb =  Kualitas blending 
Qn  =  Kualitas variasi tumpukan batubara-1, 2, 3, …, n 
Nn  =  Berat batubara yang diambil dari tumpukan batubara-1, 2, 3,…,n 
 
Terdapat dua cara melakukan blending, yaitu menggunakan system stacking conveyor (stacker) dan melalui bin yang dilengkapi conveyor feeder seperti sketsa pada Gambar 3 dan Gambar 4.

Rencana Pengolahan Batubara

Dengan menggunakan stacker conveyor harus dilakukan proses penimbunan yang menghasilkan perlapisan teratur agar  diperoleh ratio campuran yang relatif memadai. Oleh sebab  itu terdapat  3 model blending, yaitu  chevron,  windrow dan  chevron-windrow, yang menghasilkan berbagai perlapisan seperti terlihat pada Gambar 5.

Rencana Pengolahan Batubara
 
Gambar 5. Timbunan blending batubara  menggunakan stacker conveyor 


Blending menggunakan sistem control melalui bin  dan feeders den gan kecepatan bervariasi biasanya menghasilkan blending yang lebih baik dibanding menggunakan stacker conveyor. Hal ini disebabkan adanya pengontrolan sebagai berikut: 
a. Kecepatan feeder dari setiap bin da pat divariasikan, sehingga tonase yang diproduksi setiap feeder bervariasi juga sesuai dengan yang telah ditetapkan; 
b. Umpan yang masuk bin  dan yang keluar dari setiap feeder  dapat diko ntrol menggunakan alat Ratio Unit; 
c. Pemantauan tonage produksi blending dilakukan oleh alat kontrol belt weighter; 
d. Distribusi hasil blending pada tumpukan akhir relatif lebih merata.  
 
4.  Kolam pengendap (settling pond) 
Kolam pengendap perlu direncanakan dibangun di  lokasi  pengolahan batubara.  Air hujan yang melewati tumpukan batubara di areal stockpile berpeluang mencemarkan lingkungan, baik secara fisik maupun kimia. Secara fisik terjadi ketika  aliran air hujan yang melewati tumpukan batu bara akan membawa partikel batubara halus keluar dari tumpukan yang membuat aliran air tersebut menjadi berwarna hitam. Apabila aliran air yang keluar dari  tumpukan batubara masuk ke  sungai, maka dapat menimbulkan pencemaran secara fisik terhadap sungai. Secara kimia terjadi ketika air hujan bereaksi den gan unsur-unsur kimia y ang terkandung dalam mineral yang berasosiasi dengan batubara, misalnya pyrite dan marcasite. Reaksi kimia ini berupa reaksi oksidasi yang dapat menjadikan air hujan bersifat asam seperti ditunjukkan oleh persamaan reaksi berikut ini. 
2 FeS2 + 7O2 + 2 H2O -------------> 2 FeSO4 + 2 H2SO4
 
Dengan adanya kolam pengendap, maka partikel halus didalam air limbah atau buangan yang keluar dari lokasi pengolahan batubara akan  diendapkan dan sekaligus dinetralkan kembali menggunakan gamping (lime). Air limbah yang sudah diolah (treatment) dapat dialirkan ke sungai. Diharapkan kolam pengendap ini  menjadi solusi untuk mengurangi dampak negatif lingkungan akibat aliran air  kotor  dari tumpukan batubara . Kolam pengendap dibuat pada topografi paling rendah yang biasanya dekat dengan sungai,  sehingga  jarak pengaliran air bersih ke  sungai menjadi pendek.

Dimensi kolam disesuaikan dengan debit aliran air kotor yang keluar,  namun ukuran panjang  x  lebar x dalam sekitar 25 m  x 25 m x 2,5  m dapat dibuat sebagai standard. Apabila kurang, maka dapat dibuat beberapa kolam dengan ukuran yang sama. 
 
5.  Tata letak diunit pengolahan dan sekitarnya 

Pada prinsipnya unit pengolahan harus selalu dekat dengan sungai karena kaitannya dengan pekerjaan pembersihan unit-unit pengolahan, aktifitas penyaliran dan sarana transportasi pengiriman produk akhir ke konsumen. Untuk  mendapatkan luas lahan minimum bagi lokasi  pengolahan dan sekitarnya perlu dipertimbangkan beberapa faktor antara lain: 
a. Jumlah dan luas stockpile untuk timbunan raw batubara agar memenuhi target; 
b. Jumlah dan luas produk akhir (finished product) batubara yang siap diangkut ke konsumen; 
c. Luas pabrik pengolahan atau processing area; 
d. Luas perkantoran dan sekitarnya; 
e. Sarana penunjang lain, misalnya jalan angkut , panjang  konveyor, area maneuver alat muat (loader) dan water treatment. 
 
a. Geometri dan luas raw coal stockpile  
Untuk memenuhi target produksi yang direncanakan sebesar 2.000.000 ton/tahun diperlukan cadangan raw coal stockpile  yang mampu  menampung sekitar 200.0 00 ton/2 bulan. Berdasarkan cadangan raw coal  tersebut perlu diketahui bentuk bangun timbunan batubara, sehingga dapat dipersiapkan luas lahannya dengan perhitungan sebagai berikut : 
Bentuk bangun timbunan batubara adalah limas terpancung (lihat Gambar 6) yang volumenya adalah  1/3 t x (B  +  A  + VB + A), di mana B, A dan t masing-masing adalah luas bidang bawah, luas bidang atas dan tinggi;

Rencana Pengolahan Batubara

Gambar 6.  Bentuk bangun dan geometri raw coal stockpile 

Diambil panjang dan lebar alas timbunan 200  m, Tinggi 4 m dan sudut kemiringan lereng timbunan 35º.  
LB = panjang atau lebar sisi alas = 200 m, LA dicari sebagai berikut:

Rencana Pengolahan Batubara

Dengan estimasi densitas raw coal = 1,6 Ton/m³, maka berat (W) timbunan raw coal = 241.685 ton/timbunan

Dibandingkan dengan target 200.000 ton/2 bulan/timbunan, maka estimasi dimensi timbunan batubara seperti pada Gambar 6 di atas dapat diterima. 
 
b. Geometri  dan luas product coal stockpile  
Stockpile ini digunakan untuk menampung sementara batubara hasil pengolahan. Timbunan batubara terbentuk dari curahan belt conveyor, sehingga bentuknya adalah kerucut (lihat Gambar 7). Kapasitas timbunan 100.000 ton/bulan, maka dimensinya dihitung sebagai berikut: 
*). Diestimasi diameter lingkaran bawah = 100 m,  sudut kemiringan timbunan batubara 35º dan tinggi tumpukan maksimum 10  m, maka diameter lingkar an atas = 

Rencana Pengolahan Batubara

=  71,4 m

Rencana Pengolahan Batubara

Gambar 7. Bentuk bangun dan geometri product coal stockpile 

Volume dihitung dengan rumus  1/3 ∏ h (R2 + r2 + Rr), di mana h,  R dan r masing-masing adalah tinggi kerucut, jari-jari lingkaran bawah dan jari-jari lingkaran atas.  
V  =  
1/3 ∏ 10 (102 + 35,72 + (10 x 35,7)) = 58.220 m³ 
Dengan estimasi densitas produk batubara 1,8 Ton/m³, maka berat (W) timbunan produk akhir batubara = 104.800 ton/timbunan 
 
Dibandingkan dengan target 100.000 ton/bulan/timbunan, maka estimasi dimensi timbunan batubara seperti pada Gambar 7 di atas dapat diterima. 
 
c.  Dampak timbunan batubara terhadap subsidence  
Pembebanan dari stockpile batubara dapat  menyebabkan lapisan dibawahnya  mengalami pemampatan. Pemampatan tersebut disebabkan oleh adanya deformasi partikel tanah, keluarnya air atau udara dari dalam pori-pori tanah dan getaran crusher serta alat-alat pengolahan lainnya. 
Secara umum penurunan tanah  tersebut dibagi dalam dua kelompok, yaitu (1) penurunan konsolidasi dan (2) penurunan segera: 
(1)  Penurunan “konsolidasi” terjadi akibat berubahnya  volume tanah jenuh air akibat keluarnya air dari pori-pori tanah tersebut. Biasanya peristiwa ini memakan waktu lama. 
(2)  Penurunan “segera” terjadi setelah terjadi penambahan tegangan akibat beban timbunan batubara diatasnya dan tidak berpengaruh terhadap kadar air tanah.  Timbunan batubara menimbulkan penyebaran tegangan pada lapisan  tanah di bawahnya yang dapat dianalisis dengan cara pendekatan. 
 
Penurunan “segera” tidak diperhitungkan karena penuruannya kecil sekali dibanding penurunan “konsolidasi” dan juga karena terbatasnya parameter yang dibutuhkan. Sementara penurunan konsolidasi diasumsikan terjadi dengan merembesnya air ke dua arah (double drainage), yaitu keatas dan kebawah. Karena umur tambang batubara diperkirakan hanya sekitar 5  tahun, maka pengaruh penurunan konsolidasi ini pun kurang begitu signifikan. Estimasi penurunan tanah akibat timbunan batubara untuk jangka waktu 5 tahun ± 0,5 m sedangkan penurunan yang diijinkan ± 3 m.




[Top]

Friday, 22 January 2010 | 1566 hits | Print | PDF |  E-mail | Report
6. Metode Tambang Batubara
  • Currently 1.20/5
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
1.2/5 (5 votes)
Minerals/Minerals
Author:Administrator
Tags: Metode Tambang Batubara, Tambang, Minerals

1. SISTEM PENAMBANGAN BATUBARA
Sistem penambangan batubara ada 3, yaitu:
- Penambangan Terbuka
- Penambangan Bawah Tanah
- Penambangan dengan Auger

1.1 Penambangan batubara terbuka
1.1.1 Kegiatan dalam tambang batubara terbuka

Kegiatan-kegiatan dalam tambang batubara terbuka adalah sebagai berikut.
a. Persiapan daerah penambangan
b. Pengupasan dan penimbunan tanah humus
c. Pengupasan tanah penutup
d. Pemuatan dan pembuangan tanah penutup (misalnya dengan shovel dan truk, BWE, dan dragline)
e. Penggalian batubara
f. Pemuatan dan pengangkutan batubara
g. Penirisan tambang
h. Reklamasi

1.1.2 Macam-macam tambang batubara terbuka
Pengelompokan jenis-jenis tambang terbuka batubara didasarkan pada letak endapan, dan alat-alat mekanis yang dipergunakan. Teknik penambangan pada umumnya dipengaruhi oleh kondisi geologi dan topografi daerah yang akan ditambang. Jenis-jenis tambang terbuka batubara dibagi menjadi :

1) Contour mining
Contour mining cocok diterapkan untuk endapan batubara yang tersingkap di lereng pegunungan atau bukit. Cara penambangannya diawali dengan pengupasan tanah penutup (overburden) di daerah singkapan di sepanjang lereng mengikuti garis ketinggian (kontur), kemudian diikuti dengan penambangan endapan batubaranya. Penambangan dilanjutkan ke arah tebing sampai dicapai batas endapan yang masih ekonomis bila ditambang.

Menurut Robert Meyers, contour mining dibagi menjadi beberapa metode, antara lain :

a. Conventional contour mining
Pada metode ini, penggalian awal dibuat sepanjang sisi bukit pada daerah dimana batubara tersingkap. Pemberaian lapisan tanah penutup dilakukan dengan peledakan dan pemboran atau menggunakan dozer dan ripper serta alat muat front end leader, kemudian langsung didorong dan ditimbun di daerah lereng yang lebih rendah (Gambar 1.1). Pengupasan dengan contour stripping akan menghasilkan jalur operasi yang bergelombang, memanjang dan menerus mengelilingi seluruh sisi bukit.  

b. Block-cut contour mining
Pada cara ini daerah penambangan dibagi menjadi blok-blok penambangan yang bertujuan untuk mengurangi timbunan tanah buangan pada saat pengupasan tanah penutup di sekitar lereng. Pada tahap awal blok 1 digali sampai batas tebing (highwall) yang diijinkan tingginya. Tanah penutup tersebut ditimbun sementara, batubaranya kemudian diambil. Setelah itu lapisan blok 2 digali kira-kira setengahnya dan ditimbun di blok 1. Sementara batubara blok 2 siap digali, maka lapisan tanah penutup blok 3 digali dan berlanjut ke siklus penggalian blok 2 dan menimbun tanah buangan pada blok awal.

Pada saat blok 1 sudah ditimbun dan diratakan kembali, maka lapisan tanah penutup blok 4 dipidahkan ke blok 2 setelah batubara pada blok 3 tersingkap semua. Lapisan tanah penutup blok 5 dipindahkan ke blok 3, kemudian lapisan tanah penutup blok 6 dipindahkan ke blok 4 dan seterusnya sampai selesai (Gambar 1.2). Penggalian beruturan ini akan mengurangi jumlah lapisan tanah penutup yang harus diangkut untuk menutup final pit.

Metode Tambang Batubara

Gambar 1.1 Conventional Contour Mining (Anon, 1979)

Metode Tambang Batubara
Gambar 1.2 Block-Cut Contour Mining (Anon, 1979)

c. Haulback contour mining
Metode haulback ini (Gambar 1.3 dan 1.4) merupakan modifikasi dari konsep block-cut, yang memerlukan suatu jenis angkutan overburden, bukannya langsung menimbunnya. Jadi metode ini membutuhkan perencanaan dan operasi yang teliti untuk bisa menangani batubara dan overburden secara efektif.

Ada tiga jenis perlatan yang sering digunakan, yaitu :
a. Truk atau front-end loader
b. Scrapers
c. Kombinasi dari scrapers dan truk

Metode Tambang Batubara 

Gambar 1.3 Teknik Haulback Truck dengan menggunakan Front-End Loader (Anon, 1979)

Metode Tambang Batubara

Gambar 1.4 Haulback dengan menggunakan kombinasi scraper dan truk  (Chioronis, 1987)


d. Box-cut contour mining
Pada metode box-cut contour mining ini (Gambar 1.5) lapisan tanah penutup yang sudah digali, ditimbun pada daerah yang sudah rata di sepanjang garis singkapan hingga membentuk suatu tanggul-tanggul yang rendah yang akan membantu menyangga porsi terbesar dari tanah timbunan.

Metode Tambang Batubara

Gambar 1.5 Metode Box-Cut Contour Mining (Chioronis, 1987)

2) Mountaintop removal method
Metode mountaintop removal method ini (Gambar 1.6) dikenal dan berkembang cepat, khususnya di Kentucky Timur (Amerika Serikat). Dengan metode ini lapisan tanah penutup dapat terkupas seluruhnya, sehingga memungkinkan perolehan batubara 100%.

Metode Tambang Batubara

Gambar 1.6 Mountaintop Removal Method (Chioronis, 1987)

3) Area mining method
Metode ini diterapkan untuk menambang endapan batubara yang dekat permukaan pada daerah mendatar sampai agak landai. Penambangannya dimulai dari singkapan batubara yang  mempunyai lapisan dan tanah penutup dangkal dilanjutkan ke yang lebih tebal sampai batas pit.

Terdapat tiga cara penambangan area mining method, yaitu :

a. Conventional area mining method
Pada cara ini, penggalian dimulai pada daerah penambangan awal sehingga penggalian lapisan tanah penutup dan penimbunannya tidak terlalu mengganggu lingkungan. Kemudian lapisan tanah penutup ini ditimbun di belakang daerah yang sudah ditambang (Gambar 1.7).

Metode Tambang Batubara

Gambar 1.7 Conventional Area Mining Method (Chioronis, 1987)

b. Area mining with stripping shovel
Cara ini digunakan untuk batubara yang terletak 10–15 m di bawah permukaan tanah. Penambangan dimulai dengan membuat bukaan berbentuk segi empat. Lapisan tanah penutup ditimbun sejajar dengan arah penggalian, pada daerah yang sedang ditambang. Penggalian sejajar ini dilakukan sampai seluruh endapan tergali (Gambar 1.8).

c. Block area mining
Cara ini hampir sama dengan conventional area mining method, tetapi daerah penambangan dibagi menjadi beberapa blok penambangan. Cara ini terbatas untuk endapan batubara dengan tebal lapisan tanah penutup maksimum 12 m. Blok penggalian awal dibuat dengan bulldozer. Tanah hasil penggalian kemudian didorong pada daerah yang berdekatan dengan daerah penggalian (Gambar 1.9).

Metode Tambang Batubara

Gambar 1.8 Area Mining With Stripping Shovel (Chioronis, 1987)

Metode Tambang Batubara


Gambar 1.9 Block Area Mining (Chioronis, 1987)

4) Open pit Method
Metode ini digunakan untuk endapan batubara yang memiliki kemiringan (dip) yang besar dan curam. Endapan batubara harus tebal bila lapisan tanah penutupnya cukup tebal.  

a. Lapisan miring
Cara ini dapat diterapkan pada lapisan batubara yang terdiri dari satu lapisan (single seam) atau lebih (multiple seam). Pada cara ini lapisan tanah penutup yang telah dapat ditimbun di kedua sisi pada masing-masing pengupasan (Gambar 1.10).
 

Metode Tambang Batubara

Gambar 1.10 Open Pit Method pada lapisan miring (Hartman, 1987)   

b. Lapisan tebal
Pada cara ini penambangan dimulai dengan melakukan pengupasan tanah penutup dan penimbunan dilakukan pada daerah yang sudah ditambang. Sebelum dimulai, harus tersedia dahulu daerah singkapan yang cukup untuk dijadikan daerah penimbunan pada operasi berikutnya (Gambar 1.11).

Pada cara ini, baik pada pengupasan tanah penutup maupun penggalian batubaranya, digunakan sistem jenjang (benching system).

Metode Tambang Batubara

Gambar 1.11 Open Pit Method  pada lapisan tebal (Hartman, 1987)

1.2 Penambangan batubara bawah tanah
Metode penambangan batubara bawah tanah ada 2 buah yang populer, yaitu:
- Room and Pillar
- Longwall

1.2.1 Room and Pillar
Metode penambangan ini dicirikan dengan meninggalkan pilar-pilar batubara sebagai penyangga alamiah. Metode ini biasa diterapkan pada daerah dimana penurunan (subsidence) tidak diijinkan. Layout Metode Room and Pillar dapat dilihat pada Gambar 1.12. Penambangan ini dapat dilaksanakan secara manual maupun mekanis.

Metode Tambang Batubara

Gambar 1.12 Metode Room and Pillar

1.2.2 Longwall
Metode penambangan ini dicirikan dengan membuat panel-panel penambangan dimana ambrukan batuan atap diijinkan terjadi di belakang daerah penggalian. Layout Metode Longwall dapat dilihat pada Gambar 1.13. Penambangan ini juga dapat dilaksanakan secara manual maupun mekanis.

Metode Tambang Batubara

Gambar 1.13 Metode Longwall

1.3 Penambangan dengan Auger (Auger Mining)
Auger mining adalah sebuah metode penambangan untuk permukaan dengan dinding yang tinggi atau penemuan singkapan (outcrop recovery) dari batubara dengan pemboran ataupun penggalian bukaan ke dalam lapisan di antara lapisan penutup. Auger mining dilahirkan sebelum 1940-an adalah metode untuk mendapatkan batubara dari sisi kiri dinding tinggi setelah penambangan permukaan secara konvensional. Penambangan batubara dengan auger bekerja dengan prinsip skala besar drag bit rotary drill. Tanpa merusak batubara, auger mengekstraksi dan menaikkan batubara dari lubang dengan memiringkan konveyor atau pemuatan dengan menggunakan loader ke dalam truk.

Pengembangan dan persiapan daerah untuk auger mining adalah tugas yang mudah jika dilakukan bersamaan dengan pemakaian metode open cast atau open pit. Setelah kondisi dinding tinggi, auger drilling dapat ditempatkan pada lokasi. Kondisi endapan yang dapat menggunakan metode ini berdasarkan Pfleider (1973) dan Anon (1979) adalah endapan yang memiliki penyebaran yang baik dan kemiringannya mendekati horisontal, serta kedalamannya dangkal (terbatas sampai ketinggian dinding dimana auger ditempatkan, lihat Gambar 1.14 dan 1.15). 

Metode Tambang Batubara

Gambar 1.14 Auger Mining pada lapisan batubara dengan kemiringan lapisan rendah (Salem Tool Inc.,1996)

Metode Tambang Batubara


Gambar 1.15 Auger Mining pada lapisan batubara dengan kemiringan lapisan curam (Salem Tool Inc.,1996)


 


[Top]

Friday, 22 January 2010 | 2375 hits | Print | PDF |  E-mail | Report
7. Pengelompokan Mineral dan Bahan Galian
  • Currently 0.00/5
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
0.0/5 (0 vote)
Minerals/Minerals
Author:Administrator
Tags: mineral, bahan galian

Berdasarkan pemanfaatannya :

FUEL MINERAL :

• COAL

• OIL & GAS

• NUCLEAR ENERGY MINERAL


METALS :

A. FERROUS METALS : 

1. IRON ORE (Fe)

2. FERRO ALLOY ORES :

• MANGANESE (Mn)

• CHROMIUM (Cr)

• NICKEL (Ni)

• VANADIUM (Va)

• MOLYBDENUM (Mo)

• COLUMBIUM (Col)


B. NON FERROUS METALS :

• COPPER (Cu)

• LEAD (Pb)

• ZINC (Zn)

• TIN (Sn)


C. LIGHT METALS :

• ALUMINIUM (Al)

• MAGNESIUM (Mg)

• TITANIUM


D. MINOR METALS :

• ANTIMONY

• BERYLLIUM (Be)

• MERCURY (Hg)

• TUNGSTEN

E. THE PRECIOUS METALS : 

• SILVER (Ag)

• GOLD (Au)

• PLATINUM (Pt)


NON METALLICS :

CONSTRUCTION MINERAL :

• AGGREGATE

• ASBESTOS

• GYPSUM

• CEMENT

• LIME

• VERMICULITE


PLANT FOOD MINERAL :

• PHOSPHATE

• POTASH


MINERAL FILLERS AND FILTERS :

• BARITE

• BENTONITE

• FULLERS EARTH

• DEATOMACEOUS EARTH

• TALC


OTHER NON METALLICS :

1. ABRASIVES

2. CLAY :

• KAOLIN

• BALL CLAY

• FIRE CLAY

• BENTONITE

• FULLER’S  EARTH

3. DIAMONDS

4. FLUORSPAR

5. REFRACTORIES

6. SODIUM SALTS

7. SULFUR


BIJIH BESI

Bijih besi dalam pemasaran diklasifikasikan dalam 3 kategori : 

1. DIRECT SHIPPING

2. CONCENTRATE

3. AGGLOMERATED , pellet atau sinter

Sementara ini penambangan pasir besi di Indonesia oleh PT. Aneka Tambang di daerah Cilacap dan Kutoarjo, diutamakan untuk memasok kebutuhan pabrik semen.


FERRO ALLOY ORE


Alloy-alloy yang paling umum digunakan adalah :

1. Ferro manganese

2. Ferro chrome

3. Ferro silicon

4. Ferro tungsten

5. Ferro phosphorus

6. Ferro vanadium

7. Ferro molybdenum

8. Ferro nickel

9. Ferro columbium

MANGANESE (Mn)

Kegunaan Mangaan :

• 95% untuk kebutuhan industri baja, sebagai ferro manganese maupun sebagai manganese metal.

• 5% untuk pemakaian khusus, seperti baterai, untuk keperluan metalurgi, untuk ditambahkan pada makanan binatang dan pada pupuk sebagai pelengkap mineral.


Sebagai alloy dalam pembuatan baja, mangaan bersifat :

• mengikat dan menyingkirkan oksigen

• mengikat dan menyingkirkan sulfur

• meningkatkan tensile strength

• meningkatkan ductility

• meningkatkan kekerasan

• meningkatkan toughnes

• mengembangkan ketahanan terhadap abrasi.


Perdagangan mangaan :

• konsentrat

• logam.

Mineral berharga dari mangaan adalah Pyrolusit (MnO2).


CHROMIUM (KROMIT)

Kegunaan kromit :

1. pembuatan “stainless steels”

2. paduan baja yang lain

3. super alloy, kromit digunakan karena mempunyai sifat :

• meningkatkan kekerasan

• meningkatkan ketahanan terhadap abrasi dan pemakaian

• meningkatkan “carburization”

4. pasir cetak

5. industri kimia

Variasi dari kadarnya merupakan fungsi dari perbandingan Cr2O3, Al2O3, FeO yang terkandung dalam mineral dan dilusi atau kontaminasi oleh mineral penyerta lainnya.

 

Tipe Bijih

Bijih chromium dikategorikan oleh 3 bentuk pasar  secara umum adalah :


Metallurgical Ore

Dikarenakan chromit ore dilebur dalam electric arc furnace untuk menghasilkan ferrochromium, maka perbandingan Cr:Fe sangat penting. Komponen pengotornya seperti MgO, Al2O3 dan SiO2 sangat diperhatikan untuk mengontrol analisa produksi yang merefleksikan jumlah tenaga listrik yang diperlukan untuk meleburnya.


Refractory Ore

Berhubung bijih langsung digunakan apa adanya dalam pabrik refractory dasar, maka keseragaman ukuran butir sangat penting. Silica mempunyai kecenderungan menurunkan titik lebur, maka diusahakan serendah mungkin.

Kandungan besi yang rendah lebih disukai, tetapi pada industri refractory dapat distabilkan dengan MgO, yang Al2O3.


Chemical Ore

Bijih ini harus mempunyai kandungan silica yang rendah karena produksi chromium chemical dimulai dengan “alkali roast” dan kandungan silica menyebabkan kehilangan alkali. Kandungan Cr2O3 minimum 44%. 


[Top]

Friday, 25 June 2010 | 184 hits | Print | PDF |  E-mail | Report
8. Rencana Bahan Galian Industri
  • Currently 1.00/5
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
1.0/5 (1 vote)
Minerals/Minerals
Author:Administrator
Tags: Rencana Bahan Galian Industri, Bahan Galian, Tambang, Industri
I. PENGERTIAN
Macam BAHAN GALIAN menurut pemanfaatannya :
-Bahan Galian logam (besi, timah, tembaga, nikel, perak)
-Bahan Galian energi ( batubara )
-Bahan Galian industri ( asbes, aspal, andesit, bentonit, belerang, batugamping, batu apung, dolomit, diatom, feldspar, gypsum, halite, kromit, pasir kwarsa, perlit, pospor, talk, zeolit)

BAHAN GALIAN  : semua Bahan Galian diluar Bahan Galian logam, energi, radioaktif yg dapat digunakan dalam industri tertentu.

TINJAUAN UMUM RENCANA BAHAN  GALIAN 
2.1.Manfaat BAHAN GALIAN :
1. sebagai Galian industri pendukung maupun pokok spt pd bidang kesehatan, pendidikan, peternakan, pertanian, perumahan dll.
2. penyedia lapangan pekerjaan shg mengurangi pengangguran
3. meningkatkan pendapatan asli daerah, menunjang otonomi daerah
4. dapat mengembangan daerah
5. dapat meningkatkan devisa negara
6. dapat memberdayakan masyarakat.

Perbedaan Bahan Galian industri dengan bijih
Bahan Galian  :
-dimanfaatkan sifat fisiknya
-dpt langsung dipasarkan
-uk, warna, kadar, derajat keputihan
-sederhana, canggih, murah
-modal dpt kecil, perusahaan mudah
Bijih :
-dimanfaatkan logamnya
-tdk dpt langsung dijual
-persyaratan konsumen biasanya kadar
-penambangan, pengolahan, canggih/ mahal
-modal besar, pengusahaan sulit/rumit

2.2 Ciri umum Bahan Galian 
-pengolahan & penambangan menggunakan alat sederhana, bila produksi besar dpt digunakan peralatan canggih.
-produk dipasarkan lokal akan mudah, sering pasar mjd sempit
-resiko pengusahaan kecil krn modal kecil
-perijinan relatif lebih mudah
-masalah lingk kurang diperhatikan
-masalah utama pd modal manajemen, teknik pengolahan, pasar
-harga relatif mudah (kecuali dibentuk seni)

2.3. Permasalahan dan pemecahan pada Bahan Galian  :
1. Modal umumnya Bahan Galian  dikelola oleh masyarakat yg mempunyai modal kecil sehingga untuk pengembangan sulit. Mengatasinya ada mitra kerja binaan seperti BUMN/BUMD yg mempunyai dana dipinjamkan dgn bunga rendah (6/ th jangka waktu angsuran lama).
2. Teknologi & manajemen setiap org yg mpy modal meskipun pendidikan rendah dpt mengusahakan Bahan Galian. Pengetahuan teknologi kurang mengatasinya dilaksanakan sibermas (sinergi pemberdayaan masyarakat) dari PT, LSM< pemerintah, mitra kerja dpt membantunya
3. Sempitnya pasar. Pengusaha tdk tahu manfaat Bahan Galian  scr pasti banyak pengusaha yg ikut2an, kualitas produk tdk perrhatikan, asosiasi yg merupakan pst informasi tdk berjalan, kalah bersaing dgn Bahan Galian  impor. Mengatasinya penelitian perlu ditingkatkan, memvariasikan produk, kualitas produk dijaga, disiplin waktu, mengaktifkan asosiasi, ada aturan/ perangkat lunak ttg impor, tingkatkan kerja sama, ikut pameran baik diluar/ dlm negeri.

3. MACAM-MACAM PENGELOMPOKAN BAHAN GALIAN 
3.1.Berdasarkan teknologi pengolahan :
1. Bahan Galian  siap pakai : Bahan Galian yg dpt langsung dijual tanpa teknik pengolahan (pasir kali)
2. Bahan Galian  teknologi sedang : Bahan Galian  yg dijual melalui teknologi pengolahan seperti peremukan, penggilingan, sizing, slucing (psr kwarsa, batu gamping, bentonit)
3. Bahan Galian  teknologi maju : Bahan Galian  yg diolah dgn cara flotasi, magnetik separation, pelarutan (kaolin & feldspar utk keramik, phospat utk pupuk)

3.2.berdasarkan batuan asal/ asosiasinya:
1. Berkaitan dgn batuan sedimen
a. batugamping (dolomit, kalsit, fosfat, gipsum) tjd krn proses sedimentasi bhn yg mengandung karbonat.
b. batuan sedimen lainnya (bentonit, ballclay, fire clay, zeolit, feldspar, yodium, mangaan) mrpkn sedimen tersier, piroklastik, berbutir halus, biasanya tjd dlm lingkungan air.
2. Berkaitan dgn batuan gunung api
kegiatan gunung api menghasilkan material lepas bersifat asam sampai basa, berukuran debu sampai bongkah, melalui proses geologi dan dlm kurun waktu ttu akan berubah mjd Bahan Galian  (obsidian, batuapung, belerang, trachit, opal, kalsedon, pasir, andesit, basalt)
3. Berkaitan dgn intrusi plutonik bat asam dan ultrabasa
berkaitan dgn kegiatan intrusi (granit, granodiorit, bauksit, feldspar, mika (bat. Asam), gabro, peridotit, asbes (ultrabasa)
4. berkaitan dengan endapan residu (lempeng residu, kaolin, zircon, psr kwarsa, kalsidon, intan, kuarsa kristal)
5. berkaitan dengan proses ubahan hidrothermal (kaolin, magnetite, talk, pirofilit)

4. PENAMBANGAN DAN PENGOLAHAN BAHAN GALIAN 
4.1.Eksplorasi
dimaksudkan untuk mengetahui kualitas dan kuantitas Bahan Galian serta penyebarannya (sifat fisik, kimia, cadangan, kadar) dgn tahapan : pemetaan, pembuatan sumur uji, analisis dan perhitungan.

4.2.Penambangan
Tambang hrs berwawasan lingkungan dgn tahapan : pembabatan, pengupasan & penimbunan tanah pucuk, pembongkaran pemuatan pengangkutan, kegiatan lingkungan hidup.
Peralatan
Sederhana : linggis, sekop, cangkul
Canggih: bulldozer, powershovel, pemboran peledakan.

4.3. Pengolahan:
-peremukan/ penggilingan, sizing : utk mendptkan ukuran yg sesuai dgn permintaan pasar (andesit, asbes, mangaan, bentonit)
-pencucian, sluicing, siklon, magnetik separation : agar bersih dari kotoran (psr kwarsa, psr besi, psr kali)
-flotasi : agar memenuhi persyaratan kadar (feldspar)

5. PERAN PEMERINTAH DAN PENGEMBANGAN USAHA PERTAMBANGAN BAHAN GALIAN 

BRET : Buku Rencana Eksplorasi Tambang memuat hal2 yg berkaitan langsung dgn kegiatan usaha pertambangan bhn galian golongan c antara lain teknik pertambangan, lingkungan dan ekonomi.

5.1.Peran pemerintah:
1. membuat kebijaksanaan strategis
2. memberikan pelayanan, petunjuk kpd pengusaha terutama dlm hal perijinan
3. mengadakan pembinaan, pemantauan, dan membantu dlm mengusahakan modal, penataan manajemen, teknologi, pemasaran
4. menciptakan kondisi yg kondusif dlm menunjang keberadaan Bahan Galian 
5. menata lembaga pemerintahan, meningkatkan sdm
6. berperan sebagai Galian mediator yg baik, fasilitator terutama dlm hal kemitraan yg sejati
7. mengawasi jalannya penambangan berkaitan dgn keamanan keselamatan kerja, ketertiban, kesejahteraan karyawan.

5.2.Bimbingan dan pembinaan pemerintah kepada pengusaha meliputi :
1.mempelajari/ memahami peraturan per UU yg berlaku
2.memahami setiap bagian pekerjaan yg akan dilakukan, termasuk tata cara penambangan.
3.mengantisipasi semua dampak yg mungkin timbul
4. memahami & melaksanakan hak & kewajibannya selaku pemegang SIPD
5. memahami sanksi yg dikenakan bila melanggar peraturan

5.3.Upaya pengawasan pemerintah:
1.peningkatan frek & kualitas pengawasan meliputi fisik & adsminitrasi
2. penerapan buku kendali agar hub pengawas dgn pengusaha lancar
3. penyederhanaan format laporan, pengawasan cepat
4. pengecekan laporan produksi, perlu meningkatkan sarana & fasilitas penunjang pengawasan
5. peningkatan koordinasi pengawasan dgn instansi terkait.
6. pengawasan thd lingkungan demi kesinambungan pembangunan, pengaman dan penyelamat kekayaan daerah/negara.

5.4.Hambatan pd pemerintah:
1. otonomi daerah belum mantap
2. SDM masih kurang
3. fasilitas penunjang terbatas
4. koordinasi antar instansi masih belum lancar
5. masih banyak pengusaha yg belum memp ijin

5.5.Hambatan pd Pengusaha:
1.pertumbuhan usaha cepat, tenaga ahli tdk seimbang, kualitas sdm rendah
2. profesionalisme pengelolaan relatif rendah
3. kurangnya pemahaman peraturan yg berlaku.

5.6.Upaya pengendalian pemerintah:
1. memberi pengarahan pd pertemuan berkala antara pemerintah dgn pemegang sipd
2. saran, intruksi, teguran, peringatan ditulis dlm buku kendali/ surat dinas.
3. penghentian kegiatan sementara/ pencabutab sipd bagi pengusaha yg nakal
4. pembentukan asosiasi konsumen maupun produsen
5. pengembangan pd kemitraan
6. penerbitan penambangan tanpa ijin dan menerbitkan siop (surat ijin operasional penambangan) yg merupakan jembatan proses pembuatan sipd

5.7.Peran assosiasi:
1. memberikan informasi kpd konsumen maupun produsen
2. menstabilkan harga Bahan Galian 
3. mencegah persaingan yg tdjk sehat
4. membantu pemerintah dlm hal pembinaan, pengawasan, transfer teknologi, kemitraan dan pemasaran

5.8. Peran mitra kerja:
1.membantu dan membina permodalan
2. ikut membantu dlm hal pemasaran, penelitian
3. memonitor perkembangan perusahaan

5.9.Peran PT:
1. membantu penelitian dan informasi hasil penelitian
2. membantu di bid teknologi, sdm dan informasi pemasaran
3. Melibatkan mhs sebagai Galian pendamping
4. Melaksanakan sibermas yg mrpkn perwujudan dr tridharma PT
5. Menyelenggarakan kursus/ seminar yg melibatkan pengusaha.

5.10.Konsep Pengembangan BAHAN GALIAN  :
1. Penyedia bhn baku industri dlm negeri
2. Peningkatan ekspor & penerimaan negara
3. Penganeka ragaman hsl/produk Bahan Galian 
4. Peningkatan effisiensi Bahan Galian 
5. Peningkatan eksplorasi dan pemetaan Bahan Galian 
6. Pengembangan pengolahan dlm negeri
7. meningkatkan transfer teknologi
8. memperluas kesehatan kerja

5.11.Pemerintah menunjang konsep:
1.meningkatkan peran investor dlm negeri
2.memberikan bantuan modal, teknologi, manajemen, pasar, training
3.perlu standarisasi produk namun tdk kaku sebab Bahan Galian  dpt utk berbagai industri

5.12.Bahan Galian sulit berkembang krn:
1. adanya pandangan yg salah thd Bahan Galian 
2. Bahan Galian  berkembang dr masalah yg komplek
3. assosiasi mineral industri indonesia (amii) yg berdiri di bwh kadin kurang aktif

5.13.Pandangan yg salah thd Bahan Galian :
1. cadangan Bahan Galian  tdk ada yg besar
2. harga Bahan Galian  rendah
3. Bahan Galian  tdk menarik investor
4. psr dan pengembangan sulit.
 
 

[Top]

Wednesday, 07 July 2010 | 180 hits | Print | PDF |  E-mail | Report



Powered by AlphaContent 4.0.13 © 2005-2010 - All rights reserved

Recent Post

  • Apparent Dip
  • Peta Topografi Dan Digitasi Peta
  • Lowongan Kerja Tambang PT. Britmindo; various positions
  • Lowongan Kerja Tambang A fast growing mining contracting company; 2 positions
  • Lowongan Kerja Tambang A Mining Company; various positions
  • Lowongan Kerja Tambang Sumatra Copper and Gold Plc; 3 positions
  • Lowongan Kerja Tambang Verity; 10 positions
  • Lowongan Kerja Tambang Perusahaan Kontraktor Pertambangan; 5 posisi
  • Lowongan Kerja Tambang Verity; 5 positions
  • Lowongan Kerja Tambang Perusahaan Swasta Nasional di bidang Pertambangan; 2 posisi

Popular Post

  • Mining
  • Mine Design
  • Eksplorasi
  • Eksploitasi
  • Feasibility Study
  • Pengantar Perencanaan Tambang
  • Pengolahan Bahan Galian
  • Reklamasi
  • Prospeksi
  • Sejarah Tambang

100s Inspirational World Wisdoms

YouCMSAndBlog Module Generator Wizard Plugin
Categories
  • Tambang Today
  • Tambang Info
  • Tambang and Energy
  • Kamus Teknik
  • Tips dan Trik Computer
  • Cari Artikel
  • The Journey
  • Mineral Gallery
  • Rock Gallery
Job Vacancy
  • Mine Engineering Jobs
  • Lowongan Kerja Tambang
  • Mining Jobs
  • Mining Oil and Gas Jobs
  • Cari Lowongan Kerja
Share
Page Rank

Copyright © 2010 ---.
All Rights Reserved.

Thanksgiving clipart courtesy of http://clipart.peirceinternet.com || Designed by ST Joomla Templates.