Popular |
Latest News |
Welcome To Boss Tambang
Results 1 - 8 of 8
|
Minerals/Minerals
Author:Administrator
a. Bahan galian vital (vital minerals) Bahan galian yang bemilai vital untuk menjamin hajat hidup orang banyak berdasarkan undang-undang yang berlaku, misal : Besi, bauksit, tembaga, timbal, seng, yodium, dan belerang. b. Bahan galian strategis (strategic mineral) Bahan galian yang mempunyai arti strategis untuk pertahanan, keamanan, dan ketahanan ekonomi negara berdasarkan undang-undang yang berlaku, misal : Minyak bumi, gas alam, batu bara, uranium, nikel, dan timah bahan galian tak vital dan tak strategis - nonvital and nonstrategis c. Bahan galian tak vital dan tak strategis (nonvital and nonstrategic minerals) Bahan galian yang sifatnya tidak langsung memerlukan pasaran yang bersifat internasional atau bisa juga disebut Bahan galian industri (industrial mineral) merupakan Bahan galian tambang bukan bijih yang pada umumnya digunakan sebagai bahan baku industri; penggunaan dalam industri banyak ditentukan oleh sifat fisika seperti warna, ukuran partikel, kekerasan, plastisitas, daya serap, dan lain-lain, misalnya batu gamping, bentonit, kaolin, zeolit, fosfat, mika, tawas, batu permata, pasir kuarsa, kaolin, dan marmer. ![]() |
|
Minerals/Minerals
Author:Administrator
1. Potensi batubara Indonesia yang sangat besar 2. Penduduk Indonesia sebagian besar tinggal di pedesaan 3. Dapat dilaksanakan dengan teknologi sederhana, dengan investasi yang rendah 4. Batubara Indonesia mudah pecah dan bernilai kalori tinggi 5. Memanfaatkan batubara bubuk yang tidak dipakai sukar ditransport, menjadi lebih bermanfaat 6. Adanya endapan batubara dengan cadangan terbatas (10 juta ton) yang dapat dimanfaatkan secara skala kecil untuk daerah sekitarnya 7. Kebijaksanaan pemerintah untuk mengurangi pemakaian minyak dan kayu bakar A. Teknik Pembriketan Batubara a. Sifat briket yang baik 1. Tidak berasap dan tidak berbau pada saat pembakaran 2. Mempunyai kekuatan tertentu sehingga tidak mudah pecah waktu diangkat dan dipindah-pindah 3. Mempunyai suhu pembakaran yang tetap (± 3500C) dalam jangka waktu yang cukup panjang (8-10 jam) 4. Setelah pembakaran masih mempunyai kekuatan tertentu sehingga mudah untuk dikeluarkan dari dalam tungku masak 5. Gas hasil pembakaran tidak mengandung gas karbon monoksida yang tinggi b. Jenis briket Dikenal 2 jenis briket yaitu : 1. Type yontan (silinder) untuk keperluan rumah tangga Type ini lebih dikenal dan popular, disebut dengan yontan, suatu nama local berbentuk silinder dengan garis tengah 150 mm, tinggi 142 mm, berat 3,5 kg dan mempunyai lubang-lubang sebanyak 22 lubang 2. Type egg (telor) untuk keperluan industry dan rumah tangga Type ini juga dipergunakan untuk bahan bakar industry kecil seperti untuk pembakaran kapur, bata, genteng, gerabah, pandai besi dan sebagainya, tetapi juga untuk keperluan rumah tangga. Jenis ini mempunyai lebar 32-39 mm panjang 46-58 mm dan tebal 20-24 mm c. Teknis pembuatan Proses pembuatan briket yontan cukup sederhana. Batubara bubuk ( 5 mm) diberi air (10%) ditekan dengan mesin tekan pembriketan pada tekanan 120 kg/cm2 sehingga diperoleh briket. Untuk type telor perlu ditambah molasses (7%) dan diroll pada mesin briket type roll d. Parameter dalam pembuatan briket Beberapa parameter dalam pembuatan briket antara lain sebagai berikut : 1. Ukuran butir batubara 2. Tekanan mesin pada waktu pembriketan 3. Kadar air yang terkandung dalam batubara Beberapa pengalaman, briket dengan kuat tekan > 6 kg/cm2 cukup kuat dan tidak mudah pecah pada saat dibawa, diangkut dan diangkat. e. Karakteristik pembakaran Sifat pembakaran adalah sangat penting disamping tergantung dari sifat batubaranya. Karakteristik pembakaran briket ini (lama dan suhu pembakaran) tergantung pula dari besarnya udara yang terbakar (air supply) dan nilai kalori batubaranya. Makin besar udara yang ikut terbakar makin pendek lama pembakaran briket dan makin tinggi nilai kalori batubara yang dibuat briket makin lama waktu pembakaran. Makin besar udara yang diberikan (dengan membuka udara kompor masak) makin pendek waktu pembakaran briket walaupun diperoleh suhu maksimum yang lebih tinggi. B. Pembuatan Briket Dari Batubara Contoh batubara digerus sampai ukuran 5 mm, selanjutnya ditambah lempung (20%) sebagai bahan pengikat dan air 10%. Analisa batubara contoh sebagai berikut : Table analisa kimia batubara contoh korea
Penambahan lempung dimaksudkan untuk memperoleh kekuatan dan besarnya relative didekatkan dengan kadar ash dan briket yontan korea. a. Kuat tekan Dari hasil penekanan dengan mesin pembriketan yang sama diperoleh data sebagai berikut :
Hasil yang diperoleh memberikan data bahwa kuat tekan berikut adalah cukup baik (> 6 kg/cm2) b. Karakteristik pembakaran Dari hasil pembakaran diperoleh data sebagai berikut : 1. Berasap cukup banyak dan berbau tajam 2. Suhu pembakaran tertinggi sedikit lebih tinggi daripada briket korea yaitu 6500C – 7000C (briket korea 6000C 3. Lama waktu pembakaran pada suhu 3500C ternyata jauh lebih pendek ± 2,5 jam, sedang briket korea 8 jam Dengan mengatur pipa bukaan udara lebih kecil diharapkan waktu pembakaran lebih panjang. Catatan : penambahan lempung dapat menyerap bau tar dan mempertinggi kualitas briket walaupun dapat mengurangi nilai kalornya. Sebaiknya dipergunakan batubara dengan ash tinggi c. Meniadakan asap dan bau Percobaan untuk mengurangi/meniadakan asap dan bau dari briket batubara telah dilakukan dengan mengurangi volatile matter. Hal ini dapat ditempuh dengan melakukan karbonisasi terhadap batubara pada suhu rendah dan ternyata berhasil baik. Hanya masalah lama waktu pembakaran dari briket batubara ini masih relative lebih pendek yaitu sekitar ± 4 jam. (Sumber : Batubara & Gambut, Ir. Sukandarrumidi, MSc. Phd) |
|
Minerals/Minerals
Author:Administrator
Endapan gambut dataran rendah (low land peat) di Indonesia telah dikenal sangat luas sebarannya sesuai dengan bentangan dataran rendah pantai, tetapi sampai saat ini perkiraan cadangan masih terlalu kasar. Shell (1983) memperkirakan bahwa endapan gambut yang berketabalan lebih dari 1 m yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan energy mencakup dataran rendah lebih dari 17 juta hectare tersebar di Sumatera, Kalimantan dan Irian Jaya. Sejak puluhan tahun terakhir ini timbul gagasan baru untuk membangun daerah terpencil. Hal ini diperkuat oleh laporan Euroconsult (1984) yang antara lain menyatakan bahwa dalam jangka panjang dan tersedianya konsumen, industry pertambangan gambut sebagai bahan pembangkit listrik untuk daerah terpencil di Indonesia akan dapat berkompetisi dengan pembangkit listrik bahan bakar minyak. Daerah gambut topogenus lebih bermanfaat untuk lahan pertanian disbanding dengan daerah gambut ombrogenus karena gambut topogenus mengandung relative lebih banyak nutrisi. Kedua jenis gambut tersebut pada hakikatnya secara megaskropis agak sukar didefinisikan secara pasti karena kompleknya tahapan proses pembusukan.Komposisi gambut menentukan mutu dan kegunaannya yang dipengaruhi oleh beberapa factor seperti kandungan zat prganik, abu, bulk density, kandungan kayu, dll. Sumber : Batubara dan Gambut, Ir. Sukandarrumdi, MSc, PHd |
|
Minerals/Minerals
Author:Administrator
Tags: Ekonomi Bahan Galian, Mineral
PRINSIP-PRINSIP EKONOMI MINERAL Ekonomi tidak terlepas dari biaya-biaya yang ditimbulkan oleh suatu kegiatan, baik itu biaya langsung maupun biaya tidak langsung. Biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan suatu barang atau jasa merupakan salah satu unsur terpenting dalam pengelolaan perusahaan, sebab besar kecilnya biaya akan menentukan besar kecilnya keuntungan yang akan diperoleh. Oleh sebab itu biaya mempunyai pengertian semua pengeluaran yang dapat diukur dengan uang, baik yang telah, sedang maupun yang akan dikeluarkan untuk menghasilkan suatu produk. 1. Komponen Biaya Untuk memudahkan analisa, secara umum biaya dikelompokkan berdasarkan kriteria tertentu, antara lain : A. Menurut keterlibatan biaya dalam pembuatan produk : 1. biaya langsung yaitu adalah biaya-biaya yang timbul akibat kegiatan yang berhubungan langsung dengan proses produksi. 2. biaya tak langsung yaitu biaya pengeluaran uang yang disebabkan oleh kegiatan-kegiatan yang tidak berhubungan langsung dengan proses produksi. 3. biaya komersial yaitu biaya tak langsung yang digunakan untuk mendukung kegiatan produksi, dibagi atas : a. Biaya penjualan: pengeluaran yang dilakukan dalam rangka kegiatan penjualan suatu produk. b. Biaya administrasi: pengeluaran yang dilakukan untuk keperluan administrasi guna mendukung kelancaran proses produksi. Dalam industri pertambangan lebih dikenal pengelompokan biaya menjadi : 1. biaya kapital (biaya investasi) 2. biaya operasi. 1.2. Biaya Capital Biaya capital atau biaya investasi pada umumnya diartikan sebagai jumlah biaya yang dibutuhkan untuk membuat suatu endapan bahan galian yang berada di dalam bumi menjadi produk tambang yang dapat dijual. Biaya kapital terdiri dari dua komponen penting, yaitu : a. biaya kapital tetap b. modal kerja. Jika tambang yang akan dikerjakan merupakan tambang baru, maka biaya tetap biasanya terdiri dari komponen-komponen berikut : 1. Land Acquisition (pembebasan lahan), biayanya tergantung kepada luas dan lokasi lahan. 2. Konstruksi pra-penambangan (pengupasan tanah penutup, dan sebagainya). 3. Pembangunan tambang/masa konstruksi 4. Analisa Dampak Lingkungan. 5. Peralatan tambang, bangunan, sarana lain. 6. Peralatan pabrik, bangunan, sarana lain. 7. Sarana penunjang (jalan, listrik, perumahan, sarana olahraga, instalasi air, dan sebagainya). 8. Jasa perancangan dan konsultasi. 9. Contingency. Sedangkan modal kerja adalah biaya yang digunakan untuk memulai produksi sebelum perusahaan mendapat kan uang dan hasil penjualan produknya. Besarnya modal kerja umumnya adalah 25% dari biaya operasi atau mencukupi kebutuhan operasi selama 3-6 bulan. Secara umum, besarnya modal kerja dapat dihitung dengan rumus dibawah ini :
Harga Y tergantung pada jalur pemasaran produk tambangnya (lamanya produk sampai dipasar dan lamanya pembayaran atas produk tersebut). Modal kerja umumnya terdiri dari komponen-komponen biaya sebagai berikut : 1. Persediaan - Bahan baku, berupa dimana cadangan endapan mineral/bijih yang ekonomis yang belum dilaksanakan proses penambangan. - Suku cadang, yang berguna apabila terjadi ker usakan pada alat-alat penambangan - Supplies, merupakan stock dari suatu perusahan tambang yang berupa perlengkapan habis sekali pakai seperti perlengkapan kantor, bahan bakar, bahan pelumas, dll. - Bahan dalam proses (materials-in- process), berupa endapan mineral/bijih yang sedang atau dalam proses penambangan atau dalam proses pengolahan (mineral dressing). - Bahan jadi/produk tambang, merupakan bahan galian/bijih yang telah melalui proses pengolahan yang siap dijual 2. Piutang dagang (A/R) Piutang dagang merupakan suatu modal kerja yang dapat ditarik sewaktu-waktu dari pihak ke-2 sesuai dengan perjanjian dagang (seperti pembayaran diakhir transaksi penjualan komoditas dagang). 3. Hutang dagang (A/P) Merupakan modal kerja yang diperoleh dari or ang lain dalam bentuk pinjaman yang bernilai ekonomis, yang harus dibayar oleh kita apabila telah jatuh tempo sesuai dengan perjanjian dagang kedua belah pihak 4. Kas, dan lain-lain Merupakan cadangan uang yang disimpan yang berguna untuk membiayai kehidupan tambang sehari-hari, dengan periode waktu yang relatif singkat 1.3 Biaya Operasi Biaya operasi didefinisikan sebagai segala macam biaya yang harus dikeluarkan agar proyek penambangan dapat beroperasi/berjalan dengan normal. Dalam suatu operasi penambangan, keseluruhan biaya penambangan akan terdiri dari banyak komponen biaya yang merupakan akibat dari masing-masing tahap kegiatan. Besar kecilnya biaya penambangan akan tergantung pada perancangan teknis sistem penambangan, jenis dan jumlah alat yang digunakan. Diagram berikut ini memperlih atkan tahapan analisis yang harus dilakukan untuk mendapatkan biaya penambangan. Untuk mencapai biaya penambangan yang sekecil mungkin, maka dalam merancang sistem penambangan perlu diperhatikan pemilihan alat yang dapat memberikan biaya produksi per ton yang paling murah. Pemilihan alat (jenis dan merk) sebaiknya tidak dilakukan semata-mata karena besar-kecilnya produksi atau kapasitas alat tersebut. Dari diagram diatas te rlihat bahwa pada dasarnya aspek teknis da n aspek ekonomis tidak dapat berjalan sendiri-sendiri, keduanya akan selalu saling mempengaruhi. Perkiraan biaya investasi alat akan tergantung pada jumlah alat yang dipergunakan dan kapasitas alat yang dipilih. Demikian pula biaya produksi merupakan fungsi dari kapasitas alat yang dipakai. Jadi jelaslah dari diagram tersebut di atas bah wa biaya penambangan yang rendah akan dapat dicapai ji ka rancangan teknis dapat dioptimasi dengan me mperhatikan pemilihan dan jumlah alat yang akan digunakan. Secara umum biaya operasi dibagi menjadi tiga komponen biaya, yaitu : a. biaya operasi langsung b. biaya operasi tak langsung c. biaya overhead 1.3.1 Biaya Operasi Langsung Biaya operasi langsung merupakan biaya utama dan berkaitan langsung dengan produk yang dihasilkan. Walaupun komponen biaya operasi langsung dari satu tambang ke tambang yang lain bervariasi, akan tetapi pada umumnya terdiri dari : 1. Pekerja (pekerja lapangan, pengawas lapangan, dan sebagainya) 2. Bahan bakar (bahan bakar, oli, dan sebagainya) 3. Royalties 4. Persiapan daerah produksi/permukaan kerja 1.3.1 Biaya Operasi Tak Langsung Biaya operasi tak langsung adalah pengeluaran-pengeluaran yang tak terpengaruh oleh produksi yang dihasilkan. Umumnya, terdiri dari : 1. Pekerja (administrasi, keamanan, teknisi, jurubayar, petugas kantor, bengkel dan sebagainya. 2. Asuransi. 3. Penyusutan alat. 4. Pajak. 5. Reklamasi daerah bekas tambang. 6. Perjalanan bisnis, rapat, sumbangan-sumbangan. 7. Keperluan kantor. 8. Humas, dan sebagainya. 1.3.1 Biaya Overhead Biaya overhead dapat/tidak dapat dimasukkan sebagai ko mponen biaya operasi tetapi biaya-biaya ini berpengaruh terhadap total biaya produksi walaupun umumnya mencerminkan biaya-biaya diluar tambang/biaya-biaya perusahaan. Overhead biasanya dikelompokkan menjadi : 1. Penjualan. 2. Administrasi kantor pusat. 2. COST BENEFIT ANALISIS Yang dimaksud dengan analisis benefit – cost adalah : Suatu penilaian secara sistematis terhadap semua ongkos dan semua manfaat dari suatu kebijakan suatu proyek. Cost–benefit meliputi : - “Explicit costs & benefit”: Upah, gaji, bahan - “Implicit costs & benefit” : nilai kesempatan (opportunity cost), penyusutan, dana internal - “External cost & benefit” : ongkos lingkungan - Ongkos dan manfaat murni : consumer surplus Z1 = B – C ; p = inflasi ; r = tingkat bunga nominal 3. Penentuan ROR, BESR, BEP 3.1 Pengertian ROR = Rate of Return : Tingkat penge mbalian / tingkat bunga yang diterima investor atas investasi yang tidak diamortisasikan ROR = Rate of Reinvestment : Tingkat bunga yang harus diperoleh melalui reinvestasi pendapatan (Income) setiap periode agar nilai akhir dari income setiap periode tersebut sama dengan biaya yang harus dikeluarkan pada saat itu. Perbedaannya : - Bila cost dikeluarkan pada akhir umur proyek setelah memperoleh income tahunan, maka tingkat bunga yang didapat merupakan RORe investment - Bila cost dikeluarkan pada awal umur proyek lalu diikuti income tahunan, maka yang didapat ROReturn BESR = Break Even Stripping Ratio : Jumlah perbandingan antara biaya penambangan bawah tanah setelah dikurangi biaya penambangan terbuka dengan biaya pengupasan overbourden BEP = Break Even Point : Volume / jumlah penjualan dan atau volume produksi, dimana suatu perusahaan yang menghasilkan suatu produk tertentu tidak mengalami kerugian dan juga tidak memperoleh laba. Dengan kalimat lain, merupakan level produksi dari suatu operasi dimana pendapatan (income) yang diperoleh tepat sama dengan biaya total (total cost) yang dikeluarkan. 4. SENSITIVITY ANALYSIS Dalam teknologi yang maju, seorang manajer yang sukses harus membuat suatu keputusan yang mempengaruhi kelangsungan hidup perusahaan tambang dengan menggambarkan secara sistematis pengetahuan khususnya, ketersediaan informasi, dan kecakapan dari para pegawainya, karena dalam evaluasi proyek dan penentuan keputusan tidak selamanya seorang manager mengeluarkan suatu kepusan yang tepat. Pada analisa sebelumnya yang melibatkan “nilai uang” ternyata ada suatu faktor yang mempengaruhi analisa pengambilan keputusan yaitu analisis sensibilitas, seperti nilai escalasi dollar terhadap rupiah, inflasi mata uang, pengaruh nilai jual komoditi, dll. Pengaruh perkiraan ketidakpastian masa depan terhadap keputusan. Suatu teknik untuk menganalisis pengaruh suatu variabel atau parameter terhadap suatu kesimpulan / keputusan semula. Tujuan daripada “sensitivity analysis” dalam evaluasi ekonomi adalah : a. Menganalisis / mengevaluasi pengaruh dari ketidakpastian pada suatu investasi dengan cara menentukan sejauh mana parameter- parameter profitabilitas suatu alternative investasi mempengaruhi hasil evaluasi ekonomi b. Mengidentifikasikan apakah perubahan variabel–variabel kritis dapat mempengaruhi tingkat keuntungan. Kepekaan ini dapat juga dianalisis dengan metoda, diantaranya : a. Initial Investment Sensitivity Analysis (Analisa sensitivitas terhadap investasi langsung) b. Project Life Sensitivity Analysis (Analisa sensitivitas tehadap umur proyek) c. Annual Profit Analysis (Analisis keuntungan tahunan) d. Salvage Value Analysis (Analisis Nilai Sisa) 5. Analisis biaya – volume – laba : Analisis kepekaan pengaruh perubahan volume terhadap pendapatan bersih a. Pengaruh biaya berubah Contoh : Biaya produksi batu naik Rp. 5.000,- menjadi Rp. 7.000,-/ton Harga jual Rp. 9.000,-/ton, B. Tetap Rp. 200.000,- X ---> 9.000 X = 7.000 X + 200.000 ---> Rp. 200.000,- ---> X = 100 X ---> 50 ---> 100t Contoh : 1 + J = BB + BT + n 9.000 X = 5.000 X + 200.000 + 0 4.000 X = 200.000 X 50 t (BEP) b. Pengaruh biaya tetap Contoh : * 200.000,- ---> 400.000,- 4000.000 x 400.000 ---> 100 (dari 50) t c. Pengaruh harga jual Contoh : * 9.000/t ---> 10.000 Rp/t 10.000 X = 5.000 X + 200.000 + 0 5.000 X = 200.000 X = 40 t |
|
Minerals/Minerals
Author:Administrator
1. Tujuan proses pengolahan Dikaitannya dengan rencana pemasaran dan operasi penambangan batubara, maka pengadaan proses pengolahan batubara (Coal Processing Plant /CCP) bertujuan untuk mengolah batubara menjadi produk batubara ( product area ) yang sesuai dengan permintaan pasar. Dengan mempertimbangkan beberapa hal, misalnya kualitas atau mutu cadangan batubara, metode penambangan yang terpilih, serta kualitas permintaan pasar, maka proses pengolahan batubara, meliputi ruang lingkup proses sebagai berikut: a. Melakukan reduksi ukuran (size reduction) melalui penggerusan (crushing) b. Melakukan pemisahan (clasification) melalui pengayakan (screening) c. Melakukan pencampuran (blending) batubara d. Melakukan penimbunan/penumpukan batubara (sitockpilling) e. Melakukan penanganan limbah air (water pollution treatment). 2. Desain pengolahan batubara Dalam upaya mengolah batubara menjadi produk akhir yang diminati konsumen perlu rancangan pengolahan yang komprehensif agar pelayanannya memuaskan. Rancang bangun unit pengolahan didasarkan pada faktor-faktor antara lain: target atau permintaan pasar rata-rata, kualitas batubara dari tambang (raw coal), spesifikasi produk akhir yang diminta, ketersediaan lahan untuk area pengolahan termasuk tempat penimbunan (stockpile) dan ketersediaan air disekitar area pengolahan. Semua f aktor tersebut diatas akan menentukan jenis, dimensi dan kapasitas peralatan atau mesin pengolahan yang dibutuhkan serta flowsheet pengolahan yang sesuai dengan memperhatikan unsur keselamatan kerja. 2.1 Kapasitas produksi Kapasitas produksi pengolahan batubara harus mampu mencapai atau memenuhi target produksi optimum yang direncanakan misal, yaitu 2.000.000 ton per tahun dengan kapasitas stockpile sebesar 200.000 ton/2 bulan. Berdasarkan target tahunan tersebut dapat dihitung kapasitas unit pengolahan yang beroperasi 2 shift/hari (8 jam/shift), 28 hari/bulan dan efisiensi kerja 80% sebagai berikut: T = 0,80 x 16 jam/hari x 28 hari/bulan x 12 bulan/tahun = 4300 jam/tahun
Loses factor = 8% = 0,08 x 465 = 37 ton/jam Kterpasang = 465 + 37 = 502 ton/jam Di mana T dan K masing-masing adalah waktu produksi dan kapasitas produksi. Dengan loses factor sebesar 8% akan diperoleh kapasitas terpasang sekitar 500 ton/jam. 2.2 Kualitas produksi Kualitas produksi hasil proses pengolahan batubara harus dapat me menuhi persyaratan yang diinginkan pasar. Berdasarkan survey pasar dapat disimpulkan bahwa kualitas batubara yang harus dihasilkan proses pengolahan seperti terlihat pada Tabel berikut : 2.3 Prosedur pengolahan batubara a. Persiapan pengumpanan (feeding) c. Peremukan tahap awal (primary crusher) Proses peremukan awal bertujuan untuk mereduksi ukuran fraksi batubara -300 mm menjadi ukuran rata-rata 150 mm. Dengan demikian nisbah reduksi (reduction ratio) pada tahap primer ini adalah 2. Alat yang digunakan adala h roll crusher yang berkapasitas 50 0 ton/jam. Untuk menaksir power atau energi (hp) crusher digunakan rumus Bond Crusher Work Index Equation seperti terlihat berikut ini. ![]() di mana: Wi = Indeks kerja (work index) yang diperoleh dari hasil uji kemampu-gerusan (grindability) di lab, untuk batubara sekitar 11,37 C = konstanta dari pabrik pembuat unit crusher, biasanya di atas 10 tergantung jenis bahan metal pembentuk crusher tersebut. Untuk batubara diambil 10 F = diameter umpan yang 80% lolos (hasil uji analisis ayak di lab), P = diameter produkta yang 80% lolos (hasil uji analisis ayak di lab), Faktor = konstanta jenis crusher, untuk primer = 0,75 dan sekunder = 1 Hasil perhitungan untuk menaksir kebutuhan energi crusher primer dengan menggunakan persamaan (1) dan (2) hasilnya sebagai berikut: F = dijamin konsisten berukuran -300 mm (300.000) sebanyak 80% P = dijamin konsisten berukuran -150 mm (150.000) sebanyak 80% faktor = 0,75 (crusher primer) d. Pengayakan (screening) tahap-1 Proses pengayakan adalah salah satu proses yang bertujuan untuk mengelompokan ukuran fraksi batubara, sehingga disebut juga dengan proses classification. Alat yang dipakai untuk pengayakan biasanya ayakan getar (vibrating screen). Pada pengolahan batubara ini proses pengayakan tahap awal menggunakan vibrating screen-1 untuk memisahkan fraksi ukuran +150 mm dan -150 mm. Fraksi -150 mm adalah umpan secondary crusher, sedangkan + 150 mm diresirkulasi sebagai umpan crusher primer untuk diremuk ulang. Produkta dari proses pengayakan harus selalu dijaga konsistensi laju kapasitasnya sebanyak 500 ton/jam. Untuk itu perlu dilakukan penaksiran dimensi (panjang dan lebar) dari ayakan (screen) yang harus dipasang. Terdapat beberapa metoda untuk menentukan dimensi screen dan cara yang dipakai dalam rancangan unit screen dalam studi ini adalah cara grafis dengan beberapa rangkuman konstanta (faktor) yang diperlukan seperti terlihat pada Tabel 2. Konstanta tersebut merupakan faktor yang telah disesuaikan dengan kondisi di lapangan yang umumnya digunakan untuk pengayakan batubara. Gambar 2.a adalah kurva untuk menghitung produkta hasil pengayakan (ton/jam/ft²) dan Gambar 2.b hubungan antara lebar ayakan dengan laju produkta per inci bed depth (ketebalan lapisan aggregate batubara di atas ayakan) dengan kecepatan 1 ft/sec. Kapasitas screen dirumuskan sebagai berikut: K = P x E x D x F x W x T x B (3) di mana: K = kapasitas, ton/jam/sqft P = produksi, ton/jam/sqft E, D, F, W, T dan B adalah faktor seperti terlihat pada Tabel 2 Tabel 1. Faktor dan konstanta pengukuran luas screen Gambar 1. Diagram alir proses pengolahan batubara Gambar 2. Pengestimasi laju produkta dan bed depth Hubungan Antara Produksi (ton/jam/cuft) dengan ukuran produkta dan Hubungan Antara Lebar Ayakan dengan Bed depth pada Kecepatan Alir 1 ft/sec Posisi deck paling atas dengan opening 150 mm 6 inci; D = 1,00 Spesifikasi oversize hasil pengayakan masih mengandung 10% berukuran -6 inci; E = 1,25 Bila dibandingkan bed depth (5”) dengan ukuran fraksi batubara yang diayak rata-rata 6”, maka akan terbentuk hanya satu layer di atas permukaan screen. Untuk memperoleh efisiensi pengayakan yang tinggi perlu dilaku kan simulasi dengan mengubah sudut screen.
e. Pengayakan tahap-2 (1) Asumsi kondisi proses (sesuai konstanta atau scoring pada Tabel 2) Posisi deck paling atas dengan opening 50 mm ---> 2 inci; D = 1,00 (3) Perhitungan bed depth
dimana: Qb = Kualitas blending ![]() Dengan menggunakan stacker conveyor harus dilakukan proses penimbunan yang menghasilkan perlapisan teratur agar diperoleh ratio campuran yang relatif memadai. Oleh sebab itu terdapat 3 model blending, yaitu chevron, windrow dan chevron-windrow, yang menghasilkan berbagai perlapisan seperti terlihat pada Gambar 5.
Dimensi kolam disesuaikan dengan debit aliran air kotor yang keluar, namun ukuran panjang x lebar x dalam sekitar 25 m x 25 m x 2,5 m dapat dibuat sebagai standard. Apabila kurang, maka dapat dibuat beberapa kolam dengan ukuran yang sama.
Gambar 6. Bentuk bangun dan geometri raw coal stockpile
Dengan estimasi densitas raw coal = 1,6 Ton/m³, maka berat (W) timbunan raw coal = 241.685 ton/timbunan Dibandingkan dengan target 200.000 ton/2 bulan/timbunan, maka estimasi dimensi timbunan batubara seperti pada Gambar 6 di atas dapat diterima.
= 71,4 m
Gambar 7. Bentuk bangun dan geometri product coal stockpile
|
|
Minerals/Minerals
Author:Administrator
1. SISTEM PENAMBANGAN BATUBARA
Gambar 1.1 Conventional Contour Mining (Anon, 1979)
Gambar 1.3 Teknik Haulback Truck dengan menggunakan Front-End Loader (Anon, 1979) Gambar 1.4 Haulback dengan menggunakan kombinasi scraper dan truk (Chioronis, 1987)
Gambar 1.5 Metode Box-Cut Contour Mining (Chioronis, 1987)
Gambar 1.6 Mountaintop Removal Method (Chioronis, 1987)
Gambar 1.7 Conventional Area Mining Method (Chioronis, 1987)
Gambar 1.8 Area Mining With Stripping Shovel (Chioronis, 1987)
Gambar 1.10 Open Pit Method pada lapisan miring (Hartman, 1987)
Gambar 1.11 Open Pit Method pada lapisan tebal (Hartman, 1987)
Gambar 1.12 Metode Room and Pillar
Gambar 1.13 Metode Longwall
Gambar 1.14 Auger Mining pada lapisan batubara dengan kemiringan lapisan rendah (Salem Tool Inc.,1996)
|
|
Minerals/Minerals
Author:Administrator
Tags: mineral, bahan galian
Berdasarkan pemanfaatannya : FUEL MINERAL : • COAL • OIL & GAS • NUCLEAR ENERGY MINERAL METALS : A. FERROUS METALS : 1. IRON ORE (Fe) 2. FERRO ALLOY ORES : • MANGANESE (Mn) • CHROMIUM (Cr) • NICKEL (Ni) • VANADIUM (Va) • MOLYBDENUM (Mo) • COLUMBIUM (Col) B. NON FERROUS METALS : • COPPER (Cu) • LEAD (Pb) • ZINC (Zn) • TIN (Sn) C. LIGHT METALS : • ALUMINIUM (Al) • MAGNESIUM (Mg) • TITANIUM D. MINOR METALS : • ANTIMONY • BERYLLIUM (Be) • MERCURY (Hg) • TUNGSTEN
E. THE PRECIOUS METALS : • SILVER (Ag) • GOLD (Au) • PLATINUM (Pt) NON METALLICS : CONSTRUCTION MINERAL : • AGGREGATE • ASBESTOS • GYPSUM • CEMENT • LIME • VERMICULITE PLANT FOOD MINERAL : • PHOSPHATE • POTASH MINERAL FILLERS AND FILTERS : • BARITE • BENTONITE • FULLERS EARTH • DEATOMACEOUS EARTH • TALC OTHER NON METALLICS : 1. ABRASIVES 2. CLAY : • KAOLIN • BALL CLAY • FIRE CLAY • BENTONITE • FULLER’S EARTH 3. DIAMONDS 4. FLUORSPAR 5. REFRACTORIES 6. SODIUM SALTS 7. SULFUR BIJIH BESI Bijih besi dalam pemasaran diklasifikasikan dalam 3 kategori : 1. DIRECT SHIPPING 2. CONCENTRATE 3. AGGLOMERATED , pellet atau sinter Sementara ini penambangan pasir besi di Indonesia oleh PT. Aneka Tambang di daerah Cilacap dan Kutoarjo, diutamakan untuk memasok kebutuhan pabrik semen. FERRO ALLOY ORE Alloy-alloy yang paling umum digunakan adalah : 1. Ferro manganese 2. Ferro chrome 3. Ferro silicon 4. Ferro tungsten 5. Ferro phosphorus 6. Ferro vanadium 7. Ferro molybdenum 8. Ferro nickel 9. Ferro columbium
MANGANESE (Mn) Kegunaan Mangaan : • 95% untuk kebutuhan industri baja, sebagai ferro manganese maupun sebagai manganese metal. • 5% untuk pemakaian khusus, seperti baterai, untuk keperluan metalurgi, untuk ditambahkan pada makanan binatang dan pada pupuk sebagai pelengkap mineral. Sebagai alloy dalam pembuatan baja, mangaan bersifat : • mengikat dan menyingkirkan oksigen • mengikat dan menyingkirkan sulfur • meningkatkan tensile strength • meningkatkan ductility • meningkatkan kekerasan • meningkatkan toughnes • mengembangkan ketahanan terhadap abrasi. Perdagangan mangaan : • konsentrat • logam. Mineral berharga dari mangaan adalah Pyrolusit (MnO2). CHROMIUM (KROMIT) Kegunaan kromit : 1. pembuatan “stainless steels” 2. paduan baja yang lain 3. super alloy, kromit digunakan karena mempunyai sifat : • meningkatkan kekerasan • meningkatkan ketahanan terhadap abrasi dan pemakaian • meningkatkan “carburization” 4. pasir cetak 5. industri kimia Variasi dari kadarnya merupakan fungsi dari perbandingan Cr2O3, Al2O3, FeO yang terkandung dalam mineral dan dilusi atau kontaminasi oleh mineral penyerta lainnya.
Tipe Bijih Bijih chromium dikategorikan oleh 3 bentuk pasar secara umum adalah : Metallurgical Ore Dikarenakan chromit ore dilebur dalam electric arc furnace untuk menghasilkan ferrochromium, maka perbandingan Cr:Fe sangat penting. Komponen pengotornya seperti MgO, Al2O3 dan SiO2 sangat diperhatikan untuk mengontrol analisa produksi yang merefleksikan jumlah tenaga listrik yang diperlukan untuk meleburnya. Refractory Ore Berhubung bijih langsung digunakan apa adanya dalam pabrik refractory dasar, maka keseragaman ukuran butir sangat penting. Silica mempunyai kecenderungan menurunkan titik lebur, maka diusahakan serendah mungkin. Kandungan besi yang rendah lebih disukai, tetapi pada industri refractory dapat distabilkan dengan MgO, yang Al2O3. Chemical Ore Bijih ini harus mempunyai kandungan silica yang rendah karena produksi chromium chemical dimulai dengan “alkali roast” dan kandungan silica menyebabkan kehilangan alkali. Kandungan Cr2O3 minimum 44%. |
|
Minerals/Minerals
Author:Administrator
I. PENGERTIAN Macam BAHAN GALIAN menurut pemanfaatannya : -Bahan Galian logam (besi, timah, tembaga, nikel, perak) -Bahan Galian energi ( batubara ) -Bahan Galian industri ( asbes, aspal, andesit, bentonit, belerang, batugamping, batu apung, dolomit, diatom, feldspar, gypsum, halite, kromit, pasir kwarsa, perlit, pospor, talk, zeolit) BAHAN GALIAN : semua Bahan Galian diluar Bahan Galian logam, energi, radioaktif yg dapat digunakan dalam industri tertentu. TINJAUAN UMUM RENCANA BAHAN GALIAN 2.1.Manfaat BAHAN GALIAN : 1. sebagai Galian industri pendukung maupun pokok spt pd bidang kesehatan, pendidikan, peternakan, pertanian, perumahan dll. 2. penyedia lapangan pekerjaan shg mengurangi pengangguran 3. meningkatkan pendapatan asli daerah, menunjang otonomi daerah 4. dapat mengembangan daerah 5. dapat meningkatkan devisa negara 6. dapat memberdayakan masyarakat. Perbedaan Bahan Galian industri dengan bijih Bahan Galian : -dimanfaatkan sifat fisiknya -dpt langsung dipasarkan -uk, warna, kadar, derajat keputihan -sederhana, canggih, murah -modal dpt kecil, perusahaan mudah Bijih : -dimanfaatkan logamnya -tdk dpt langsung dijual -persyaratan konsumen biasanya kadar -penambangan, pengolahan, canggih/ mahal -modal besar, pengusahaan sulit/rumit 2.2 Ciri umum Bahan Galian -pengolahan & penambangan menggunakan alat sederhana, bila produksi besar dpt digunakan peralatan canggih. -produk dipasarkan lokal akan mudah, sering pasar mjd sempit -resiko pengusahaan kecil krn modal kecil -perijinan relatif lebih mudah -masalah lingk kurang diperhatikan -masalah utama pd modal manajemen, teknik pengolahan, pasar -harga relatif mudah (kecuali dibentuk seni) 2.3. Permasalahan dan pemecahan pada Bahan Galian : 1. Modal umumnya Bahan Galian dikelola oleh masyarakat yg mempunyai modal kecil sehingga untuk pengembangan sulit. Mengatasinya ada mitra kerja binaan seperti BUMN/BUMD yg mempunyai dana dipinjamkan dgn bunga rendah (6/ th jangka waktu angsuran lama). 2. Teknologi & manajemen setiap org yg mpy modal meskipun pendidikan rendah dpt mengusahakan Bahan Galian. Pengetahuan teknologi kurang mengatasinya dilaksanakan sibermas (sinergi pemberdayaan masyarakat) dari PT, LSM< pemerintah, mitra kerja dpt membantunya 3. Sempitnya pasar. Pengusaha tdk tahu manfaat Bahan Galian scr pasti banyak pengusaha yg ikut2an, kualitas produk tdk perrhatikan, asosiasi yg merupakan pst informasi tdk berjalan, kalah bersaing dgn Bahan Galian impor. Mengatasinya penelitian perlu ditingkatkan, memvariasikan produk, kualitas produk dijaga, disiplin waktu, mengaktifkan asosiasi, ada aturan/ perangkat lunak ttg impor, tingkatkan kerja sama, ikut pameran baik diluar/ dlm negeri. 3. MACAM-MACAM PENGELOMPOKAN BAHAN GALIAN 3.1.Berdasarkan teknologi pengolahan : 1. Bahan Galian siap pakai : Bahan Galian yg dpt langsung dijual tanpa teknik pengolahan (pasir kali) 2. Bahan Galian teknologi sedang : Bahan Galian yg dijual melalui teknologi pengolahan seperti peremukan, penggilingan, sizing, slucing (psr kwarsa, batu gamping, bentonit) 3. Bahan Galian teknologi maju : Bahan Galian yg diolah dgn cara flotasi, magnetik separation, pelarutan (kaolin & feldspar utk keramik, phospat utk pupuk) 3.2.berdasarkan batuan asal/ asosiasinya: 1. Berkaitan dgn batuan sedimen a. batugamping (dolomit, kalsit, fosfat, gipsum) tjd krn proses sedimentasi bhn yg mengandung karbonat. b. batuan sedimen lainnya (bentonit, ballclay, fire clay, zeolit, feldspar, yodium, mangaan) mrpkn sedimen tersier, piroklastik, berbutir halus, biasanya tjd dlm lingkungan air. 2. Berkaitan dgn batuan gunung api kegiatan gunung api menghasilkan material lepas bersifat asam sampai basa, berukuran debu sampai bongkah, melalui proses geologi dan dlm kurun waktu ttu akan berubah mjd Bahan Galian (obsidian, batuapung, belerang, trachit, opal, kalsedon, pasir, andesit, basalt) 3. Berkaitan dgn intrusi plutonik bat asam dan ultrabasa berkaitan dgn kegiatan intrusi (granit, granodiorit, bauksit, feldspar, mika (bat. Asam), gabro, peridotit, asbes (ultrabasa) 4. berkaitan dengan endapan residu (lempeng residu, kaolin, zircon, psr kwarsa, kalsidon, intan, kuarsa kristal) 5. berkaitan dengan proses ubahan hidrothermal (kaolin, magnetite, talk, pirofilit) 4. PENAMBANGAN DAN PENGOLAHAN BAHAN GALIAN 4.1.Eksplorasi dimaksudkan untuk mengetahui kualitas dan kuantitas Bahan Galian serta penyebarannya (sifat fisik, kimia, cadangan, kadar) dgn tahapan : pemetaan, pembuatan sumur uji, analisis dan perhitungan. 4.2.Penambangan Tambang hrs berwawasan lingkungan dgn tahapan : pembabatan, pengupasan & penimbunan tanah pucuk, pembongkaran pemuatan pengangkutan, kegiatan lingkungan hidup. Peralatan Sederhana : linggis, sekop, cangkul Canggih: bulldozer, powershovel, pemboran peledakan. 4.3. Pengolahan: -peremukan/ penggilingan, sizing : utk mendptkan ukuran yg sesuai dgn permintaan pasar (andesit, asbes, mangaan, bentonit) -pencucian, sluicing, siklon, magnetik separation : agar bersih dari kotoran (psr kwarsa, psr besi, psr kali) -flotasi : agar memenuhi persyaratan kadar (feldspar) 5. PERAN PEMERINTAH DAN PENGEMBANGAN USAHA PERTAMBANGAN BAHAN GALIAN BRET : Buku Rencana Eksplorasi Tambang memuat hal2 yg berkaitan langsung dgn kegiatan usaha pertambangan bhn galian golongan c antara lain teknik pertambangan, lingkungan dan ekonomi. 5.1.Peran pemerintah: 1. membuat kebijaksanaan strategis 2. memberikan pelayanan, petunjuk kpd pengusaha terutama dlm hal perijinan 3. mengadakan pembinaan, pemantauan, dan membantu dlm mengusahakan modal, penataan manajemen, teknologi, pemasaran 4. menciptakan kondisi yg kondusif dlm menunjang keberadaan Bahan Galian 5. menata lembaga pemerintahan, meningkatkan sdm 6. berperan sebagai Galian mediator yg baik, fasilitator terutama dlm hal kemitraan yg sejati 7. mengawasi jalannya penambangan berkaitan dgn keamanan keselamatan kerja, ketertiban, kesejahteraan karyawan. 5.2.Bimbingan dan pembinaan pemerintah kepada pengusaha meliputi : 1.mempelajari/ memahami peraturan per UU yg berlaku 2.memahami setiap bagian pekerjaan yg akan dilakukan, termasuk tata cara penambangan. 3.mengantisipasi semua dampak yg mungkin timbul 4. memahami & melaksanakan hak & kewajibannya selaku pemegang SIPD 5. memahami sanksi yg dikenakan bila melanggar peraturan 5.3.Upaya pengawasan pemerintah: 1.peningkatan frek & kualitas pengawasan meliputi fisik & adsminitrasi 2. penerapan buku kendali agar hub pengawas dgn pengusaha lancar 3. penyederhanaan format laporan, pengawasan cepat 4. pengecekan laporan produksi, perlu meningkatkan sarana & fasilitas penunjang pengawasan 5. peningkatan koordinasi pengawasan dgn instansi terkait. 6. pengawasan thd lingkungan demi kesinambungan pembangunan, pengaman dan penyelamat kekayaan daerah/negara. 5.4.Hambatan pd pemerintah: 1. otonomi daerah belum mantap 2. SDM masih kurang 3. fasilitas penunjang terbatas 4. koordinasi antar instansi masih belum lancar 5. masih banyak pengusaha yg belum memp ijin 5.5.Hambatan pd Pengusaha: 1.pertumbuhan usaha cepat, tenaga ahli tdk seimbang, kualitas sdm rendah 2. profesionalisme pengelolaan relatif rendah 3. kurangnya pemahaman peraturan yg berlaku. 5.6.Upaya pengendalian pemerintah: 1. memberi pengarahan pd pertemuan berkala antara pemerintah dgn pemegang sipd 2. saran, intruksi, teguran, peringatan ditulis dlm buku kendali/ surat dinas. 3. penghentian kegiatan sementara/ pencabutab sipd bagi pengusaha yg nakal 4. pembentukan asosiasi konsumen maupun produsen 5. pengembangan pd kemitraan 6. penerbitan penambangan tanpa ijin dan menerbitkan siop (surat ijin operasional penambangan) yg merupakan jembatan proses pembuatan sipd 5.7.Peran assosiasi: 1. memberikan informasi kpd konsumen maupun produsen 2. menstabilkan harga Bahan Galian 3. mencegah persaingan yg tdjk sehat 4. membantu pemerintah dlm hal pembinaan, pengawasan, transfer teknologi, kemitraan dan pemasaran 5.8. Peran mitra kerja: 1.membantu dan membina permodalan 2. ikut membantu dlm hal pemasaran, penelitian 3. memonitor perkembangan perusahaan 5.9.Peran PT: 1. membantu penelitian dan informasi hasil penelitian 2. membantu di bid teknologi, sdm dan informasi pemasaran 3. Melibatkan mhs sebagai Galian pendamping 4. Melaksanakan sibermas yg mrpkn perwujudan dr tridharma PT 5. Menyelenggarakan kursus/ seminar yg melibatkan pengusaha. 5.10.Konsep Pengembangan BAHAN GALIAN : 1. Penyedia bhn baku industri dlm negeri 2. Peningkatan ekspor & penerimaan negara 3. Penganeka ragaman hsl/produk Bahan Galian 4. Peningkatan effisiensi Bahan Galian 5. Peningkatan eksplorasi dan pemetaan Bahan Galian 6. Pengembangan pengolahan dlm negeri 7. meningkatkan transfer teknologi 8. memperluas kesehatan kerja 5.11.Pemerintah menunjang konsep: 1.meningkatkan peran investor dlm negeri 2.memberikan bantuan modal, teknologi, manajemen, pasar, training 3.perlu standarisasi produk namun tdk kaku sebab Bahan Galian dpt utk berbagai industri 5.12.Bahan Galian sulit berkembang krn: 1. adanya pandangan yg salah thd Bahan Galian 2. Bahan Galian berkembang dr masalah yg komplek 3. assosiasi mineral industri indonesia (amii) yg berdiri di bwh kadin kurang aktif 5.13.Pandangan yg salah thd Bahan Galian : 1. cadangan Bahan Galian tdk ada yg besar 2. harga Bahan Galian rendah 3. Bahan Galian tdk menarik investor 4. psr dan pengembangan sulit. |
Powered by AlphaContent 4.0.13 © 2005-2010 - All rights reserved







