Beranda Mining Geology Survey Minerals Heavy Equipment Surface Mining Kamus Tambang Minescape Surpac Mining Act Mining Live Download

Popular

Latest News

Rencana Pengolahan Batubara

PostDateIconFriday, 22 January 2010 15:42 | PostAuthorIconWritten by Administrator | PDF Print E-mail
Minerals - Minerals
Article Index
Rencana Pengolahan Batubara
Rencana Pengolahan Batubara
All Pages
Page 1 of 2
  • Currently 1.14/5
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
1.1/5 (7 votes)
1. Tujuan proses pengolahan  
Dikaitannya dengan rencana pemasaran dan operasi penambangan  batubara, maka pengadaan proses pengolahan batubara (Coal Processing  Plant /CCP) bertujuan untuk mengolah batubara menjadi produk batubara ( product area ) yang sesuai dengan permintaan pasar. Dengan   mempertimbangkan beberapa hal, misalnya kualitas atau mutu cadangan batubara, metode penambangan yang terpilih, serta  kualitas permintaan pasar, maka proses pengolahan batubara, meliputi ruang lingkup proses sebagai berikut:  
a. Melakukan reduksi ukuran (size reduction) melalui penggerusan (crushing)  
b. Melakukan  pemisahan (clasification) melalui pengayakan (screening)  
c. Melakukan  pencampuran (blending) batubara  
d. Melakukan penimbunan/penumpukan batubara (sitockpilling)  
e. Melakukan penanganan limbah air (water pollution treatment).   
 
2. Desain pengolahan batubara  
Dalam upaya mengolah batubara menjadi produk akhir yang diminati konsumen perlu rancangan pengolahan yang komprehensif agar pelayanannya  memuaskan. Rancang bangun unit pengolahan didasarkan  pada faktor-faktor antara lain: target atau permintaan pasar rata-rata,  kualitas batubara dari tambang (raw coal), spesifikasi produk akhir yang diminta, ketersediaan lahan untuk area pengolahan termasuk tempat penimbunan (stockpile) dan ketersediaan air  disekitar area  pengolahan. Semua f aktor tersebut diatas  akan menentukan jenis, dimensi  dan  kapasitas peralatan atau mesin pengolahan yang dibutuhkan serta  flowsheet pengolahan yang sesuai dengan memperhatikan unsur keselamatan kerja.  
 
2.1 Kapasitas produksi  
Kapasitas produksi pengolahan batubara harus mampu mencapai atau memenuhi target produksi optimum yang direncanakan misal, yaitu 2.000.000 ton per tahun dengan kapasitas stockpile sebesar 200.000 ton/2 bulan. Berdasarkan target tahunan tersebut dapat dihitung kapasitas unit pengolahan yang beroperasi 2 shift/hari (8 jam/shift), 28 hari/bulan dan efisiensi kerja 80% sebagai berikut:  
 
T = 0,80 x 16 jam/hari x 28 hari/bulan x 12 bulan/tahun = 4300 jam/tahun  
 
 2.000.000 ton/tahun  
K =
--------------------
= 465 ton/jam
 4300 jam/tahun
 

Loses factor = 8% = 0,08 x 465 = 37 ton/jam   

Kterpasang = 465 + 37 = 502 ton/jam  

Di mana  T dan  K masing-masing adalah waktu produksi  dan kapasitas produksi.  Dengan loses factor sebesar 8% akan diperoleh kapasitas terpasang sekitar 500 ton/jam.  
 
2.2 Kualitas  produksi  
Kualitas produksi hasil proses pengolahan batubara harus dapat me menuhi persyaratan yang diinginkan  pasar. Berdasarkan survey pasar dapat disimpulkan bahwa kualitas batubara yang harus dihasilkan proses pengolahan seperti terlihat pada Tabel berikut :
 

2.3 Prosedur  pengolahan batubara 
Prosedur pengolahan  memperlihatkan tahapan proses pengolahan batubara mulai dari penimbunan raw coal di lokasi pabrik pengolahan sampai produk akhir. Gambar 1 adalah diagram alir (flowsheet) proses pengolahan yang merupakan gambaran dari prosedur pengolahan batubara. 

a. Persiapan  pengumpanan (feeding) 
Sebagai umpan (feed) awal proses pengolahan adalah batubara dari tambang atau ROM atau raw coal yang  ditumpuk di stockpile  di lokasi pengolahan. Ukuran maksimum umpan awal ini direncanakan 300 mm,  sedangkan terhadap umpan yang lebih besar d ari 300 mm  akan dilakukan pengecilan secara manual menggunakan hammer breaker. Baik umpan batubara dari tambang maupun hasil pengecilan ulang semuanya dimasukkan ke hopper menggunakan  wheel loader untuk dilanjutkan ke proses reduksi dan pengayakan sampai diperoleh produkta akhir yang siap jual. 
 
b. Pengay akan dengan Grizzly 
Grizzly berfungsi memisahkan fraksi batubara berukuran +300 mm dengan -300 mm dan posisinya terletak tepat di bawah  hopper. Lubang bukaan (opening) grizzly berukuran 300  mm x 300 mm. Undersize grizzly -300 mm diangkut belt conveyor untuk u mpan crusher primer. Sedangkan fraksi +300 mm di kembalikan ke tumpukan untuk dire duksi ulang menggunakan hammer breaker. Hasil reduksi ulang dikembalikan lagi ke  grizzly untuk pemisahan atau pengayakan ulang. Proses ini berlangsung terus menerus selama shift kerja berlangsung. 

c.  Peremukan tahap awal (primary crusher) 
Proses peremukan awal bertujuan untuk mereduksi ukuran fraksi batubara -300  mm menjadi ukuran rata-rata 150 mm. Dengan  demikian nisbah reduksi (reduction ratio) pada tahap primer ini  adalah 2. Alat yang digunakan adala h roll crusher yang berkapasitas 50 0 ton/jam. Untuk menaksir power atau energi (hp) crusher digunakan rumus Bond Crusher Work Index Equation seperti terlihat berikut ini.
Rencana Pengolahan Batubara
di mana: 
Wi  =  Indeks  kerja (work index) yang diperoleh dari hasil uji kemampu-gerusan (grindability) di lab, untuk batubara sekitar 11,37 
C  =  konstanta dari pabrik pembuat unit crusher, biasanya di atas 10 tergantung jenis bahan metal pembentuk crusher tersebut. Untuk batubara diambil 10 
F  =  diameter umpan yang 80% lolos (hasil uji analisis ayak di lab),   
P  =  diameter produkta yang 80% lolos (hasil uji analisis ayak di lab),   
Faktor  =  konstanta jenis crusher, untuk primer = 0,75 dan sekunder = 1 
 
Hasil perhitungan untuk menaksir  kebutuhan energi crusher primer  dengan menggunakan persamaan (1) dan (2) hasilnya sebagai berikut: 
F = dijamin konsisten berukuran -300 mm (300.000) sebanyak 80% 
P = dijamin konsisten berukuran -150 mm (150.000) sebanyak 80%
faktor = 0,75 (crusher primer)
 
Rencana Pengolahan Batubara
d. Pengayakan (screening) tahap-1 
Proses pengayakan adalah salah satu proses  yang bertujuan untuk  mengelompokan ukuran fraksi batubara, sehingga disebut juga dengan proses  classification. Alat yang dipakai untuk pengayakan biasanya ayakan getar (vibrating screen). Pada pengolahan batubara ini proses  pengayakan tahap awal menggunakan vibrating screen-1 untuk memisahkan fraksi ukuran +150 mm dan -150 mm. Fraksi -150 mm  adalah umpan  secondary crusher, sedangkan + 150 mm diresirkulasi sebagai umpan crusher primer untuk diremuk ulang. Produkta dari proses pengayakan harus selalu dijaga konsistensi laju kapasitasnya sebanyak 500 ton/jam. Untuk itu perlu dilakukan penaksiran dimensi (panjang dan lebar) dari ayakan (screen) yang harus dipasang. 
 
Terdapat beberapa metoda untuk menentukan dimensi screen dan  cara yang dipakai dalam rancangan unit screen  dalam studi ini adalah cara grafis dengan beberapa rangkuman konstanta (faktor) yang diperlukan  seperti terlihat pada Tabel 2. Konstanta tersebut merupakan faktor yang  
telah disesuaikan dengan kondisi di lapangan yang umumnya digunakan untuk pengayakan batubara. Gambar 2.a adalah kurva untuk menghitung produkta hasil pengayakan (ton/jam/ft²) dan Gambar 2.b  hubungan  antara lebar  ayakan dengan laju  produkta per  inci bed  depth (ketebalan lapisan aggregate batubara di atas ayakan)  dengan kecepatan 1 ft/sec. Kapasitas screen dirumuskan sebagai berikut: 
 
K = P x E x D x F x W x T x B     (3) 
 
di mana: 
K  =  kapasitas, ton/jam/sqft 
P  =  produksi, ton/jam/sqft 
E, D, F, W, T dan B adalah faktor seperti terlihat pada Tabel 2 
 
Tabel 1. Faktor dan konstanta pengukuran luas screen 

Rencana Pengolahan Batubara
Gambar 1. Diagram alir proses pengolahan batubara

Rencana Pengolahan Batubara
 
Gambar 2. Pengestimasi laju produkta dan bed depth

Rencana Pengolahan Batubara

Hubungan Antara Produksi (ton/jam/cuft) dengan ukuran produkta dan Hubungan Antara Lebar Ayakan dengan Bed depth pada Kecepatan Alir 1 ft/sec 
   
Berikut adalah tahapan perhitungan dimensi vibrating screen-1 untuk mengayak batubara 150 mm. 
(1)  Asumsi kondisi proses (sesuai konstanta atau scoring pada Tabel 2)

Posisi deck paling atas dengan opening 150 mm   6 inci; D = 1,00 
Diasumsikan umpan bermuatan 60% berukuran -3 inci; F = 1,40

Spesifikasi  oversize hasil pengayakan masih mengandung 10% berukuran -6 inci; E = 1,25 
Bentuk lubang bukaan bujursangkar (square) berukuran 6¼” x 6¼”; T =1,00 
Densitas aggregate batubara 60 lbs/cuft (dibandingkan dengan densitas batubara berbasis 60 lbs/cuft, sesuai kurva pada Gambar 2.a); B = 60
60 = 1,00 
Tidak dilakukan penyemprotan di atas screen; W = tidak ada skor 
Laju pengumpanan 625 ton/jam  dengan kandungan -6 ” = 80%,  jadi kemungkinan produkta lolos = 0,8 x 625 = 500 ton/jam. 
 
(2)  Luas screen yang diperlukan 
Dari kurva pada Gambar 2.a diperoleh 4 ton/jam per sqft 
Kapasitas (pers. 3) = 4 x 1,25 x 1 x 1,4 x 1x 1 = 7 ton/jam per sqft 
Laju produksi = 0,8 x 625 = 500 ton/jam 
Luas screen yang diperlukan = 
500 / 7 = 71,43 sqft 

(3) Perhitungan  bed depth 
Digunakan kurva pada Gambar 2.b dengan kemiringan screen 18º 
Dipertimbangkan pengurangan lebar screen total akibat diameter kawat ayakan sekitar  6”. Kemudian dicoba lebar screen 5 ft (lebar bersih 4 ft-6”) 
Dari Gambar 2.b diestimasi laju produksi terbaca 40 ton/jam per inci ketebalan aggregate batubara pada kecepatan 1 ft/sec = 60 ft/men (densitas aa ggregat 60 lbs/cuft dan  lebar efektif screen 4 ft-6”) 
Bila kecepatan aliran batubara pada kemiringan 18º = 55 ft/men, maka laju aggregate per inci bed depth =
40 x 55 / 60 = 37 ton/jam per inci bed depth 
Oversize = (0,20 x 625) + (0,10 x 500) = 175 ton/jam 
Jadi bed depth = 
175 / 37 = 5”

Bila dibandingkan bed depth (5”) dengan ukuran fraksi batubara yang diayak rata-rata 6”, maka akan terbentuk hanya satu layer di atas permukaan screen. Untuk memperoleh efisiensi pengayakan yang tinggi perlu dilaku kan simulasi dengan mengubah sudut screen. 
Dari perhitungan luas screen diatas, yaitu 71,43 sqft, kemudian disesuaikan dengan spesifikasi unit screen  dari pabrik  pembuatnya. Sebagai contoh screen buatan NORDBERG seri RS yang berukuran 5 x 16 ft, yaitu TY516RS dapat digunakan. Luas screen TY516RS adalah 80 sqft berarti lebih besar dari perhitungan dan power yang  diperlukan antara 15–20 HP  (11–15 kW). Pemilihan screen tersebut didasari oleh tidak adanya di mensi screen yang sesuai persis dengan hitungan dan screen dengan seri tersebut  yang paling mendekati. Disamping itu screen jenis  ini dimanfaatkan untuk pemisahan partikel kasar maupun halus serta material yang bersifat lembab dan lengket, jadi cocok untuk pengayakan  batubara. Keuntungan lainnya adalah kapasitas pengayakan dapat ditambah. 
 
e.  Peremukan sekunder (secondary crushing) 
Proses peremukan sekunder bertujuan untuk mereduksi ukuran fraksi batubara -150 mm  menjadi ukuran rata-rata 50 mm,  dengan demikian nisbah reduksi pada tahap sekunder ini adalah 3. Alat yang digunakan sama seperti peremuk primer, yaitu  roll crusher berkapasitas 500  ton/jam. Dilihat dari besarnya nisbah reduksi, yang lebih besar dibanding peremuk primer, maka dapat diperkirakan bahwa energi yang  diperlukan akan lebih besar pula. Taksiran energi tersebut dihitung sebagai berikut: 
F = dijamin konsisten berukuran -150 mm (150.000  ) sebanyak 80% 
P = dijamin konsisten berukuran -50 mm (50.000  ) sebanyak 80% 
faktor = 1,00 (crusher sekunder)

Rencana Pengolahan Batubara

e. Pengayakan tahap-2 
Jenis alat  yang dipakai adalah  vibrating screen  yang  digunakan  untuk memisahkan fraksi berukuran -50 mm. Umpan yang masuk adalah hasil peremukan dari crusher sekunder berukuran -150 mm. Agar memperoleh kapasitas sesuai dengan target, maka perhitungan dimensi ayakan pada tahap-2 ini sama seperti yang telah diuraikan pada perhitungan dimensi ayakan tahap-1. 

Related Articles
  • Metode Tambang Batubara
  • Penanganan
  • Kualitas
  • Cara Terbentuknya
  • Sifat Umum
  • Gypsum
  • Briket Batubara
  • Rekayasa
  • Rencana Bahan Galian Industri
  • Batubara Sebagai Bahan Bakar PLTU
 


Prev - Next >>

< Prev   Next >
 

Recent Post

  • Apparent Dip
  • Peta Topografi Dan Digitasi Peta
  • Lowongan Kerja Tambang PT. Britmindo; various positions
  • Lowongan Kerja Tambang A fast growing mining contracting company; 2 positions
  • Lowongan Kerja Tambang A Mining Company; various positions
  • Lowongan Kerja Tambang Sumatra Copper and Gold Plc; 3 positions
  • Lowongan Kerja Tambang Verity; 10 positions
  • Lowongan Kerja Tambang Perusahaan Kontraktor Pertambangan; 5 posisi
  • Lowongan Kerja Tambang Verity; 5 positions
  • Lowongan Kerja Tambang Perusahaan Swasta Nasional di bidang Pertambangan; 2 posisi

Popular Post

  • Mining
  • Mine Design
  • Eksplorasi
  • Eksploitasi
  • Feasibility Study
  • Pengantar Perencanaan Tambang
  • Pengolahan Bahan Galian
  • Reklamasi
  • Prospeksi
  • Sejarah Tambang
Categories
  • Tambang Today
  • Tambang Info
  • Tambang and Energy
  • Kamus Teknik
  • Tips dan Trik Computer
  • Cari Artikel
  • The Journey
  • Mineral Gallery
  • Rock Gallery
Job Vacancy
  • Mine Engineering Jobs
  • Lowongan Kerja Tambang
  • Mining Jobs
  • Mining Oil and Gas Jobs
  • Cari Lowongan Kerja
Message
Share

Copyright © 2010 ---.
All Rights Reserved.

Thanksgiving clipart courtesy of http://clipart.peirceinternet.com || Designed by ST Joomla Templates.